"Jiu!" teriak Karisa dari ujung tangga.
Tak lama Jiu langsung keluar dari kamarnya menyusul sang Ibu ke dapur. Karisa yang tengah mencuci sayuran, menoleh saat anaknya datang, lalu mendengus kasar. Jiu lalu mengikuti arah pandangan Ibunya, barulah sadar kalau dia masih memakai baju tidur semalam dan ketika melihat ke jam dinding sekarang sudah memasuki waktu siang. Jiu jadi cengar-cengir sendiri.
Karisa menggelengkan kepala tak habis pikir. "Ya sudah, kamu mandi dulu sana terus bantuin mama masak."
Mendengar itu, Jiu langsung ambil langkah seribu masuk ke kamarnya lagi untuk bersiap-siap. Setelahnya ia kembali menghampiri Karisa, membantunya memasak beberapa makanan.
"Ji, bisa beliin kecap sama mie telur yang bentuknya pipih, tiga?"
"Bisa, Ma," ucap Jiu lalu pergi.
Setibanya di sebuah mini market Jiu langsung memasukkan pesanan Ibunya tadi ke dalam keranjang berukuran sedang termasuk pesanan baru yang Ibunya kirim melalui messenger. Sekarang Jiu mau membeli sebotol minuman kemasan. Cukup lama ia berdiri di depan lemari pendingin. Lalu pilihannya jatuh pada sebotol minuman kopi dengan kemasan bergambar Suga dari grup BTS kesukaannya.
"Totalnya jadi seratus empat puluh tujuh ribu, Ka. Oh iya, untuk saat ini kita hanya bisa menerima pembayaran tunai, karena mesin kita sedang mengalami error," ucap sang kasir.
Jiu kemudian merogoh kantong celana kanan, kosong. Lalu beralih ke kantong celana kiri, kosong juga. Spontan Jiu menepuk dahinya agak keras, membuat kasir di depannya terkejut.
"Kenapa, Ka?"
"Saya lupa bawa uang cash," jawab Jiu membuat kasir ikut meringis.
"Bilang kek dari tadi."
Dengan cepat Jiu memalingkan wajahnya ke kanan, mendapati Senan sudah berdiri di sebelahnya. "Sekalian bang," ucap Senan seraya memberikan beberapa lembar uang.
Setelahnya, mereka berdua keluar dari mini market lalu berjalan beriringan. Jiu memandangi wajah samping Senan. Kemudian memainkan dua ibu jarinya sebentar.
"Kok lo bisa di sini sih?" bibir Jiu seolah bergerak dengan sendirinya, mengalahkan niat awalnya yang hendak berterima kasih.
"Makasih dulu kek," sindir Senan.
Jiu menggaruk tengkuknya yang tak gatal menggunakan tangan satunya. "Makasih."
Senan mengangguk. "Bagus," ujarnya.
Beberapa waktu keduanya diam. Namun, saat Jiu hendak bertanya lagi, kalimatnya malah terpotong di tengah-tengah. "Oh iya, lo ngapa-"
"Kak Senan!" teriak anak-anak dari taman bermain yang tak jauh dari mereka.
Senan melambai dengan bibir melengkung membentuk senyuman dan matanya pun jadi ikut menyipit. Manis dan tampan jadi satu.
"Gue duluan ya," kata Senan setelahnya. Tanpa menunggu Jiu bicara lagi Senan langsung berjalan menghampiri anak-anak yang memanggilnya.
Anak-anak itu nampak senang saat Senan menyodorkan tas kantung berisi jajanan ke hadapan mereka. Di saat yang bersamaan ada anak laki-laki yang kira-kira masih berusia empat atau lima tahun menarik bajunya. Senan menundukkan kepala lalu mengambil posisi jongkok. Anak kecil itu nampak membisikkan sesuatu ke telinga kirinya. Lagi-lagi Senan mengangguk seraya tersenyum.
Anak itu berlari, kemudian hati-hati menaiki anak tangga. Sementara Senan sudah berada di ujung lidah perosotan. Tangannya langsung terbuka begitu si anak laki-laki merosot ke bawah. Mereka bermain dengan sangat asyik dan penuh tawa. Sampai akhirnya sebuah cap dari sepatu menempel ke kemeja putih yang Senan kenakan, dan jadilah cap sepatu yang sangat mungil. Bukannya marah Senan menggeleng sambil tertawa memperlihatkan deretan giginya.
"Kak Senan nggak apa-apa. Noda di baju ini juga bisa hilang kalau dicuci," jelasnya seraya mengelus rambut anak laki-laki di hadapannya.