You're My Home

Jenitha
Chapter #7

Bab 6 (Setelah Terjatuh)

Hari Jum'at kembali tiba, itu artinya jadwal rutin pertemuan klub lukis diadakan. Satu per satu anggota memasukkan secarik kertas kecil ke dalam sebuah kotak tertutup. Pemilihan karya pertama yang akan lolos ke pameran kolaborasi antara klub melukis dari universitas mereka dan salah satu alumninya, Raiden Aeliustin yang hari ini hadir untuk melihat proses kegiatan klub.

Penghitungan suara pun dimulai dan dibacakan oleh Muhran dan Kaira. Hingga kertas terakhir dibacakan dan keluarlah hasil dari pemilihan itu.

"Jadi lukisan yang bakal maju adalah lukisannya Cerlin Edenia," umum Aren diikuti tepuk tangan.

Sementara itu, lukisan Jiu berada di peringkat tiga suara terbanyak. Jujur, ada sedikit rasa kecewa karena lukisannya tidak lolos. Namun, jika melihat hasil lukisan yang dibuat Cerlin, tidak dapat Jiu pungkiri keindahan dan maknanya lebih bagus, lebih terasa cocok untuk masuk ke pameran.

Selama perjalanan pulang, Jiu terus berkelahi dengan isi pikirannya. Awalnya ia hanya hendak melakukan apa yang dia sukai tapi setelah beberapa pertemuan di klub, Jiu kembali mempertanyakan keputusannya. Apakah sebenarnya dia tidak cukup baik untuk melukis? Padahal ketika masih di sekolah dasar dulu, teman-teman Jiu selalu memintanya untuk menggambar di buku mereka jika mata pelajaran seni budaya tiba.

Jiu membuang napas panjang, mengingat masa kecilnya, hal itu juga tidak terlalu baik. Mereka hanya memuji untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Memberikan embel-embel akan berteman setelah Jiu mengerjakan tugas gambar mereka. Nyatanya, cuma bohong belaka.

Jiu mendecih kesal.

Di saat yang bersamaan, dari sisi kanan Jiu, seekor anak anjing kecil berjenis Bichon Frise berwarna putih tiba-tiba saja berlari ke arah Jiu. Sontak tanpa pikir panjang, Jiu membanting setir ke arah lain. Ban motornya menghantam trotoar dengan keras hingga kendaraan itu oleng tak terkendali.

Decitan rem terdengar nyaring di sepanjang jalan. Jiu berusaha mempertahankan keseimbangan, tetapi terlambat. Tubuhnya terhempas ke samping bersama motornya.

Lutut dan telapak tangannya menghantam aspal terlebih dahulu, menimbulkan sensasi perih yang langsung menjalar. Anjing kecil itu berteriak histeris karena nyaris terlindas.

Jiu panik, membiarkan motornya tergeletak di jalan, kemudian langsung menghampiri anjing putih kecil yang terlihat ketakutan.

"Gel!" Teriak seorang anak perempuan. "Gel kenapa Kak Jiu?" tanyanya kemudian dengan raut khawatir.

Jiu menoleh, lalu menyerahkan anjing yang Jiu baru tahu namanya itu ke Yera. "Tadi kakak nggak sengaja mau nabrak Gel," jelas Jiu setelahnya. "Sorry ya, Gel, Yera," ujar Jiu menyesal sembari mengelus anjing di pelukan Yera.

Yera menggeleng. "Nggak apa-apa, tunggu sebentar kak, aku panggilin Kak Senan dulu buat bantuin diriin motor kakak."

Tanpa menunggu balasan dari Jiu, Yera langsung berlari ke rumahnya, selang beberapa menit kemudian, muncullah Senan yang berlari ke arah Jiu dengan muka bantal khas orang bangun tidur. Senan tidak langsung mendirikan motor Jiu yang masih tergeletak di pinggir jalan sejak tadi. Lelaki itu sibuk memutar tubuh Jiu ke kanan dan ke kiri.

Senan mendesah. Jiu pun mengikuti arah pandangan Senan, baru menyadari tangan dan lutut kirinya terluka. "Masih bisa jalan nggak?" tanya Senan kemudian.

Jiu mendongak, lalu kembali memperhatikan lututnya. "Bisa kali," jawabnya.

Baru bergerak satu langkah, tetapi rasa nyeri yang menusuk membuat wajahnya langsung meringis.

"Tuh, bohong," komentar Senan.

"Nggak bohong. Gue masih bisa jalan sendiri."

Senan justru menahan bahu Jiu sebelum gadis itu sempat melangkah lagi. Lelaki itu berbalik dan mengambil sikap jongkok. Seolah punggungnya sudah berkata siap menggendong Jiu.

"Nunggu apa?" kata Senan.

"Nggak usah digendong segala."

"Jiu."

Hanya satu kata, tetapi nadanya cukup membuat Jiu tahu Senan tidak sedang memberi pilihan.

Lihat selengkapnya