Halo semuanya, kembali lagi bersama Echa di sini. Cerita kali ini lebih berbeda dari yang aku ceritakan biasanya, di sini kalian bisa menemukan suatu hal menarik dan penting bagi kehidupan kalian. Aku tidak tahu apakah cerita ini akan tersampaikan kepada kalian atau tidak. Namun yang jelas, aku mencurahkan isi hatiku ke dalam karyaku ini.
Waktu itu langit terlihat sangat gelap. Bagaikan alam semesta mendukung dengan suasana keluarga kami yang sedang terjadi. Langit mendung dan angin yang bertiup lumayan kencang, menandakan hujan akan turun untuk hadir bersama kami. Aku tidak tahu apa yang terjadi waktu itu karena aku masih berumur 2 tahun. Namun orang - orang dewasa yang tengah berbincang itu terlihat sangat serius.
Aku berada di kamar, bersembunyi di balik pintu dan mencoba mendengarkan serta memahami isi pembicaraan mereka. Namun apa yang kalian dapat harapkan dari seorang balita, aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara keras dan teriakan yang diikuti tangisan. Aku merasa takut, sebenarnya apa yang terjadi di luar kamarku?
Aku mencoba memberanikan diriku untuk membukakan pintu kamarku. Namun ibu langsung masuk ke dalam kamar. Dia langsung berlutut dan memegang kedua pundakku dengan erat. Ia terlihat … menangis? Sebenarnya ada apa?
“Ada apa, bu?” tanyaku bingung. Badanku gemetar melihat ibu yang terlihat sedih sekaligus marah. Ia terlihat menderita. Tatapan merah yang penuh air mata itu membuatku terkejut dan mulai sedikit ketakutan.
“Dengarkan ibu baik-baik, nak. Mulai hari ini, kamu tidak memiliki ayah.” jawab Laila membuatku penasaran.
Memang ayah itu seperti apa? Tiba-tiba aku tidak memilikinya mulai sekarang, apakah dari awal aku memang memiliki ayah? Tapi seperti apa rupa ayah? Apa dia seperti kakek? atau masih muda seperti paman?
“Kenapa, bu?”
“Anggap saja ia sudah mati.” jawabnya yang berhasil membuatku merinding.
Tunggu sebentar, sepertinya aku mulai mengingatnya. Ayah adalah seseorang yang pergi dari Indonesia dengan alasan bekerja. Ia mencoba mencari uang supaya aku bisa memenuhi kebutuhan hidupku selama ini. Aku rasa aku pernah mendengar bahwa Kumar pergi ke tempat pekerjaannya harus menggunakan kapal untuk melintasi laut. Apa terjadi sesuatu ketika ia pulang ke rumah?
“Mati? Maksud ibu, ayah mati dimakan hiu?” Aku penasaran namun ibuku tersenyum. Seakan ia puas mendengar perkataanku barusan.
“Iya, anggap saja seperti itu.” Laila mengangguk kemudian memelukku dengan erat.
Sungguh, waktu itu tak ada setetes air mataku yang berhasil jatuh dari mata. Aku mencoba memahami permasalahan orang dewasa, tapi mereka tidak mau memberi jawaban yang benar. Baik keluargaku maupun tetangga, mereka seakan mencoba mengganti topik pembicaraanku. Kumar yang mati, Kumar yang pergi jauh dan tidak bisa dihubungi. Entah mana yang benar diantara itu.
Beberapa minggu kemudian, aku tidak bisa melihat Laila dengan lama. Ketika aku membuka mata, Laila pergi dan aku menangis mencarinya. Waktu itu hujan sangat deras dan aku menemukan Laila bersama adiknya, Dahir. Aku yang takut akan kehilangan seseorang langsung menangis melihat Laila pergi tanpa pamit padaku dahulu. Kemudian aku dimarahi oleh Mahir, Sang kakek.