You Wish to The Moon

Adinda Amalia
Chapter #5

Chapter 02: Welcoming Day

Langkah sepatu Carlotta memasuki gerbang utama SMA Internasional Valleria. Rok wiru setinggi lutut, kemeja polos dibalut rompi dan jas dengan logo sekolah tertempel di dada, tampak sempurna tanpa celah di tubuh gadis itu. Tas menggemaskan tergantung di punggung. Persis seperti remaja SMA pada umumnya, andai tatapan, ekspresi, dan caranya berjalan tidaklah kelewatan anggun.

Lucien biasanya berdiri di samping, satu langkah di belakang Carlotta. Terlalu dekat dengan bangsawan dianggap tidak sopan. Namun, karena beberapa perintah khusus dari Carotta terkait sikap Lucien selama mereka berada di Indonesia—termasuk cara memanggil gadis itu—sekarang Lucien berjalan tepat di sampingnya.

“Sebaik ekspektasimu, Carlotta?” Menyebut nama gadis itu tanpa sapaan sopan masihlah terasa aneh di lidah Lucien.

Gedung-gedung menjulang di depan mereka. Tulisan besar SMA Internasional Valleria beserta logo sekolah terpampang dengan penuh kebanggaan. Halaman luas membentang. Siswa-siswa lain dengan seragam serupa lalu-lalang. Terlepas dari lokasi asrama yang berdekatan dengan sekolah, beberapa dari mereka tetap saja mengendarai mobil atau moge.

“Ini masih awal dari hari pertama kita sekolah,” kata Carlotta. “Lagian, aku ke sini bukan buat membuktikan ekspektasi. Ini tentang mengamati, merasakan langsung, dan belajar.”

“Dimengerti,” kata Lucien singkat. 

Carlotta masih keliatan tenang dari luar, tetapi Lucien lebih dari peka untuk menilai perasaan sesungguhnya di balik mimik bagai topeng di atas kata etika para bangsawan. SMA Internasional Valleria memang termasuk ke dalam sekolah yang elitnya bukan main—setidaknya di area sekitar Jakarta. Namun, dibandingkan dengan Royal Middle School di Berlandia Raya tempat Carlotta belajar dulu, jelas masih terasa perbedaannya. Bukan hanya elit, tetapi mewah sekelas istana.

Tanpa dikatakan langsung, keduanya paham akan hal itu.

“Gak ada yang perlu dipermasalahkan,” tambah Carlotta. Toh, dari awal, ini adalah keinginannya untuk datang kemari. Dia tidak mengeluh. Hal ini justru menjadi tantangan pertama yang harus dihadapi Carlotta bila dia benar-benar ingin belajar kehidupan di Indonesia—kehidupan sebagai orang biasa tanpa pelayan-pelayan kerajaan yang menuruti setiap perintahnya.

Upacara penerimaan siswa baru dilaksanakan di Gedung Aula Utama tak lama kemudian. Diisi oleh sambutan dari kepala sekolah, guru bagian kesiswaan, dan ketua OSIS. Setelahnya, layar besar di belakang panggung aula menampilkan daftar nama seluruh siswa baru beserta kelas tempat mereka berada.

Valleria International Boarding School alias SMA Internasional Valleria memiliki tiga jenjang kelas, yaitu kelas 10, 11, dan 12. Masing-masing jenjang terdiri dari tujuh kelas mulai dari A hingga G.

Mata memindai nama di layar sekilas, Carlotta langsung mendapati dirinya kedapatan Kelas 10-A.

Lucien tersenyum tipis saat menemukan namanya sendiri. “Rupanya kita satu kelas.” Bagaimana tidak, ini sangat menguntungkan karena dia bisa selalu mengawasi Carlotta sepanjang kegiatan di kelas. Walaupun Lucien berpenampilan layaknya siswa biasa, tetapi tugasnya sebagai kesatria pengawal Carlotta tidak boleh ditinggalkan.

“Ayo kita ke sana,” kata Carlotta lembut begitu upacara penerimaan telah selesai. Seluruh siswa meninggalkan gedung aula dengan tertib dan rapi, pemandangan sangat biasa dan wajar untuk sekolah elit dengan level internasional.

Usai meninggalkan gedung aula dan berjalan menyusuri lorong, mereka sampai juga di Kelas 10-A. Bangkunya nyaman, bersih. Ruangan luas, sejuk oleh AC dan gorden yang menutup jendela dari terik matahari. Loker di sisi belakang lebih dari cukup untuk menyimpan barang-barang semua siswa. Usai mengamati sekilas, Carlotta mengambil tempat duduk tak terlalu depan maupun belakang, sedangkan Lucien langsung saja memilih meja tepat di sebelah gadis itu. 

Seorang guru wanita muda memasuki kelas tak lama setelahnya, lalu menutup pintu agar kondusif. Beliau berdiri di depan. Belum-belum, tatapan dan senyuman ramah sudah membuat setiap siswa merasa tenang. “Selamat pagi, Anak-anakku. Saya Aurelia Bellasofia, dua puluh lima tahun. Wali kelas kalian sekaligus guru mata pelajaran Bahasa Inggris.”

Kelas begitu tenang dan tertata, semua mendengarkan Miss Aurelia dengan baik. Di hari pertama, mereka akan diajak mengenali teman-teman dan lingkungan sekolah terlebih dahulu alih-alih langsung mendapatkan kegiatan pembelajaran. “Mari, satu-satu dari kalian maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri.”

Satu per satu dari mereka maju bergantian. Hingga kemudian, saatnya Carlotta tiba. Dia sama sekali tak terganggu oleh seluruh mata memandangnya saat beranjak dari tempat duduk menuju bagian depan kelas. Berdiri di sebelah guru wali kelas.

Lihat selengkapnya