Yang Tidak Kita Pilih

Dwitia Yanuanti
Chapter #61

EPILOG

Beberapa tahun kemudian.

Dodi menutup novel itu perlahan.

Telapak tangannya masih bertahan di sampul depan, seolah ingin memastikan cerita itu benar-benar selesai. Judulnya tercetak sederhana, tanpa huruf berlebihan:

Jeda yang Tidak Pernah Dijanjikan.

Ia tidak langsung bergerak. Dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang tidak ingin ia beri nama. Ada bagian-bagian cerita yang terlalu dekat. Kalimat-kalimat yang terasa familiar. Bukan karena persis sama—melainkan karena perasaannya masih utuh.

Dodi menghembuskan napas panjang.

"Nanti aja mikirnya," gumamnya pelan.

"Papa!"

Suara kecil itu memecah lamunannya.

Putri kecilnya berdiri di ambang pintu ruang kerja, membawa boneka dengan satu mata yang hampir copot. Rambutnya dikuncir dua, pipinya merah karena berlari.

"Ayo main," katanya, seolah dunia tidak pernah serumit halaman-halaman yang baru saja Dodi baca.

Dodi tersenyum, bangkit, lalu menggendongnya. Novel itu ia letakkan di meja—tertutup, tapi tidak benar-benar ditinggalkan.

*********

Beberapa hari kemudian, dinas membawa Dodi ke Semarang.

Sore itu, ia dan dua rekan kerjanya mampir ke sebuah kafe jadul di sudut kota. Bangunannya tua, dengan kursi kayu dan jendela besar yang membiarkan cahaya matahari sore masuk pelan-pelan.

Dodi sedang tertawa kecil menanggapi cerita temannya ketika matanya menangkap sosok yang terasa asing sekaligus akrab.

Di sudut lain kafe, seorang perempuan sedang bercakap-cakap dengan teman perempuannya.

*******

Monolog Dodi

Gue gak langsung mengenalinya dari wajah. Gue mengenalinya dari caranya berdiri.

Lihat selengkapnya