Nindy berhenti di ambang pintu C-204. Kursi dengan meja lipat tempat ia meninggalkan tas tadi sudah bergeser. Seorang mahasiswa kini duduk membelakanginya.
Ia baru pergi ke toilet beberapa menit lalu. Sekarang kursi-kursi itu telah dirapatkan dan membentuk beberapa lingkaran yang sedikit berantakan, menyisakan jalan sempit di antara kaki kursi dan tas. Nindy menyusuri deretan kursi dengan pandangan, mencari tas cokelatnya.
Seorang perempuan dekat jendela melambaikan tangan. “Nyari tas?”
“Iya.” Nindy mendekat dan melihat tasnya di kursi sebelah perempuan itu.
“Tadi disuruh bikin lingkaran. Tas dan map kamu aku pindahin ke sini.”
“Oh, iya. Makasih.”
Nindy menyelip di antara dua kursi dan mengangkat tasnya agar bisa duduk. Setelah menaruh tas di pangkuan, ia memindahkan map ke meja lipat.
“Aku Intan.” Perempuan itu mengulurkan tangan.
“Nindy.” Ia menjabat tangan Intan, lalu melirik papan tulis. “Sudah mulai?”
“Belum. Masih ada yang di luar.” Intan melirik jam tangannya. “Kata Kak Rio, tunggu lima menit lagi.”
Nindy mengangguk.
Sepertinya bukan cuma aku yang nyasar.
Nindy menghitung ada sepuluh kursi dalam lingkarannya. Dua kursi tepat di seberangnya masih kosong. Tas Gilang menempati salah satu kursi itu, sementara mapnya terletak di meja lipat.
Tidak lama kemudian Gilang datang bersama seorang laki-laki yang memegang kertas bernomor tiga. Laki-laki itu memastikan nomor kelompok mereka sebelum duduk di kursi kosong yang terakhir.
“Halo, semua. Namaku Andre,” katanya sambil meletakkan tas di lantai.
Beberapa orang menyusul menyebutkan nama. Nindy baru mengulang nama Difa dan Bagas dalam hati ketika dengung mikrofon membuatnya mengangkat kepala.
Kakak pendamping menjelaskan bahwa kelompok mereka berisi campuran kelas A dan B. Setiap kelompok diminta berkenalan, lalu menemukan dua kesamaan yang masing-masing dimiliki sedikitnya tiga anggota.
“Nggak boleh ada yang menyebutkan sama-sama mahasiswa Manajemen, ya,” Kak Rio menegaskan. “Harus cari kesamaan yang lain.”
Nindy mengambil pulpen saat selembar kertas dibagikan. Sambil menunggu gilirannya, ia menarik ujung lengan kemeja yang masih lembap menjauh dari kulit.
“Baju kamu kenapa basah?” tanya Intan.
“Kena kopi.”
Pandangan Intan beralih sebentar ke kemeja Gilang.
Nindy mengatupkan bibirnya. “Tadi nggak sengaja nabrak Gilang di bawah.”
“Oh.”
Intan tidak bertanya lagi. Nindy meratakan ujung lengan kemejanya, lega karena tidak perlu menceritakan ulang kejadian di selasar.
Kertas perkenalan sampai ke tangan Intan. Dari kursinya, Nindy membaca tulisan Vina pada baris sebelumnya—kelas B, membaca novel.
“Kamu suka baca novel apa?” Nindy bertanya kepada perempuan berkepang di sebelah Intan.
“Aku suka misteri. Sekarang lagi baca novel detektif.”
Nindy menyebut judul novel yang dibelinya bulan lalu. Vina langsung mengangguk.
“Iya, itu yang lagi kubaca.”
“Aku sudah selesai baca itu,” kata Nindy.
“Jangan kasih tahu pelakunya dulu.” Vina menyilangkan kedua lengan di depan dada.
“Nggak, kok.” Nindy tertawa kecil. “Kamu sudah sampai mana?”
“Baru bab empat.”
“Masih panjang itu. Aku lagi baca sekuelnya.”
“Aku juga suka novel.” Intan mengangkat kepalanya dari kertas. Ia mengoper kertas itu ke meja Nindy. “Aku suka beli sama suka cium baunya aja.”
Mereka tertawa.
“Terus siapa yang baca?” tanya Vina.
“Kalau sudah bosan, novelnya aku kasih orang.”