You Wish to The Moon

Adinda Amalia
Chapter #6

Chapter 03 - Pengepungan Rusunawa

Dentuman sol sepatu berlarian menggema di lorong lantai lima Rusunawa Merdeka.

Emak-emak mulai berteriak, mengusir anak-anak kecil yang masih berkeliaran di depan pintu kamar.

“Masuk, Nak! Nanti emmak belikan permen, ya!” bujuk seorang ibu berusia sekitar tiga puluh tahunan sambil menarik anaknya ke dalam.

Sementara itu, orang-orang terus turun ke bawah dengan langkah tergesa. Wajah-wajah mereka merah oleh amarah dan panik.

Dari lantai bawah, suara gaduh mulai membanjiri udara — bos besar, penguasa proyek bumi, akhirnya datang bersama rombongannya.

Di lantai dua, Arven sudah keburu panas duluan. Tangannya mencengkeram balok segede gaban, emosi di matanya memancar seperti matahari siang.

“GAS, CONG!” teriaknya lantang.

Cowok dengan headband di kepalanya tak mau kalah. Dengan penuh tenaga, ia mengayunkan tongkat baseball, menghantam gantungan baju yang berjajar di sepanjang lorong hingga berisik tak karuan.

Shit! No! Pakaian dalam emmaknya Egi malah berantakan itu!” teriak Cael sambil menunjuk ke arah jemuran yang sudah porak-poranda.

Breno hanya melirik sekilas, tanpa berhenti berlari. Fokusnya tetap pada Arven yang sudah menghilang di tikungan. Di bawah, keributan makin menggila. Bos besar itu akhirnya terlihat—bertubuh gempal, tinggi sekitar seratus delapan puluh sentimeter. Wajah sangarnya membuat suasana seketika berubah. Sosok seperti prajurit mafia yang namanya sudah terkenal seantero negeri.

Breno menyeringai tipis. Ia mengarahkan tongkat baseball ke depan, tepat ke arah pria itu, seakan sedang menyambut perang kecil di wilayah mereka sendiri.

“Ngapain bawa-bawa senjata begitu!” hardiknya. Tatapannya tajam, tapi Breno, Arven dan Cael sama sekali tidak gentar. Headband lusuh di kepala mereka bertiga basah oleh keringat.

“Kalau kalian punya kuasa, kami punya balok ini!” Arven membalas dengan nada tinggi. “Kami enggak takut sama penindasan!”

Ia mengeleng kuat. “Lho, ini bukan penindasan,” ejek pria itu. “Jangan sok jadi pahlawan kesiangan. Kami datang bawa izin resmi. Gimana, Pak Sutisno?” tanyanya pada pria paruh baya yang berdiri di belakang.

Pak Sutisno menunduk, wajahnya muram. “Yah… ini sudah perintah atasan.”

Breno, yang berdiri di samping Arven, langsung maju selangkah. “Serius, Pak? Kita udah mati-matian pertahankan rusun ini, tapi Bapak malah kasih izin mereka gusur?”

Cael buru-buru menahan bahunya, tapi Breno sudah terbakar emosi. “Persetan sama izin!” teriaknya. “Pergi sekarang! Kalau enggak, biar kami yang nyamperin bos kalian itu!”

“Arven, bawa Breno pergi!” suara Pak Fredi, ayah Breno, membelah keributan.

“Tapi, Pak—”

“Biar Bapak aja yang urus!” Arven memberitahu.

Dengan berat hati, Breno menurunkan tongkat baseball-nya. “Sialan,” gumamnya Arven.

“HUUUU!” teriaknya, membuat Breno menahan luapan emosinya yang hampir meledak. “Bubar! Bubar, kalian bocah-bocah ingusan!”

Mendengar itu, Arven refleks maju hendak memukul bodyguard dengan tongkat Breno, tapi emaknya cepat-cepat menarik lengannya.

“Jangan, Ven…” suaranya gemetar tapi tegas. “Biarkan Bapakmu sama warga lain yang urus ini, Nak. Kalau kalian ikut campur, semuanya akan makin susah.”

Emosi di dada Arven masih bergejolak. Tapi sebelum sempat berbuat nekat, Cael sudah lebih dulu menarik kerah baju mereka berdua, menyeret ke arah belakang rusun.

**

Di tempat inilah mereka sekarang. Sebuah meja usang, tiga kursi kayu yang tak kalah tuanya. Catnya mengelupas di sana-sini, tapi entah kenapa justru terlihat antik. Kalau kata Cael, “Ini kursi kayak udah hidup sejak zaman dinosaurus.”

Gedung-gedung tinggi berdiri megah di kejauhan. Jaraknya dekat, tapi dunia mereka seperti terpaut ribuan kilometer. Hidup di sini memang beda level dibanding orang-orang di balik dinding kaca gedung itu.

“Andai Emmak sama Bapak kita kaya…” gumam Breno, tatapannya terkunci pada satu gedung menjulang, hotel bintang lima di pusat ibu kota. “Kita gak bakal kayak gini, kan?”

Lalu mendadak ia berdecak kesal. “Kalian, sih!” sentaknya. “Kalau aja kalian setuju sama rencana nyulik Pak Sutisno, kita udah gelut sama bodyguard-bodyguard mafia itu dari tadi, tahu!”

Nada suaranya penuh kecewa. Rencananya yang disusun dari minggu lalu terasa sia-sia. Arven dan Cael malah terkekeh pelan melihat Breno ngamuk sendiri.

“Maaf, No…” Arven menghela napas. “Kita Cuma gak yakin. Kamu tahu sendiri, Pak Sutisno itu aneh. Tadi masih di lantai bawah, tiba-tiba bisa ada di atap—”

“Malah besok-besok bisa muncul di bandara,” potong Cael iseng.

Breno mendengus, merasa dikerjai dua sahabatnya. Ia memalingkan wajah, enggan menanggapi lagi.

 Arven lalu berdiri di sampingnya. Nada suaranya melunak. “Pengempungan berikutnya, kita bakal dengerin saran kamu, No.”

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan, lebih pelan. “Aku tahu kamu serius banget soal surat perjanjian itu.”

Cael ikut berdiri di sisi lain Breno. “Kita bakal menang kok, No,” katanya mantap. “Ada waktunya.”

Arven mengangguk pelan. “Iya. Kita gak kalah hanya karena miskin.”

Cael lalu mengeluarkan tiga lembar kertas dari tasnya. Di atasnya tertera tulisan besar ‘SMA Internasional Valleria’ Sekolah Internasional Valleria. “Jadi gak?” tanyanya.

Breno menatap kertas itu lama, matanya berkilat. “Ini harus jadi. Kita udah kejar ini dari dulu.”

Cael dan Arven saling pandang, lalu menepuk pundaknya.

“Kita emang bukan anak pejabat, El, Ven,” ujar Breno dengan semangat, “tapi kita anak rusun yang punya mimpi besar!”

“Trio Cong ini calon bos-bos masa depan!” seru Cael, disusul tawa kecil Arven di sampingnya.

“Kayaknya aku gak bakal betah,” gumam Breno.

“Lah, kenapa?” Arven menoleh.

“Kalau gak ada kalian,” jawab Breno pelan. Ia lalu merangkul keduanya, menarik mereka ke sisi kanan dan kiri. “Makanya… harus tetap bareng-bareng.”

Belum sempat suasana berubah mellow, Arven dan Cael langsung kompak menjitak kepala Breno.

“Drama mulu!” seru Cael.

Lihat selengkapnya