You're My Home

Jenitha
Chapter #9

Bab 8 (Batas)

"Satu, dua, eh, bentar-bentar! Stop!" Devon tiba-tiba mengangkat tangannya, menghentikan ketukan drum Arga yang baru saja dimulai.

"Kenapa lagi sih, Val? Baru juga mau masuk intro," keluh Noval sambil menurunkan gitar bass elektriknya.

Devon tidak menjawab Noval, melainkan menunjuk ke arah Senan yang sedari tadi menyanyikan lirik lagu dengan tatapan kosong ke arah jendela ruang latihan. "Tuh, lihat sub-vokalis utama lo. Nyanyi Deadline versus Mimpi tapi mukanya kayak orang lagi mimpi buruk. Lo kenapa sih, Sen? Kusut amat."

Galan yang sedang memetik gitar elektrik hollownya pelan ikut menoleh, lalu terkekeh. "Palingan kepikiran tetangga baru."

"Hah? Tetangga baru siapa?" tanya Arga penasaran, langsung menaruh stik drum-nya.

Devon membelalakkan mata, langsung menyenggol lengan Senan keras. "Jangan bilang... cewek perpus yang kemarin di pameran itu?!"

Senan menghela napas panjang, akhirnya menyerah dan duduk di sofa ruang latihan. "Iya. Rumahnya ternyata pas di seberang rumah gue. Dulu, pas masih SMP, kita pernah tetanggaan juga."

"Demi apa?!" teriak Devon dan Noval bersamaan dengan heboh.

"Wah, gila sih. Berarti lo bakal sering lihat dia dong? Hati-hati Sen, kemarin gitar Galan yang dipatahin, besok-besok lo yang bakal dipatahin," goda Devon yang langsung mendapat lemparan draf lirik lagu dari Senan.

Di tengah kehebohan itu, ponsel Galan yang tergeletak di atas speaker tiba-tiba bergetar, menampilkan sebuah pesan masuk. Galan mengambilnya, membaca layar sekilas, lalu senyum manis dengan dua lesung pipi khasnya langsung merekah.

"Panjang umur, ni bocahnya baru aja nge-chat gue," ujar Galan santai, memamerkan layar ponselnya ke arah anak-anak band.

Jiu Lukis

Kak Galan, makasih ya kemarin udah sempetin mampir ke stan lukis dan nge-apresiasi lukisan abstrak gue. Next time kalau ke sana lagi, lo harus coba ngelukis!

"Uhuy! Langsung dapet pesan manis dari anak melukis!" sorak Devon memanas-manasi situasi. "Galan emang bener-bener magnet cewek ya."

Melihat pesan itu terpampang di depan matanya, Senan tiba-tiba menegakkan tubuhnya. Ada perasaan aneh yang mendadak mengganjal di dadanya. Rasa tidak puas yang datang tanpa alasan yang jelas.

Senan langsung merogoh saku celananya, membuka aplikasi messenger di ponselnya sendiri, lalu mengetikkan nama 'Jiu' di kolom pencarian kontak.

"Lan, ujung nomornya Jiu di ponsel lo berapa?"

Galan mengutak-atik layar ponselnya sebentar. "Enam-enam," jawab Galan.

Seketika Senan mematung dengan wajah cengo. Ia baru menyadari satu fakta yang sangat konyol. Selama ini, mereka sudah tidak sengaja berpapasan di kampus, bertemu di perpustakaan, belanja bersama di mini market, makan malam keluarga sebagai tetangga, menggendong gadis itu ke rumahnya karena terluka sampai memasak telur ceplok, bahkan ke kolam pemancingan bersama. Tapi dia sama sekali belum punya nomor telepon baru Jiu.

Sementara Galan sudah dengan asyik mengetik balasan chat untuk Jiu sambil tersenyum-senyum sendiri, Senan hanya bisa menatap layar ponselnya dengan perasaan dongkol yang tertahan.

___________


Lihat selengkapnya