Rumah terasa jauh lebih sunyi tanpa suara televisi dari ruang tengah atau suara ibunya yang sesekali memanggil dari dapur. Ibunya pergi ke luar kota selama dua hari untuk menghadiri acara keluarga, sementara ayahnya sedang dinas luar. Namun, tidak masalah, justru saat ini Jiu bersenandung riang sambil mengoleskan bumbu ke daging ayam yang akan ia panggang.
Setelah selesai memanggang ayam, Jiu beralih membuat jus pisang dan susu, lalu membuat dirty matcha dengan memasukkan bubuk matcha, bubuk kopi, dan sedikit susu cair ke dalam dua wadah.
Suasana hati Jiu lumayan bagus sebab tidak ada kelas hari ini, ditambah sore ini ia sudah berencana akan piknik di taman bersama Sevanya dan Senan. Makanya Jiu menyiapkan makanan dan minuman favorit teman-temannya.
Ketika Jiu sedang menyusun minuman itu ke dalam keranjang, sebuah suara dari bel rumah menginterupsi aktivitasnya. Jiu berjalan menuju pintu depan dan menarik gagang pintu. Terlihat ada Senan dengan setelan celana bahan berwarna hitam dan jas berwarna senada. Sungguh tidak biasa.
Jiu sedikit heran kenapa Senan yang biasanya cuma memakai kaus atau hoodie abu-abu oversize favoritnya kini malah menggunakan setelan formal hanya untuk piknik bersama.
"Ji, gue ke sini mau bilang, kalau gue nggak bisa ikut piknik bareng kalian. Sorry," ujar Senan seolah menjawab pertanyaan di kepala Jiu.
Jiu mengangguk. "Oh, ya udah nggak apa-apa," jawab Jiu.
"Sorry karena baru sekarang gue bilang. Sore ini gue sama keluarga ada makan malam sama teman bisnis Papa, acara juga mendadak banget, Ji," jelas Senan lagi.
"Iya nggak apa-apa, Nan. Ya udah, lo berangkat sana, nanti lo telat," ucap Jiu seraya tersenyum tulus.
Senan mengangguk. Ia melangkah dengan hati berat, meninggalkan Jiu yang masih berdiri di ambang pintu sambil melambaikan tangan di udara. Tapi, pada akhirnya Senan tetap berangkat bersama orang tua dan adiknya. Sepanjang jalan Senan terlihat murung, padahal dia ingin sekali ikut piknik dan menghabiskan waktu bersama Jiu dan Sevanya sampai malam sembari menatap langit yang dihiasi bintang.
Namun, saat malam tiba, langit ternyata mendung, jauh dari yang ia bayangkan. Mungkin saat ini Jiu dan Sevanya sudah pulang atau malah pergi ke tempat menarik lain. Berbanding terbalik dengannya yang kini duduk di meja bundar dengan banyak makanan yang ditata sebagus mungkin di atas meja.
Tapi sayangnya, makanan itu tidak menarik sama sekali bagi Senan. Apalagi percakapan orang tuanya yang sedang membahas bisnis membuat Senan ingin cepat-cepat pulang.
"Bosan ya lo?" tanya seorang perempuan di sebelahnya tiba-tiba.
Senan menoleh sekilas. Gadis bernama Irena itu tersenyum ramah, berusaha mengajaknya mengobrol.
"Lumayan," Senan menjawab singkat dengan senyuman tipis, setipis tisu. Hampir tidak terlihat.
Meski begitu, Irena tetap mencoba membuka beberapa topik lain, mulai dari kuliah hingga hobi. Namun, Senan hanya membalas seperlunya dengan anggukan atau jawaban pendek.
Di sela-sela percakapan itu, perhatiannya justru lebih sering tertuju pada layar ponselnya. Ia beberapa kali membuka grup yang berisi dirinya, Jiu, dan Sevanya, berharap ada pesan baru yang masuk.
Sayangnya tidak ada.
Mungkin mereka sedang bersenang-senang sampai lupa melihat ponsel, pikir Senan.
Entah kenapa, pemikiran itu membuatnya semakin tidak nyaman berada di sini. Untuk pertama kalinya malam itu, Senan merasa acara makan malam ini benar-benar mengganggu. Padahal sebelumnya ia selalu diam saja mengikuti permintaan orang tuanya.
"Ma, aku boleh pulang duluan nggak?" tanya Senan ke ibunya yang duduk di sebelah kirinya.
Dahi Lamira mengerut. "Kenapa sih? Gelisah banget kayaknya. Nanti, kita aja belum selesai makan," balas Lamira, Ibu Senan.