"Pilih sepuasnya aja, Van. Karena yang ninggalin gue semalam, yang traktir kita," ucap Senan seraya menyodorkan ponselnya ke hadapan Sevanya.
Jiu melirik sinis ke arah Senan. Tampaknya lelaki itu menyimpan dendam karena Jiu menolak di temani makan, lalu pergi meninggalkan Senan di depan rumahnya semalam. Sedangkan Sevanya sudah melirik mereka secara bergantian sembari terkekeh pelan.
Di mata Sevanya saat ini, Jiu dan Senan masih sama seperti dulu kadang bertengkar, kadang juga saling menghibur satu sama lain.
"Iya-iya, Vanya, lo pesan aja apa yang lo mau, nanti gue yang bayarin," ucap Jiu.
Senan menaruh sikutnya di atas pahanya, bertopang dagu pada telapak tangan. Sedangkan tangan satunya sibuk menggeser layar ponsel miliknya yang baru saja dikembalikan oleh Sevanya, menekan beberapa menu makanan di aplikasi pesan antar. "Nggak usah, gue aja yang bayar. Gue mau memesan banyak soalnya," ujarnya tanpa menatap Jiu. "Nih, giliran lo milih," kata Senan kemudian menyodorkan benda pipih itu.
Jiu menggeleng. "Nggak ah, gue lagi nggak nafsu makan," ujarnya, lalu pindah ke kursi sofa panjang ruang tengah rumah Senan. Merebahkan dirinya.
"Kenapa? Diet lo?" tanya Sevanya, lalu mencomot sebuah keripik dari mangkuk di atas meja.
Senan mendongak, matanya melirik ke Jiu, lalu beralih ke Sevanya. "Diet apaan? Udah kurus kayak kertas begitu, bisa ketiup angin."
"Terserah! Pokoknya gue mau tidur," ujar Jiu, kemudian memejamkan mata rapat-rapat, memunggungi kedua temannya dan menenggelamkan separuh wajahnya ke bantal sofa yang empuk.
Rasa lelah yang teramat sangat, ditambah efek menangis semalam, membuat kesadarannya perlahan menipis. Sayup-sayup ia masih bisa mendengar suara tawa Sevanya dan sahutan datar dari Senan, sebelum akhirnya ia benar-benar terlelap ke dalam mimpi yang sunyi.
Melihat Jiu yang sudah bernapas teratur, Senan menurunkan volume suaranya. Lelaki itu bangkit berdiri setelah menerima pesan dari tukang antar makanan mereka.
"Gue ke depan dulu, ambil pesanan," pamit Senan pelan kepada Sevanya.
Sevanya mengangguk. "Oke."
Sepeninggal Senan, suasana ruang tengah menjadi hening. Sevanya memandangi sosok Jiu yang meringkuk di atas sofa. Sevanya memandangi Jiu yang tertidur. Sudut bibirnya terangkat tipis. Rasanya aneh sekaligus menyenangkan bisa berkumpul lagi seperti ini setelah bertahun-tahun.
Sekitar lima belas menit kemudian, pintu depan terdengar diketuk. Senan kembali dengan dua kantong plastik besar berisi makanan dan minuman. Tanpa menimbulkan banyak suara, ia menata kotak-kotak makanan itu di atas meja dapur, lalu berbalik menatap Sevanya.
"Gue mau ke kamar bentar, mau selesain tugas kuliah. Lo makan aja duluan sama Jiu kalau dia udah bangun," kata Senan dengan suara rendah agar tidak mengusik tidur Jiu.