
Hidup di desa sebagai Sekretaris Desa (Sekdes) itu bukan soal urus KTP atau surat pengantar nikah orang lain semata. Tugas terberat gue justru menjaga stabilitas mental dari serangan bertubi-tubi emak-emak yang lebih peduli pada status perdata gue ketimbang validitas data penduduk.
Gue, Yoga, 33 tahun, merasa sedang berada di medan perang setiap kali keluar dari kantor balai desa.
Strategi pertahanan gue udah matang kabur lewat jalur belakang. Sialnya selalu ketangkep terus.
Hari Selasa itu jadwalnya gue turun lapangan. Bukan buat gaya-gayaan pakai seragam cokelat PNS yang baru disetrika, tapi buat validasi data DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial).
Sebagai Sekdes, gue harus memastikan bansos jatuh ke tangan yang tepat, bukan ke tangan yang paling jago akting miskin.
Gue bawa map merah, pulpen cadangan, dan mental yang sudah gue coating baja.
Gue tau, mendatangi rumah warga satu per satu itu sama saja dengan menyerahkan diri ke kandang singa kelaparan .singa yang lapar akan gosip dan status pernikahan perangkat desanya.
"Punten, Bu Ratna,"
sapa gue di depan rumah mungil dengan jemuran kerupuk yang berjejer rapi.
Bu Ratna muncul, tapi matanya nggak lihat ke map merah gue. Dia malah melihat ke jari manis gue yang masih polos tanpa cincin. Sinyal bahaya.
"Eh, Kang Yoga. Mau kasih bansos ya? Sini duduk dulu, Kang. Saya ambilkan teh manis,"
Bu Ratna semangat melebihi petugas sensus.
"Enggak usah repot, Bu. Cuma mau tanya, apa bener di rumah ini sekarang ada anggota keluarga baru? Data di saya masih tiga orang,"
gue, berusaha tetap profesional, tetap on the track.
Bu Ratna duduk di kursi plastik depan rumahnya.
"Anggota keluarga baru nggak ada, Kang. Yang ada tuh anggota keluarga yang berkurang karena pindah ikut suami. Nah, Kang Yoga sendiri kapan mau nambah anggota keluarga? Masa Sekdes rumahnya cuma diisi cicak sama tumpukan surat suara?"
Gue narik napas Masuk lubang pertama sialan serangan datang dari warga tanpa aba-aba,
"Gini, Bu Ratna. Secara teknis, penambahan jumlah jiwa dalam satu Kartu Keluarga itu meningkatkan beban pengeluaran domestik sebesar 25 sampai 30 persen. Dengan kondisi inflasi yang belum stabil, saya lagi melakukan simulasi ketahanan pangan mandiri dulu di rumah. Jangan sampai pas nikah nanti, saya malah masuk daftar penerima bansos yang saya catat sendiri. Kan lucu, Bu."
peduli setan dia ngerti apa enggak , setidaknya gue punya cadangan amunisi buat melawan gunjingan warga.
Bu Ratna ngerutin dahi,
"Simulasi apa tuh, Kang? Orang nikah ya nikah aja, rezeki mah ada yang ngatur."
"Betul, Bu. Tapi yang ngatur administrasi rezekinya kan saya di kantor desa. Jadi saya harus kasih contoh manajemen risiko yang baik,"
gue cepat-cepat mencoret kolom di formulir.
"Selesai ya, Bu. Makasih."
Gue beranjak ke rumah berikutnya, rumah Mak Ipah. Beliau ini bos dari segala bos urusan perjodohan di RW 02. Gue sudah pasang wajah lempeng, tapi Mak Ipah lebih gesit Beliau lagi motong sayur di teras.
"Yog! Sini! Itu lho, ponakan Emak yang di Bandung baru putus. Dia nanya, Mak, si Yoga yang make kacamata itu masih jomblo nggak?. Emak bingung mau jawab apa. Masa Emak bilang kamu sukanya sama setan kelurahan?"
Setan kelurahan mana yang mau sama gue, gue ini tipenya demit bohay setan kan banyak jenisnya.
Gue duduk di ubin teras, mencoba membaur.
"Mak, ponakan Mak itu kerjanya apa?"
"Sekretaris di pabrik sepatu, kenapa?"
"Waduh, nggak bisa, Mak. Konflik kepentingan,"
Mak Ipah berhenti motong bayam. "Konflik naon?"
"Dia Sekretaris Pabrik, saya Sekretaris Desa. Kalau kami nikah, nanti komunikasi isinya cuma notulensi rapat sama surat menyurat birokrasi. Nggak ada romantis-romantisnya. Secara sosiologis, pasangan dengan profesi administratif yang sama itu rentan mengalami burnout komunikasi. Kasihan nanti anaknya, mau minta jajan harus pakai proposal disposisi dulu."
Mak Ipah melongo. Dia kayaknya mau debat, tapi istilah burnout komunikasi itu bikin dia mikir kalau itu sejenis penyakit menular.