You're My Home

Jenitha
Chapter #8

Bab 7 (Sore yang Tidak Lagi Sepi)

Pagi-pagi Senan sudah berada di meja makan menyantap nasi goreng dengan lahap. Sementara dari kursi di seberangnya ada Jiu yang menatapnya tak senang.

"Ayo dicoba Nan, Tante udah masakin udang asam manis nih baru aja mateng," ucap Karisa sambil menyodorkan semangkuk udang asam manis ke hadapan Senan.

Jiu mencebik bibirnya dan memainkan sendok di atas piring. Merasa terkucilkan karena ibunya lebih perhatian ke Senan. Jiu sendiri tidak makan udang karena alergi, tapi ibunya malah tetap membeli udang dibanding cumi kesukaannya. Kini, juga malah sengaja memasaknya untuk Senan.

Melihat Jiu yang sibuk membolak-balikkan nasinya, Brian mendengus tak suka. "Jiu, makanannya jangan cuma dimainin aja tapi dimakan," tegur Brian.

"Iya, Pa," balas Jiu lesu.

Sementara itu Senan yang menyadari ekspresi Jiu sedari tadi, akhirnya memberikan sepotong ayam miliknya ke piring Jiu, lalu menepuk kakinya ke kaki kanan Jiu dari balik bawah meja. Sang empunya kaki mengerutkan keningnya ke arah Senan. "Habisin," ujar Senan nyaris tak terdengar membuat Jiu mendecih.

Meski kesal, Jiu tetap segera menghabiskan sisa makanan di piring, begitu pun sama halnya dengan Senan. Setelah selesai, mereka berdua pamit pergi ke kampus menggunakan sepeda motor milik Jiu karena jok motornya tidak terlalu meliuk seperti motor Senan yang berjenis R1M.

Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai ke Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Jiu mendengus saat mereka sudah berada di depan fakultas yang tidak pernah masuk ke daftar keinginan Jiu. Selang beberapa detik kemudian, sebuah suara pemberitahuan di ponsel Jiu berbunyi. Gadis itu semakin kesal setelah membaca isi pesan dalam grup.

"Kenapa?" tanya Senan usai melepas helm yang menutupi kepalanya.

Jiu menyodorkan layar ponselnya ke hadapan Senan. "Kelasnya dibatalin," ucap Jiu dengan ekspresi sebal.

"Mau ke tempat lain nggak? Kelas gue masih tiga jam lagi baru mulai," tawar Senan.

"Ke mana?"

Alih-alih menjawab, Senan malah menepuk jok kosong di belakangnya. "Naik," katanya singkat.

Jiu kembali duduk di belakang Senan. Tanpa bicara lagi, mereka berdua kembali menyusuri jalan yang mereka lewati tadi, mengarah ke tempat lain yang cukup jauh dari universitas. Sepanjang jalan Senan sibuk menyetir dalam hening sementara Jiu juga tengah menikmati angin pagi yang bertiupan tanpa banyak bertanya tempat tujuan mereka sekarang.

Akhirnya mereka sampai di tempat yang Senan pilih, ketika memasuki area itu, pohon-pohon cukup besar menghiasi hampir di setiap sisi pinggiran batas lokasi. Di tengah-tengahnya ada beberapa kolam berbentuk kotak dan persegi panjang. Tak jauh dari kolam ada kursi-kursi dan meja panjang yang terbuat dari kayu, terlihat sejuk karena daun-daun dari pohon menghalau sinar matahari langsung.

Jiu kembali mengikuti langkah kaki Senan, hingga sampai di sebuah warung kecil yang disebelahnya menyediakan alat pancing dan umpan.

"Nih," Senan menyodorkan sebuah alat pancing ke Jiu.

Gadis itu menyambut joran dari tangan Senan, lalu menatapi punggung Senan yang menjauh dengan ekspresi cengo. Senan dengan santai bersilang kaki di atas rumput hijau, memasangkan umpan di kailnya lalu menghempaskan benang panjang hingga tenggelam ke dalam air.

Sudahnya, Jiu menghampiri Senan, ikut duduk menyilang di samping lelaki itu dengan jarak beberapa jengkal.

Jiu nampak kebingungan pada awalnya, karena tak pernah memancing ikan. Senan yang sadar, memutuskan untuk menghampiri Jiu, lalu membantu memasang umpan dan melempar senar seperti yang ia lakukan tadi. Setelahnya Senan kembali ke posisi semula.

Keheningan pun kembali mengelilingi mereka. Keduanya sudah sekitar dua puluh menit lebih menatap senar yang menusuk air yang tak ada pergerakan sejak tadi. Jujur, Jiu akhirnya mulai bosan. Matanya mulai mengamati berbagai benda alam yang ada disini.

Sampai kemudian dua netra cokelat tuanya berhenti di wajah Senan. Mungkin karena lama menunggu, Jiu jadi memperhatikan wajah Senan lebih lama dari biasanya. Lelaki itu memang tampan dengan alis tebal, rahang tegas, dan mata tajam yang sering membuatnya sulit didekati. Tapi, siapa sangka lelaki seperti Senan justru bisa menikmati duduk berjam-jam di tepi kolam hanya untuk memancing.

Tapi, siapa sangka lelaki seperti Senan punya minat memancing, di tambah di pagi hari sambil mengenakan kemeja putih dan celana bahan berwarna krem duduk menyilang diatas rerumputan.

Lihat selengkapnya