You're My Home

Jenitha
Chapter #15

Bab 14 (Tangkapan Lensa)

Malam itu, setelah kegiatan klub, Jiu pulang ke rumah dengan sisa energi yang tinggal setengahnya. Sementara itu, suasana rumahnya terasa sepi. Lampu ruang tamu menyala redup, tidak ada suara selain TV yang ia nyalakan tanpa benar-benar ditonton. Ia meletakkan tasnya sembarangan di sofa lalu menjatuhkan tubuh pelan. Hari ini melelahkan. Namun, anehnya menyenangkan.

Jiu membuka galeri di ponselnya, lalu melihat foto-foto yang dipotret Senan melalui ponsel. Anehnya foto-foto itu nampak berbeda dengan hasil foto di kamera Senan yang ia lihat tadi ketika mereka masih berada di taman. Foto pertama yang Jiu lihat adalah dirinya yang sedang tidak siap bergaya. Melihat itu, Jiu jadi meringis. Lanjut ke foto selanjutnya yang menampilkan ekspresi wajah Jiu yang marah kepada Senan. Ia menggeser lagi dan ekspresinya tidak beda jauh. Kemudian, Jiu menggeser-geser cepat layar. Namun, setiap kali ia menggeser layar, foto-foto itu hanya berisi ekspresi marah yang berbeda-beda. Mungkin ada sekitar sepuluh slide. Jiu mendengus kesal.

Namun, ketika foto itu bergeser ke foto kesebelas, Jiu tertegun. Foto dirinya yang sedang menghadap ke danau. Ia tidak tersenyum ataupun menatap kamera. Tapi, hasil fotonya ternyata tidak seburuk foto-foto sebelumnya.

Tanpa sadar, garis senyum di bibir Jiu membentuk lengkungan karena foto selanjutnya adalah yang paling bagus dari yang sudah ia lihat sebelumnya. Di foto ini, ia tersenyum lebar sambil menghadap ke arah lain. Untunglah, ada satu foto yang bisa langsung ia unggah.

Detik berikutnya, layar ponsel Jiu berubah. Tertera nama Senan di sana. Dengan cepat, ia mengusap layar ponselnya untuk menyambut telepon Senan.

"Ha-" ucap Jiu terpotong.

"Gue tebak, lo lagi ngelihatin foto-foto hasil jepretan gue di ponsel lo," sambut Senan tiba-tiba.

Jiu memicingkan mata, menatap layar ponselnya dengan kesal. "Eh foto lo nggak ada yang benar tahu!"

Terdengar suara Senan sedang tertawa senang, seolah berhasil melakukan misi untuk membuat Jiu kesal. Ya, tapi kenyataannya memang begitu.

Tak lama setelah tawa Senan reda, suara notifikasi beruntun muncul di ponsel Jiu. Notifikasi yang berisikan foto-foto Jiu yang dipotret oleh kamera Senan dan hasilnya berhasil mencengangkan Jiu.

"Itu udah gue edit dikit warnanya biar makin bagus," jelas Senan.

"Bagus banget," tanpa sadar Jiu berujar demikian.

Di saat bersamaan, di tempatnya, Senan diam-diam mengulum senyum puas. Misi keduanya untuk membuat Jiu kagum atas bakat memotretnya telah berhasil.

"Ya jelas lah," ujar Senan bangga.

Jiu yang mendengar itu, langsung menatap layar ponselnya terkejut. "PD banget lo," ujarnya kemudian.

Senan terkekeh pelan. "Kan kenyataannya. Lagian kenapa harus nggak PD?"

Jiu terdiam, mencoba mencari jawaban. Namun, pada akhirnya, ia tetap tidak bisa berkata apa-apa. Satu hal yang pasti, ia tidak tahu kapan Senan berubah menjadi seseorang yang begitu percaya diri, jauh berbeda dari Senan yang dulu dikenalnya.

Senan juga tidak berbicara beberapa saat, sama seperti Jiu. Lelaki itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil berpikir mencari topik pembicaraan.

"Jiu," panggil Senan setelahnya.

"Hmm...," Jiu membalas dengan dehaman.

"Tapi lo benaran suka kan sama hasilnya?" tanya Senan.

Jiu nampak berpikir, mau jawab iya takut Senan makin besar kepala. Kalau jawab tidak, Senan mungkin tidak akan mau lagi memotretnya. Sayang sekali bakat Senan kalau tidak Jiu manfaatkan barang sedikit.

"Hmm... lumayan lah," jawab Jiu akhirnya.

"Gengsi banget, tinggal bilang suka doang padahal," goda Senan.

Wajah Jiu memerah karena pikirannya bisa terbaca dengan mudah oleh Senan. Untungnya hal itu tidak akan terlihat oleh Senan.

"Udah ah, gue matiin nih."

"Eh, tunggu…" ujar Senan cepat.

Jiu mengurungkan niatnya, membiarkan panggilan telepon itu terus berjalan. Terdengar suara napas Senan yang teratur, lelaki itu mungkin sedang berpikir mau menyampaikan apa atau entahlah, Jiu hanya ingin menunggu untuk mendengarkan Senan.

"Temanin gue, gue bosan nggak ada yang bisa gue ajak ngobrol," lanjutnya.

Lagi-lagi Jiu terdiam. Sebenarnya Jiu juga sama, sendirian di rumah tidak punya teman cerita. Jadi, dia memutuskan untuk menemani Senan untuk beberapa waktu.

Kemudian mereka saling bertukar cerita acak sampai akhirnya obrolan tentang masa di mana mereka pertama kali kenal muncul. Berlanjut sampai ke masa mereka berpisah. Bercerita tentang diri mereka masing-masing yang belum sempat mereka ketahui dulu.

"Lo sekarang agak beda ya, Nan," ujar Jiu berhasil mengejutkan Senan.

Senan terkekeh sebentar, diam-diam ia merasa kikuk sendiri. Bingung harus menjelaskan mulai dari mana.

Lihat selengkapnya