You're My Home

Jenitha
Chapter #14

Bab 13 (Objek Favorit)

Kegiatan klub lukis tak terasa sudah memasuki bulan ketiga semester ini. Pameran yang akan klub ini lakukan bersama seorang alumni sebentar lagi akan diadakan. Kali ini kegiatan klub dilakukan di sebuah taman dekat danau. Di sinilah Jiu dan teman-teman klub duduk di hamparan rumput hijau menghadap danau yang airnya masih terlihat jernih. Pohon-pohon rindang menaungi mereka dari sinar matahari langsung, sementara langit sore ini berwarna jingga semakin menyempurnakan suasana.

Jiu menghirup udara segar dalam-dalam. Wajahnya begitu tenang saat menikmati pemandangan indah di sekitar dan angin sepoi-sepoi yang berembus. Hari ini seolah jadi pengganti rencana piknik yang gagal.

"Perhatian! Sekarang kita lagi di taman, kenapa? Sebentar lagi kan pameran kita mau diadakan, waktu kita semakin sedikit. Jadi, kali ini kita ingin kalian semua melukis dengan suasana baru, agar lebih terinspirasi dan nggak suntuk sama suasana yang itu-itu aja," ujar Muhran.

"Betul! Sebentar lagi kita akan mulai melukis. Tema kali ini adalah 'Happiness'," ucap Aren setengah berteriak.

Muhran yang berdiri di samping Aren ikut mengangguk setuju. "Oke! Lukis aja sesuai keinginan kalian, kita mulai dari sekarang," ujar Muhran menutup sambutan mereka.

Jiu mengambil cat akrilik barunya, yang beberapa waktu lalu ia beli atas rekomendasi Galan. Ia menorehkan cat itu ke kanvas di hadapannya. Ekspresinya tampak puas. Pilihan anak seorang seniman memang bisa dipercaya. Jiu tersenyum senang. Selain cat akriliknya yang bagus, kali ini ia juga mendapat inspirasi baru. Ia melukis dengan hati ringan, tanpa berpikir keras mau melukis apa, karena kali ini tangannya bergerak begitu saja mengikuti isi hatinya.

Suasana di klub terasa hening. Tangan mereka sibuk menari di atas palet lukis lalu berpindah ke kanvas putih, mengekspresikan perasaan masing-masing melalui warna yang memenuhi kanvas.

Beberapa saat berlalu, suara gesekan kuas dan obrolan pelan mulai bercampur dengan suara angin yang meniup permukaan danau. Matahari perlahan turun semakin rendah, membuat warna jingga di langit memantul cantik di air.

Jiu masih fokus pada kanvasnya. Ujung kuasnya bergerak pelan, membentuk gambar sebuah halte bus di pinggir jalan, dengan hamparan bunga merah, kuning, dan oranye membentang di belakangnya serta langit sore yang tenang.

Entah kenapa, saat melukisnya, dada Jiu terasa hangat.

"Hm."

Jiu tersentak kecil mendengar suara di belakangnya. Ia menoleh dan mendapati seseorang berdiri sambil memperhatikan kanvas miliknya.

Seorang laki-laki dengan tinggi semampai memakai kemeja hitam. Jiu merasa wajahnya cukup familiar.

"Oh..." Jiu sedikit memiringkan kepala. "Kak Raiden?"

Laki-laki itu tersenyum kecil.

Raiden Aeliustin. Salah satu alumni kampus mereka yang cukup terkenal karena pernah beberapa kali mengadakan pameran seni dan pernah berkolaborasi dengan pelukis yang cukup terkenal di kota. Namanya lumayan sering disebut-sebut anak klub, apalagi karena gaya lukisnya yang khas.

"Gue tadi muter lihat hasil kalian," ujar Raiden santai. "Terus berhenti di sini."

Jiu refleks melihat lukisannya sendiri lalu tertawa kecil malu. "Jangan dilihat dulu, Kak. Masih belum selesai."

Raiden terkekeh, ia duduk jongkok di samping kanvas Jiu agar lebih dekat melihat detailnya. "Gue suka suasana di lukisan lo."

Jiu berkedip.

"Warnanya sederhana, tapi rasanya nyaman." Raiden menunjuk bagian halte bus yang berwarna kebiruan. "Kayak... tempat singgah yang jauh tapi menenangkan."

Kalimat itu membuat Jiu diam beberapa detik.

Karena anehnya, memang itu yang ia pikirkan saat melukis tadi.

"Padahal ada yang lebih jago dari gue di sini."

Raiden menganggukkan dagunya ke arah salah satu anggota lain yang sejak tadi ramai dipuji karena teknik lukisannya yang detail dan realistis.

"Secara teknik dia lebih hebat," lanjut Raiden. "Tapi, lukisan lo punya rasa."

Jiu langsung salah tingkah mendengar pujian setulus itu. "Oh, makasih kak."

Raiden terkekeh pelan. "Jangan malu. Pelukis paling susah itu bukan yang bisa gambar bagus aja, tapi yang bisa bikin orang ngerasain sesuatu."

Tanpa Jiu sadari, beberapa meter dari sana seseorang sedang memperhatikan mereka. Senan duduk di bawah salah satu pohon rindang. Di tangannya ada sebuah kamera berukuran sedang. Tadinya ia sibuk memotret sekeliling. Namun, jarinya berhenti menekan tombol potret begitu melihat Jiu sedang berbicara dengan seorang laki-laki yang tidak ia kenal.

Dan anehnya... mereka tampak akrab.

Lihat selengkapnya