Dua jam telah berlalu, Jiu sudah berkutat dengan tugasnya di sebuah perpustakaan nasional daerah. Akhir-akhir ini perpustakaan ini buka kembali sampai jam enam malam, jadi Jiu berencana akan berada di sini sampai mendekati waktu tutup.
Jiu membolak-balikkan lembar bukunya, mencari materi mana yang akan dia masukkan ke dalam tugasnya. Setelah membacanya berulang kali, Jiu merasa buku di tangannya masih kurang lengkap, akhirnya ia memutuskan untuk mencari buku dengan topik serupa.
Jari jemarinya kembali menelusuri buku-buku di rak. Dari rak yang satu ke rak yang lain. Dari bagian atas lalu sampai turun untuk mengambil posisi jongkok, melihat buku bagian bawah. Jiu mengucek pelan matanya yang agak sakit akibat membaca satu per satu judul buku.
Setelah ia selesai menggosok matanya, Jiu tak sengaja melihat seorang lelaki dari sela-sela rak buku. Lelaki yang nampak familiar, seperti orang yang ia temui di belakang panggung beberapa waktu lalu.
"Yang ini ditaruh di mana, Tan?" tanya lelaki yang tak jauh dari tempat Jiu.
"Taruh di sana aja, Sen," balas wanita yang kira-kira sudah berusia 50-an di sebelahnya.
Lelaki itu melangkah mengikuti arahan yang diberikan wanita paruh baya yang menjadi salah satu pegawai perpustakaan. Jiu memandangi Senan beberapa saat, nampak telaten menyusun buku-buku ke dalam rak.
"Kok gue jadi ngeliatin dia?" Jiu menggelengkan kepalanya pelan. "Mana sih bukunya?" tanyanya pada diri sendiri sambil bergeser ke sisi lain.
"Nyari buku apa?" Senan tiba-tiba bertanya dengan nada datar.
Sementara itu, Jiu terperangah dengan tangan kirinya refleks mendekap dada seakan menahan jantungnya. Terkejut karena ternyata Senan sudah berjongkok di sebelahnya tanpa Jiu sadar. "Bisa nggak sih, jangan ngagetin?!" bisik Jiu, menahan geram.
"Lah, perasaan tadi gue udah manggil, lo aja yang terlalu sibuk ngedumel sendiri."
Jiu memicingkan matanya tajam. Mau marah tapi tidak jadi.
"Gue nyari buku seminar operasional." Jiu menjawab sambil kembali mengutak-atik buku-buku di depan wajahnya.
Senan merunduk, melihat judul buku-buku yang ada di pangkuannya, lalu meletakkan beberapa buku di lantai. Senan mengerucutkan bibir dengan dua alis sedikit terangkat. Lelaki itu mengubah pandangannya menunjuk ke arah buku yang diikuti oleh mata Jiu. Judul buku di tumpukan pertama sama persis seperti yang Jiu cari sedari tadi. Lalu, ia memilah beberapa buku lain dan memutuskan untuk menggunakan buku itu.