Yang Tidak Kita Pilih

Dwitia Yanuanti
Chapter #59

Bab 52: Beberapa Jam Setelah itu

Refleksi Dodi

Gue gak langsung pulang. Mobil berhenti di pinggir jalan yang bahkan gue gak ingat namanya.

Mesin sudah lama mati, tapi gue masih duduk di sana—tangan di setir, mata menatap kosong ke depan. Jam di dashboard bergerak pelan, seolah sengaja memperlambat waktu.

Beberapa jam lalu, Nadira masih di sebelah gue. Beberapa jam lalu, tangannya masih menggenggam tangan gue. Dan sekarang... semua terasa seperti jeda panjang yang tidak tahu harus diisi apa.

Gue mencoba mengingat ulang setiap kalimatnya. Bukan untuk mencari celah—tapi karena otak gue gak bisa berhenti.

Kamu gak salah apa-apa.

Aku gak nyaman dengan diriku sendiri ketika aku bersama kamu.

Kalimat itu terus berputar. Gue membencinya karena lembut. Gue menghargainya karena jujur.

Kalau dia bilang gue jahat, gue mungkin bisa marah. Kalau dia bilang gue kurang, gue mungkin bisa memperbaiki. Tapi ini? Ini gak memberi gue apa pun untuk diperjuangkan.

Gue selalu percaya bahwa hubungan adalah soal niat baik. Bahwa selama gue hadir, mendengar, menjaga—semuanya akan baik-baik saja.

Gue lupa satu hal yang baru kusadari malam ini: hadir saja tidak selalu cukup.

Mungkin gue terlalu tenang. Mungkin gue terlalu yakin bahwa diam berarti aman. Mungkin gue terlalu percaya bahwa cinta yang stabil tidak perlu banyak ditanya.

Gue gak pernah bertanya apakah Nadira nyaman menjadi dirinya sendiri di samping gue.

Gue hanya memastikan dia aman.

Dan sekarang gue tahu—aman dan utuh tidak selalu berjalan beriringan.

Ponsel gue bergetar beberapa kali. Grup, notifikasi, hal-hal kecil yang tiba-tiba terasa tidak relevan. Gue mematikannya.

Gue mencoba bernapas panjang. Gagal. Dada terasa sempit, seolah ada ruang yang mendadak kosong dan tubuh gue belum terbiasa.

Gue rindu Nadira. Bukan hanya wajahnya, atau caranya diam. Gue rindu versi diri gue saat bersamanya—tenang, percaya, dan merasa punya arah. Dan mungkin itu bagian tersulitnya.

Gue gak kehilangan seseorang yang salah. Gue kehilangan seseorang yang tepat—hanya saja, tidak tepat untuk tinggal.

Lihat selengkapnya