You're My Home

Jenitha
Chapter #11

Bab 10 (Teduh di Tengah Terik)

Siang itu, mataharinya sangat terik. Udara panas menyerang siapa saja yang berada di ruang I.7 hari itu. Ruang yang terkenal panas karena alat pendinginnya sudah lama rusak, ditambah ruangan itu agak tertutup dibandingkan dengan ruangan yang lain.

Sudah lebih dari satu jam lalu dosen di Kelas B memulai pelajaran Seminar Operasional. Pak Jovan terus berceloteh di depan sana. Mahasiswa dan mahasiswi sebagian besar mendengarkan sambil mengipasi diri mereka.

"Aduh panas banget, berapa lama lagi kita di sini?" tanya Navia.

Jiu menekan lembut ke layar ponselnya, melihat jam. "Tiga puluh empat menit lagi," ujar Jiu kemudian.

"Ah, masih lama. Keburu jadi ikan asin gue," keluh Navia.

Jiu terkekeh, merasa setuju dengan ucapan Navia barusan.

"Ok. Kita sudahi saja ya, walau waktunya masih ada tiga puluh menitan lagi. Dari tadi kalian juga pasti sudah pegal kipas-kipas, bahkan ada yang sampai baterai kipas portable-nya lowbat," ujar Pak Jovan, mengundang tawa seisi kelas. "Komti, kalau bisa minggu depan tolong tanyakan apa ada kelas lain yang kosong ya? Tapi, kalau nggak ada ya sudah, terpaksa kita kipas-kipas lagi."

"Baik, Pak," balas Kania, komti khusus mata kuliah ini.

"Ya sudah, cukup sekian hari ini. Selamat siang semua," lanjut Pak Jovan kemudian berlalu meninggalkan ruangan.

"Ih... hari ini gue nggak bawa motor. Tadi gue dianter sama adik gue. Karena dia ada kuliah juga, jadi motornya dibawa dia. Cuma katanya dia selesai sekitar satu jam lagi. Lo bisa temenin gue nggak?" tanya Navia dengan wajah memelas.

Jiu mengangguk sekali. "Oh, ya udah."

"Yeay! Tapi, lo nggak ada urusan kan hari ini?" ujar Navia. Baru saja Jiu hendak menjawab, kalimatnya langsung urung karena Navia sudah kembali bersuara, "Kalau ada, ya udah sih, gue nggak maksa buat tetap nungguin. Tapi, paling nanti gue sendirian kayak anak hilang, terus diculik."

Jiu memaksakan seulas senyum tipis, menyembunyikan helaan napas berat yang nyaris lolos dari dadanya. Menemani Navia selama satu jam ke depan sebenarnya adalah hal terakhir yang ingin Jiu lakukan hari ini. Kepalanya masih berdenyut sisa menangis semalam, dan energi emosionalnya sudah berada di titik nadir.

Bagi orang luar yang melihat, mereka berdua mungkin tampak seperti sepasang sahabat karib yang tak terpisahkan. Bersama Navia selalu terasa melelahkan. Gadis itu sering datang saat butuh teman mendengar, tetapi jarang benar-benar memperhatikan perasaan orang lain.

"Ya udah, kita tunggu di kantin dekat fakultas aja yuk? Di sini gerah banget," ajak Navia tanpa menunggu persetujuan Jiu. Ia langsung menyambar tasnya dan melangkah keluar kelas terlebih dahulu.

Jiu mengekor di belakang dengan langkah berat. Sifat 'tidak enakan' yang sudah mendarah daging sejak kecil kembali mengunci mulut Jiu. Ia selalu takut dicap jahat atau egois jika menolak permintaan orang lain, meskipun itu artinya ia harus mengorbankan kenyamanannya sendiri. Hal mengganjal inilah yang membuat Jiu selalu merasa ada jarak tak kasat mata di antara mereka.

Sesampainya di kantin yang agak lumayan adem, Navia langsung memesan es jeruk dan mengambil tempat duduk di pojok. Matanya langsung bergerak liar, memindai setiap mahasiswa yang lewat sebelum akhirnya bibirnya mulai berkomat-kamit.

Lihat selengkapnya