Malam itu, lampu-lampu gantung menghiasi hampir setengah halaman. Stan UMKM mahasiswa pun sudah berdiri tegak di zona kuliner bersama beberapa stan dari berbagai klub lainnya, siap meredam rasa lapar siapa saja. Panggung juga sudah disiapkan dengan sebaik mungkin. Bersamaan dengan jam yang akhirnya menunjukkan pukul 18.30 WIB, dua pembawa acara pun keluar, masing-masing muncul dari sisi kiri dan kanan panggung. Baik anggota klub lama dan baru, serta para pengunjung bersorak nyaring menyambut acara gabungan dalam rangka penyambutan anggota klub yang baru.
Beberapa pidato sambutan dari masing-masing pengurus klub, serta penjelasan visi misi dan manfaat bergabung klub telah usai, kini saatnya klub band menunjukkan bakat mereka di depan para penonton yang telah menanti cukup lama. Ketika nama Band Xscape disebut spontan para mahasiswa yang ada di zona kuliner berlarian berkumpul ke satu titik di dekat panggung, sementara yang sedari tadi sudah ada di titik tersebut berteriak menyemangati.
Pada bagian pertengahan lagu, Senan bernyanyi dengan nada pelan dan sedikit serak, diiringi petikan gitar elektrik yang ringan, memberi kesan lelah dan realita yang pahit. "Nyatanya dari semua yang katanya setia, kopi pahit yang selalu ada~ Laptop panas ikut merana~ Kadang mikir mau nyerah aja~"
Suara drum dan bass lembut masuk perlahan. "Tapi aku masih jalan terus~ Walau kepala mau meletus~ Capek iya, nangis juga pernah~ Tapi mimpi nggak boleh kalah~" Galan menyanyikan bagiannya dengan vokal yang mulai naik bersamaan emosi yang lebih kuat, menandakan semangat yang masih bertahan di tengah kelelahan.
Suara gitar akhirnya mengisi latar belakang dengan chord yang hangat, memberi rasa kebersamaan dan perjuangan yang relevan."Kita lelah tapi bertahan~ Di antara tugas dan harapan, hari ini mungkin berantakan~ Besok kita tetap jalan~"
Lalu kembali ke Senan dengan nuansa sedikit lebih ringan dan jenaka, tempo lebih stabil dengan sentuhan groove santai, memberi jeda emosional yang lebih membumi. "Kalau gagal ya coba lagi~ Kalau jatuh ya bangun lagi~ Kalau lapar ya makan dulu~ Baru lanjut ke skripsi lagi~"
Pada saat yang bersamaan Senan dan Galan menyanyikan bait terakhir dengan vokal yang lebih lantang dan penuh perasaan. Diikuti alunan gitar elektrik yang kuat dengan sedikit distorsi khas soft rock, lalu perlahan fade out dengan rasa haru dan bangga. "Aku lelah tapi percaya~ Semua ini nggak sia-sia~ Suatu hari kita 'kan bilang~ Gila ya... kita pernah berjuang~"
Saat melodi terakhir mulai samar-samar, semua penonton bersorak sambil bertepuk tangan diiringi suara tawa karena lagunya terasa jenaka dan nyata.
"Itu tadi lagu baru kita, judulnya Deadline versus Mimpi. Jadi buat teman-teman semua, apa pun masalah kalian jangan pernah nyerah walau hari ini terasa berat, cukup buat hari ini aja karena besok kita pasti akan baik-baik aja," ujar Galan.
Sementara itu, dari para penonton yang mengisi bagian tengah, ada Jiu yang sedang menatap kagum ke kelima anggota Xscape. Lagu baru yang band itu bawakan sangat lucu dan melodinya yang enak didengar membuat Jiu terpesona. Terlebih lagi, suara si sub vokal sangat membekas di telinga Jiu. Suaranya terdengar tidak berat, namun tidak pula ringan. Tapi, yang pasti bisa dibilang cukup candu untuk terus didengar.
Tak lama setelah Xscape turun dari panggung, ponsel Jiu berdering menunjukkan sebuah notifikasi dari aplikasi messenger. Ketika Jiu tahu siapa si pengirim, senyum tipis langsung terukir di bibir. Jiu akhirnya bergerak melangkah menuju ke belakang panggung menemui si pengirim pesan.
"Oh, jadi lo orangnya."
Jiu berbalik ke belakang setelah mendengar kalimat pertama dari seseorang, ketika ia baru saja tiba. Matanya sedikit membesar karena kaget. "Eh?" katanya heran.
"Jiu," panggil Galan seraya tersenyum, muncul dari balik punggung si sub vokalis yang tadi bicara kepada Jiu.
Devon ternganga. "Oh! Lo kan yang di perpus waktu itu?!" celetuk Devon sukses membuat wajah Jiu memerah karena malu. Di belakang Galan juga ada beberapa orang lagi yang mengekorinya.
Para anggota Xscape memasang wajah heran, terkecuali Senan, karena dia juga ada di perpustakaan waktu kejadian itu.
"Iya benar!" ucap Devon antusias. "Wah ...." Devon menutup mulutnya yang tersenyum lebar tak percaya.