JAYA ADI PRATAMA
Jaya Adi Pratama, polisi muda berusia 20 tahun. Postur tubuhnya tegap dengan tinggi badan 180 cm. Kulitnya bersih, keras seperti lapisan baja. Warna coklat kulitnya justru memancarkan aura maskulin, kesan pria yang terbiasa hidup di bawah teriknya matahari. Tapi anehnya, justru kesan maskulin itu yang membuatnya terlihat lebih karismatik.
Jaya menatap bayangannya di cermin. Seragam dinas lapangan coklat muda membalut tubuhnya dengan pas, mempertegas postur tegap yang telah ditempa oleh latihan dan kedisiplinan. Hari ini, genap dua tahun sudah ia mengabdi sebagai polisi, profesi yang telah diimpikannya sejak kecil.
Keluar dari ruang ganti, langkahnya mantap melewati rekan-rekan sesama polisi. Tatapan mereka mengikuti geraknya, ada yang kagum, hormat, iri, bahkan penuh penilaian.
Ia berhenti tepat di depan seniornya, lalu memberi salam dengan sikap tegap.
"Siap salam," serunya sambil memberi hormat.
Salah satu seniornya terkekeh, "waduh, gue lihat-lihat tambah ganteng aja nihh."
Jaya hanya tersenyum tipis, tak menanggapi lebih jauh. Dua tahun di kepolisian membuatnya cukup akrab dengan senior.
"Oh ya, Jay. Tadi lo di cari tuh sama Komandan Anton. Katanya mau bicara penting," tambah seniornya.
Mendengar itu, Jaya mengangguk. "Siap, Bang. Saya ke dalam dulu kalau begitu."
Tanpa basa basi, ia langsung berlalu, meninggalkan para seniornya yang masih berada di sana.
Jaya melangkah menuju ruangan pak Anton. Sesampainya di depan pintu, ia mengetuk perlahan. Setelah di persilahkan. Jaya masuk dengan penuh hati-hati.
Pak Anton adalah kepala direktorat samapta atau Korps sabhara, salah satu unit dalam kepolisian Republik Indonesia yang bertugas menjaga dan memelihara keamanan serta ketertiban umum. Mereka sering terlihat dalam kegiatan patroli rutin, pengamanan acara publik, dan operasi tangkap tangan.
"Salam, Pak."
Pak Anton tampak sibuk membolak-balik beberapa berkas di atas mejanya. Alisnya berkerut, matanya menatap tajam pada lembar demi lembar dokumen, seolah mencari sesuatu yang tidak kunjung ditemukan. Suasana ruangan terasa hening, hanya terdengar suara kertas yang sesekali diselingi tarikan napas panjang. Wajahnya kaku, tanpa ekspresi ramah seperti biasanya.
Ketika Jaya memberi salam, Pak Anton tak langsung menjawab. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya ia menutup berkas terakhir, menegakkan tubuh, lalu menatap Jaya singkat
"Silahkan duduk, Jaya, " ucapnya sambil menujuk kursi di depannya.