Yang Tidak Kita Pilih

Dwitia Yanuanti
Chapter #58

Bab 51 : POV Dodi

Gue menyetir pelan malam itu menuju Bogor. Karena itu malam Minggu, Nadira ingin pulang dulu ke rumah orangtuanya.

Jalanan tidak ramai, hujan turun tipis, rapi—seperti kota sengaja menurunkan volumenya.

Nadira duduk di sebelah gue, diam seperti biasa. Tapi diamnya terasa... berbeda. Lebih berat.

Tangan gue terulur di antara kursi. Beberapa detik kemudian, jarinya menyelip ke tangan gue.

Gue tersenyum kecil. Selalu begitu. Nadira tidak pernah terburu-buru. Bahkan dalam hal sesederhana menggenggam tangan.

"Kamu ngantuk?" tanya gue.

"Enggak."

"Capek?"

"Dikit."

Gue mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh. Gue tahu Nadira tidak suka dikejar-kejar pertanyaan. Gue belajar itu sejak lama—belajar caranya diam tanpa pergi.

Lampu merah. Mobil berhenti.

Gue menoleh sebentar. Wajahnya diterangi cahaya lampu jalan, matanya menatap keluar jendela. Ada sesuatu di sana yang tidak bisa gue baca, tapi entah kenapa gue merasa... ingin menyimpannya.

"Kamu cantik," kata gue.

Bukan pujian. Bukan rayuan. Hanya kebenaran yang lewat begitu saja di kepala gue.

"Biasa aja," katanya.

Gue menggeleng.

"Enggak. Memang cantik."

Lampu hijau. Gue kembali fokus ke jalan. Lagu di radio mengalun pelan. Nadira menggeser tubuhnya sedikit, lalu menyandarkan kepala ke bahu gue. Gerakannya hati-hati, seolah meminta izin.

Gue tidak bergerak. Tidak merangkul. Tidak juga menjauh.

Gue ingin dia merasa aman. Dan entah kenapa, malam itu gue merasa kami sedang berada di tempat yang tepat.

"Kamu tau nggak," kata gue pelan, hampir berbisik,

"aku nyaman sama kamu."

Kalimat itu keluar begitu saja. Gak gue pikirkan. Gak gue rencanakan. Tapi rasanya benar.

"Iya," jawabnya.

Suaranya lembut, tapi ada jeda yang aneh sebelum kata itu keluar. Gue mengusap punggung tangannya dengan ibu jari gue—kebiasaan kecil yang selalu gue lakukan tanpa sadar.

Lihat selengkapnya