Jiu menatap nanar ke luar jendela. Matanya sembab setelah menangis selama satu jam. Perkataan ibunya tadi kembali menghinggapi pikiran Jiu.
Setetes air kembali lolos dari mata Jiu tanpa permisi. Sedetik kemudian, kenangan-kenangan di masa lalunya ikut menghujami kepala Jiu membuat pipinya semakin basah secara bersamaan.
Dulu, bahkan untuk memilih ekstrakurikuler basket saat SMP pun Jiu tidak diizinkan.
Impian masuk sekolah kejuruan tata busana yang sudah ia simpan sejak kecil juga hilang begitu saja ketika orang tuanya memutuskan ia harus masuk SMA umum.
Semuanya terjadi begitu mendadak. Jiu ingat sepanjang malam ia terus menangis di kamarnya seperti sekarang. Di mana ia kebingungan untuk memutuskan untuk lanjut ke jurusan mana, karena ia tak pernah mempersiapkan diri akan memilih jurusan di SMA. Saat akhirnya ia bilang ingin masuk ke jurusan bahasa, ibunya tidak mau menyetujuinya. Jadi, untuk cari aman Jiu masuk ke jurusan IPS sebagai keputusan akhir yang juga sudah disetujui kedua orang tuanya.
Namun, justru saat SMA Jiu menemukan sesuatu yang membuatnya bersemangat lagi. Geografi. Ia menyukai pelajaran itu sampai berhasil memenangkan beberapa perlombaan dan menjadi salah satu perwakilan sekolah dalam olimpiade tingkat kota.
Namun, ketika tiba waktunya memilih jurusan kuliah, impian itu kembali harus ditinggalkan. Ibunya tidak mengizinkan Jiu kuliah jauh dari rumah, sementara jurusan Geografi atau pun bidang yang berkaitan, tidak tersedia di kota mereka, yang ada cuma Jurusan Pendidikan Geografi itu pun hanya ada di Universitas Terbuka, Ibu Jiu tentu saja tidak mengizinkan.
Saat Jiu ingin beralih ke jurusan seni, ibunya menolak mentah-mentah. Alhasil, Jiu terjebak di Jurusan Manajemen. Jurusan yang tidak pernah benar-benar ia pilih sendiri.
Kuliahnya terasa semakin berat, tiga tahun terakhir Jiu tidak pernah benar-benar menemukan cahayanya lagi seperti dulu meski sekeras apa pun Jiu mencari. Selama itu pula yang Jiu lakukan hanya kuliah dan pulang. Sangat monoton. Ia tidak punya teman dekat satu pun di bangku kuliah. Teman sekolah yang masih berhubungan baik dengannya hanya Sevanya, itu pun karena Jiu kembali menetap di kota ini.
Sejak dulu, setiap kali menemukan sesuatu yang membuatnya bersemangat, selalu ada keadaan yang memaksanya melepaskan hal itu. Karena itulah kali ini Jiu hanya ingin mempertahankan satu hal yang benar-benar ia sukai.
Melukis.
Mungkin untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Jiu hanya ingin memilih sesuatu untuk dirinya sendiri.
"Jiu, buka pintunya," pinta Karisa tiba-tiba dari balik pintu.
Awalnya Jiu enggan beranjak dari kasurnya demi membuka pintu. Tapi, ibunya terus memanggilnya. Dengan langkah malas, Jiu membuka pintu kamarnya, menampilkan wanita paruh baya berusia lima puluhan itu.
"Mama boleh masuk?" tanya Karisa kemudian.
Jiu mengangguk. Mereka berdua duduk di tepi kasur Jiu.
"Mama ngomong kayak tadi demi kebaikan kamu, Jiuna," ujar Karisa membuat Jiu jengah.
"Kenapa sih, aku nggak boleh ngelakuin apa yang aku suka, ma?" tanya Jiu dengan mata kembali berkaca-kaca.
"Bukan nggak boleh, tapi lebih baik kamu fokus aja sama kuliah kamu. Kamu sekarang kan udah masuk semester tujuh."
Kini Jiu sudah tidak bisa lagi membendung air matanya. "Tapi, aku juga capek kalau cuma disuruh kuliah. Aku juga capek harus belajar hal yang dari awal nggak aku minati, aku cuma nyegarin diri dengan ngelukis," jelas Jiu. "Dari dulu, aku nggak pernah bisa ngelakuin apa yang aku mau."
"Mama nggak pernah bermaksud untuk ngelarang kamu. Tapi, kamu nggak seharusnya kayak tadi. Saat ini kita lagi kekurangan Jiu, kita lagi banyak pengeluaran. Biaya KKN kamu kemarin, biaya kuliah kamu semester ini, lalu biaya pindah rumah. Belum lagi buat kebutuhan sehari-hari kita ditambah buat perbaikan motor kamu kemarin."
"Tapi itu uang tabungan dari uang jajan aku dua minggu ini, ma. Makanya semester lalu aku juga kerja, tapi Mama sama Papa malah maksa Jiu buat berhenti kerja," balas Jiu.
Karisa mendesah frustrasi. "Karena kuliah sambil kerja itu nggak enak, Jiu. Fokus kamu jadi terbagi-bagi. Mama takut kuliah kamu malah jadi terbengkalai. Uang itu biar jadi urusan kami, orang tua kamu."
Jiu menganga kehabisan kata-kata. Ia pikir percakapan ini tidak akan ada habisnya, karena ia dan ibunya tidak pernah sejalan. Jiu memijat pelan pelipisnya karena kepalanya mulai terasa sakit.
"Ya udah ma, aku mau tidur dulu. Seharian ini aku capek," ucap Jiu lalu menarik selimut untuk menyembunyikan wajahnya.