Sebelum itu, mari kita kembali lagi dimana kita berada di hari umurku bertambah satu tahun. Perayaan ulang tahun yang ketiga tahun adalah yang pertama kali dalam hidupku ketika semua orang merayakan hari kelahiranku dengan meriah. Aku tidak tahu bahwa ternyata kue yang terlihat warna-warni dan krim putihnya yang berantakan adalah buatan Laila sendiri. Mahir yang bersusah payah meniup semua balonnya dan Marwah yang mendandaniku. Sedangkan Dahir sibuk mengabadikan momen itu dengan kamera, mungkin? Aku tidak begitu ingat dengan jelas. Dari sini mari kita berkenalan dengan teman-teman komplekku.
“Echa, selamat ulang tahun!” Seorang anak kecil seperti cabai rawit itu memberikan sebuah kado yang kemudian menyerahkannya dengan kantong plastik belang-belangnya sekalian. Namanya Olivia. Dia sedikit … suka bicara.
“Makasih.” ucapku setelah menerima pelukan darinya. Jujur, aku rada risih.
“Aku duduk mana?” tanyanya yang terlihat bersemangat sambil celingukan. Aku menunjuk ke arah tempat duduk para tamu undangan dan ia langsung duduk disana dengan berlari.
“Assalamu’alaikum. Echa, ini hadiahnya.” ucap seorang anak kecil datang dengan sopannya. Dia Laras, anak berambut ikal dan rumahnya persis di sebelahku.
“Wa’alaikumusalam.” balasku sambil menerima hadiah Laras.
“Ini juga.” ucap anak yang di sebelahnya dengan penuh kecanggungannya. Dia Yazid, anak berkulit gelap dan lebih pendek dariku. Walaupun Yazid itu anak komplek sebelah, tapi kami lumayan akrab karena dia kerabat Laras. Dan mereka berdua lebih tua setahun daripada aku dan Olivia.
Mereka berdua pun masuk. Duduk bersebelahan dengan Olivia yang langsung mengajak mereka mengobrol. Ketika semua orang sibuk dengan pekerjaannya mereka sendiri, aku terus menunggu seorang kakak yang sebagai tamu undanganku. Walaupun dia berada di umur yang jauh lebih tua daripada kami bertiga, tapi keluarga kami sangat dekat.
“Echa, selamat ulang tahun. Semoga suka sama hadiahnya.” Dia adalah Dylan. Seorang anak berumur 7 tahun yang memiliki rambut lurus hitam dan kulitnya yang terang.
“Makasih.” Aku menerimanya dan mempersilahkannya untuk masuk.
Beberapa saat kemudian, acara dimulai dengan meriah. Menyanyikan lagu ulang tahun bersama dan pemotongan kue yang dibantu dengan Laila. Banyak kecupan pipi yang aku terima ketika aku membagikan kuenya pada mereka. Dan aku rasa … ini sangat berlebihan. Aku terus mengusap pipiku yang terdapat bekas kecupan orang-orang dengan segera.
Mereka adalah teman - teman bermainku. Mau lompat tali, engklek, congklak, rumah-rumahan bahkan gamebot satu untuk bersama. Itu pun kami pinjam dari Dahir. Ketika kami bermain petak umpet, mungkin aku terlalu bersemangat mencari tempat aman dan akhirnya menemukan tempat yang pas. Aku tertidur di lantai dan menunggu lama untuk anak-anak menemukanku. Ketika aku sudah bosan, aku mencoba bangun. Aku menjadi sedikit pusing, kemudian mengelap hidungku dan menemukan noda darah di bajuku.