Salah satu mata kuliah konsentrasi akhirnya dimulai pagi ini. Jiu menata buku dan alat tulisnya dengan hati ringan. Sayangnya hal itu tidak berlangsung lama sampai seorang gadis dengan rambut pirang sebahu menghampirinya.
Jiu sedikit terkejut dengan kedatangan gadis itu. Pasalnya, sepanjang yang Jiu tahu pada semester lalu, mereka tidak akan mengambil konsentrasi yang sama. Tapi, hari ini malah muncul di kelas yang sama.
"Hai, Jiu!" sapanya dengan wajah cerah.
Jiu menanggapinya dengan senyuman. "Hai, Nav."
"Ih, kita akhirnya satu konsentrasi ya? Padahal lo bilang dulu mau ambil Konsentrasi Keuangan."
Jiu mengerutkan kening. Itu sudah lama sekali, sekitar waktu masih semester empat. Namun, pada akhirnya Jiu mengubah rencananya. Jelas-jelas ia telah memutuskan masuk ke Konsentrasi Operasional dari semester lima dan beberapa teman sekelas mereka juga sudah tahu termasuk Navia sendiri, karena mereka sendiri sering bertanya pada Jiu.
"Lo juga, bukannya semester enam kemarin lo bilang mau masuk Konsentrasi Sumber Daya Manusia ya?" tanya Jiu seolah ingin mengingatkan fakta.
Navia tertawa pelan. "Oh gue punya sepupu yang dulunya kuliah di jurusan yang sama, terus gue tanya dan dia ngerekomendasi konsentrasi ini," jawabnya.
"Oh...," ujar Jiu sambil menganggukkan kepalanya.
Mendadak, Jiu kehilangan semangat. Ia tidak bermaksud memusuhi Navia dengan sengaja, hanya saja agak malas menghadapi gadis itu. Selalu saja berceloteh ini dan itu setiap bertemu. Awalnya Jiu tidak masalah, namun lama-lama energinya jadi cepat terkuras. Tidak peduli di mana pun, kapan pun, termasuk ketika di kelas saat dosen sedang menerangkan mata kuliah seperti sekarang.
"Ih... gue kesel banget sebenarnya. Hari ini gue berangkat bareng adik gue karena dia ada kuliah pagi juga. Cuma gue tuh telat bangunnya, terus pas di jalan dia bawa motor bener-bener kenceng sambil marah-marah mana hampir aja nabrak kucing di tengah jalan. Dia ngerem mendadak banget, lo bayangin aja kita udah kayak orang gila yang lagi naik motor," ujar Navia.
"Oh iya, tadi gue ketemu sama Alex di parkiran, gue kayak malu gitu mau nyapa duluan soalnya dia lagi sama teman-teman cowoknya. Gue sengaja nggak nyapa duluan karena gengsi. Tapi tahu nggak? Pas gue lewat, dia tiba-tiba say hi sambil nepuk pundak gue," jelas Navia panjang lebar. "Gila sih... senyum dia manis banget, ganteng lagi."
Mendengar itu, Jiu hanya mengangguk seperti boneka kucing berwarna emas yang biasanya ada di dashboard mobil, yang tangannya terus bergerak atas bawah.
"Lo tuh nyatet terus ya? Padahal kalau di kuliah, nggak masalah lo mau dengarin dosen atau nggak." Navia terkekeh beberapa detik, baru kemudian kembali bicara, "Ngomong-ngomong, Ji, menurut lo gue sama Alex cocok nggak sih? Secara gue kan cantik."
"Cocok," ucap Jiu singkat.
Navia tersenyum bangga, "Nah kan! Kira-kira kali ini gue butuh waktu berapa lama ya buat naklukin si Alex?"
Jiu sempat bingung hendak menjawab apa, tapi beberapa saat kemudian Navia kembali tertawa. Lalu mulai menceritakan hal lainnya. "Eh, si Keiya kayaknya ditolak lagi sama Drian. Dia ngejudesin gue waktu di klub kemarin, dan kayaknya dia sibuk banget deh ngejelekin gue ke teman-temannya. Aneh banget kan? Bukan salah gue dong, kalau Drian masih suka dan ngejar-ngejar gue?"
Jiu hanya mengangguk sebelum kembali menulis penjelasan dosen yang juga berceloteh sejak tadi. Sulit rasanya untuk fokus. "Oh ada soal ternyata," ujar Jiu sengaja agar Navia berhenti mengajaknya bicara.
"Loh?" Navia langsung menoleh ke layar proyektor di depannya. "Ih... gue kayaknya nggak paham deh, nanti lo jelasin cara jawabnya ke gue ya?"
"Oke," jawab Jiu singkat.