Dua orang bisa saling mencintai dengan tulus, tapi tetap bisa saling melukai tanpa berniat melukai.
**********************
Malam itu mereka pulang dari bioskop. Filmnya sudah hampir tidak Nadira ingat isinya—yang ia ingat hanya bahu Dodi di sampingnya, dan rasa hangat yang entah sejak kapan berubah menjadi berat.
Di mobil, hujan turun rapi. Tidak deras, tidak dramatis, seperti kota yang sengaja memberi mereka waktu. Dodi mengantar Nadira ke rumah orangtuanya di Bogor.
Dodi menyetir dengan satu tangan. Tangan satunya terulur di antara kursi.
Nadira menatapnya sebentar, lalu menggenggam tangan Dodi yang terulur di kursi. Genggaman itu pas... tidak erat, tidak longgar. Genggaman yang biasa.
"Kamu ngantuk?" tanya Dodi.
Nadira menggeleng.
"Enggak."
"Capek?"
"Dikit."
Dodi mengangguk. Tidak menanyai lebih jauh. Ia selalu begitu—tidak membongkar hal-hal yang Nadira simpan.
Saat lampu merah, mobil berhenti.
Dodi menoleh sebentar, memperhatikan wajah Nadira yang menatap ke luar jendela.
"Kamu cantik," katanya tiba-tiba. Bukan pujian yang ingin terdengar indah, hanya pernyataan.
Nadira tersenyum kecil.
"Biasa aja."
Dodi menggeleng.
"Enggak. Memang cantik"
Lampu berubah hijau. Mobil kembali melaju.
Di lagu yang mengalun pelan, Nadira menyandarkan kepalanya ke bahu Dodi. Gerakannya ragu—seperti meminta izin tanpa kata.
Dodi tidak bergeser, tidak merangkul. Ia hanya menyesuaikan posisi sedikit, memberi ruang.
Nadira memejamkan mata. Di momen itu, ia merasa dicintai. Dan justru karena itu, dadanya semakin sesak.
"Kamu tau nggak," suara Dodi pelan, hampir tenggelam oleh suara mesin, "aku nyaman sama kamu."
Kalimat itu sederhana, jujur... dan tepat.
Nadira membuka mata. Tenggorokannya mengeras.