Yes, Absofxxkinglutely! My Dear Best Friend.

RA Senja
Chapter #1

Salah Gedung

Begitu keluar dari aula utama Universitas Persatuan Surabaya, Nindy langsung menyesali pilihannya memakai kaus dalam berbahan sintetis. Kemeja putihnya melekat di punggung, sementara udara yang masuk ketika ia menarik kerah hanya menyejukkan kulitnya sebentar.

Ia menepi di dekat pegangan tangga, membiarkan mahasiswa lain lewat. Dari dalam aula, pengeras suara masih memanggil kelompok yang belum mengambil barang bawaan.

Nindy membuka tas untuk mengambil ponsel. Tali tasnya merosot dari bahu, membuat map di ketiaknya ikut bergeser. Ia buru-buru merapatkan lengan sebelum map itu terjatuh.

Pukul 10:10. Masih dua puluh menit sebelum sesi berikutnya. Ia memasukkan kembali ponselnya ke tas.

Sebelum mereka keluar dari aula, kakak pendamping memberi petunjuk menuju Gedung C—melewati kantin, lalu berbelok ke kanan. Nindy sempat bertanya apakah mereka boleh membeli makan dulu, tetapi jawaban laki-laki itu tenggelam dalam suara langkah kaki dan pengeras suara.

Perutnya berbunyi ketika ia menuruni tangga. Dua potong roti tadi pagi rasanya sudah menguap begitu saja.

Nindy mengikuti dua perempuan berkartu peserta hijau seperti miliknya. Mereka membicarakan mahasiswa yang tertidur selama sambutan rektor, membuat Nindy teringat kepalanya sendiri yang tadi sempat terangguk.

Di persimpangan, kedua perempuan itu berbelok menuju toilet. Nindy berhenti, lalu melihat deretan meja makan di bawah atap rendah sebelah kanan. Bau minyak panas tercium sampai ke tempatnya berdiri. Ia berjalan ke sana sambil mencari etalase makanan, tetapi hanya menemukan seorang laki-laki yang sedang membuka pintu besi.

Nindy melewati bangunan itu dan berbelok ke kanan. Di atas pintu gedung di depannya, huruf B terpasang besar-besar. Ia mundur dua langkah, lalu mendongak lagi. Padahal ia sudah melewati kantin dan berbelok ke kanan, persis seperti petunjuk tadi.

Ponselnya bergetar di dalam tas. Nindy mengambilnya dengan tangan yang mulai licin oleh keringat.

Kelompok 7 langsung menuju C-204, ya. Sesi berikutnya mulai pukul 10:30.

Sekarang pukul 10:21. Nindy beranjak ke selasar yang membentang di sisi Gedung B, mencari seseorang yang bisa ditanyai. Beberapa pintu ruangan berjajar di sebelah kirinya. Ia mempercepat langkah sambil mengetik pertanyaan di grup.

Kak, kalau dari Gedung B—

Salah satu pintu di sebelah kirinya terbuka. Nindy sempat melihat seseorang berkemeja putih sebelum bahunya membentur lengan orang itu dan cairan dingin menyiram pergelangan tangannya.

“Eh!”

Ia tersentak mundur, merapatkan ponsel ke dada. Sebuah gelas plastik jatuh di dekat sepatunya. Tutupnya terlepas dan es batu meluncur ke sela kaki mereka.

“Aduh, maaf.”

Laki-laki itu meletakkan mapnya di bangku dekat pintu, lalu menarik bagian depan kemejanya menjauh dari perut. Rahangnya mengeras saat ia memeriksa bercak cokelat yang melebar di bawah saku.

Nindy mengikuti arah pandangnya. Kopi menetes dari ujung kemeja laki-laki itu ke lantai. Nindy buru-buru memasukkan ponselnya ke tas.

“Aku ada tisu. Sebentar.”

Bungkus tisu terselip di bawah dompet, sulit ditarik karena map di ketiaknya terus merosot. Nindy menjepit map lebih erat, lalu menyodorkan selembar tisu yang berhasil dikeluarkannya.

“Makasih.”

Laki-laki itu menurunkan tas dari bahunya ke bangku, lalu mulai membersihkan kemeja. Nindy menarik lembar tisu berikutnya, tetapi jarinya hanya menjepit plastik. Ia membuka bungkus itu lebih lebar dan meraba sampai ke sudut. Tidak ada yang tersisa. 

“Yah… habis.”

Laki-laki itu menghela napas sambil menekan-nekan tisu ke kain. Nindy meremas bungkus tisu yang sudah kosong. Telinganya mulai terasa panas.

“Aku tadi mau balas chat di grup. Nggak lihat kamu keluar. Maaf, ya.”

“Iya.”

Jawabannya pendek. Nindy berjongkok untuk mengambil gelas beserta tutupnya, berhati-hati agar map di ketiaknya tidak menyentuh genangan. Sisa kopi menetes ketika gelas itu diangkat. Ia buru-buru menaruh tutup plastik di bawahnya, lalu mendongak saat seorang petugas kebersihan muncul di ujung selasar.

“Bu, maaf. Ini kopinya tumpah.”

Lihat selengkapnya