You Wish to The Moon

Adinda Amalia
Chapter #4

Chapter 01: A Butterfly from Kingdom of Berlandia

Jakarta, Indonesia, 2025.

Berlandia Airlines R212 mendarat di Bandar Udara Soekarno-Hatta beberapa menit lalu. Pesawat dengan kelas tertinggi milik Berlandia Raya—pilihan yang tak heran bila melihat siapa yang ada di dalam sana tadi. Carlotta keluar dari salah satu terminal bandara dengan ekspresi masih begitu tenang dan anggun, terlepas lama perjalanan mereka yang mencapai lebih dari dua puluh jam.

Lekuk tubuh langsing dan cantik gadis itu dipamerkan oleh kemeja rempel warna krem lengan panjang dan sebuah rok berlapis berwarna merah muda setinggi paha. Jauh dari gaun ramai yang digunakan selama masih berada di Berlandia Raya. Tampilan kali ini begitu lebih santai, menyatu dengan warga-warga lokal, tetapi tetap elegan.

Di belakangnya, Lucien menyusul. Lepas dari seragam ramai dan tebal khas kesatria maupun pedang yang biasa ada di pinggang, dia kali ini mengenakan kaos putih lengan pendek dimasukkan ke dalam celana hitam panjang. Sederhana, tetapi rapi. Mata unik berwarna merah ditutup menggunakan softlens hitam kecoklatan sehingga dia terlihat seakan-akan seorang berdarah campuran Indonesia-bule. Lelaki itu berjalan mengekor Carlotta sambil mendorong dua koper besar.

With all due respect. Pray, wait for me. I possess but two legs and two arms, and I’m tasked with pushing both my own and your exceedingly heavy suitcases.6” Otot-otot di lengan Lucien menegang saat dia berusaha mendorong koper lebih kuat. Dia mengejar langkah Carlotta yang sedikit lebih cepat dari biasa, entah karena antusias atau sengaja mencari gara-gara dengan lelaki itu—mungkin dua-duanya.

Regretfully, no.7” Carlotta bahkan tidak melambat untuk menunggu.

Dan, yang lebih membuat Lucien sebal lagi, semua itu dilakukan oleh Carlotta dengan wajah tetap tenang, terjaga, dan berwibawa—seolah-olah tak terjadi apa pun. “Have mercy on me….8

Dari bandara, mereka mengendarai taksi memecah kepadatan Ibukota Jakarta. Bangunan-bangunan tinggi gemerlap di malam hari, berpadu dengan lampu kendaraan memadati jalanan. Tidak sampai macet—syukurlah—tetapi ramai seperti biasa.

“Jalannya penuh, sesuai dugaan.” Sepasang tangan Carlotta terlipat di atas pangkuan, diturunkan ke samping sambil menyandar pelan di kursi—masih terasa aneh baginya yang terbiasa tegap—agar terlihat lebih santai.

“Kalau mau istirahat lagi, silakan.” Lucien menoleh menatapnya. Koper-koper mereka aman di bagasi mobil sehingga lengan lelaki itu sekarang berkurang bebannya. “I shall always guard you,9 My La—Carlotta.

“Gak apa-apa,” kata Carlotta enteng. “Aku tadi sudah cukup tidur siang selama di pesawat.”

Lucien hampir siap untuk merendah ke posisi berlutut guna meminta maaf dan menerima hukuman—mengabaikan atau melawan perintah adalah suatu tindakan paling memalukan bagi kesatria—saat dia mendengarkan jawaban tenang dan santai Carlotta seakan-akan tak terjadi apa pun. “Baguslah kalau begitu…,” sahutnya. Bukan karena apa, Carlotta telah memerintahkan untuk memanggil menggunakan nama saja alih-alih sapaan sopan karena kedatangannya kemari bukanlah untuk keperluan politik yang membutuhkan identitasnya sebagai bangsawan. 

Toh, sebagai putri mahkota yang ditutup dari publik, ketika berada di tempat perantauan seperti ini, siapa yang akan mengenali dirinya? Carlotta tak ingin mendapatkan lirikan keheranan dan bisik-bisik dari orang di sekitar sehingga dia memilih untuk melebur dengan masyarakat sebisa mungkin.

Sekali lagi, sebisa mungkin.

Karena Carlotta tahu, beralih dari lingkungan kelas tertinggi di Kerajaan Berlan ke negara bukan penganut sistem pemerintahan monarki kaku dan menuntut kesopanan sangat tinggi—sesuatu yang sepenuhnya berbanding terbalik—bukanlah hal mudah.

Lihat selengkapnya