Keesokan paginya, Nadira duduk di ranjang. Selimut menutup kakinya. Matanya masih bengkak, kepalanya berat oleh sisa tangis semalam.
Ponselnya bergetar. Nama Dodi muncul di layar.
Nadira menarik napas panjang sebelum menjawab. Ia menempelkan ponsel ke telinga, menekan tombol hijau—dan diam.
Di ujung sana, Dodi tahu.
"Nad..."
"Kamu udah bangun?"
"Iya," jawab Nadira pelan.
"Aku..." Dodi terdiam sejenak.
"Aku masih belum biasa... tanpa kamu."