You Wish to The Moon

Adinda Amalia
Chapter #7

Chapter 04: The ‘My Lady" Incident

Sayup-sayup kadang kala terdengar, saking sepinya ruangan kelas, hanya diisi oleh lima siswa. Si trio cowok dan si duo Carlotta-Lucien. Arven, Breno, dan Cael sampai menggeser kursi agar mereka bisa mengerjakan tugas di satu meja sambil berdiskusi—lebih tepatnya mengeluh bersama karena membaca soal sampai harus diulang dua atau tiga kali sampai akhirnya bisa memahami maksud dan menemukan jawaban yang tepat.

Arven membungkuk sedikit untuk berbisik, “Tanya Chat GPT aja, yuk. Kelamaan kalo mikir sendiri.”

Breno langsung menyahut, “Ayo, ayo.”

Cael ikut mengangguk setuju.

Arven hati-hati mengeluarkan ponsel dari saku celana. Namun, baru saja dia membuka situs yang dimaksud sebelum sempat mengetik apa pun, jemari Carlotta meraih ponsel darinya. Bukan merebut dengan kasar, melainkan mengambil dengan lembut, tetapi juga terkesan berwibawa—elegan dan berkelas.

“Memalukan,” kata gadis itu, berdiri di samping meja si trio cowok. Suaranya tenang, tetapi bukan tipe yang mau didebat dengan mudah. “Cari di buku atau literatur digital di internet itu gak apa-apa, tetapi gak boleh asal tanya Chat GPT. Miss Aurelia juga sudah pernah bilang begitu bukan?”

Cowok-cowok itu kompak mendongak menatap Carlotta dengan muka campur aduk. Mau langsung kesal dan protes, tetapi ucapan gadis itu ada benarnya, dan lagi, kehadiran Carlotta sesederhana berdiri di sana sambil memegang ponsel Arven perawakan begitu tegas—tetapi juga anggun di saat bersamaan—membuat mereka kesulitan mencari kata-kata untuk diucapkan.

Lucien, duduk di belakang tempat Carlotta berdiri, tertawa kecil. “Sudahlah. Mereka sudah ketahuan bolos, masih juga kamu omelin. Kasian. Lagi pula… selagi di Indonesia, kenapa gak lebih santai aja? Aku gak komplen soal sifat tegasmu. Itu bagus, tapi kalo di sini, rasanya jadi berlebihan. Toh, katanya, dari yang kamu baca, orang-orang Indonesia tuh santai-santai.”

Carlotta melirik tajam kepada lelaki itu, tetapi kemudian pundaknya jadi rileks sambil menatap tiga cowok di depannya kembali. “Benar sih.”

Kalau dibilang lancang, tidak. Diamnya Lucien selama beberapa saat menunjukkan bahwa dia menghargai ketidaksukaan sesaat Carlotta terhadap opininya barusan. Lagipula, dia juga senang bahwa pada akhirnya Carlotta setuju. Kemudian, barulah menatapnya lebih dekat—meski hanya terlihat punggung saja dari tempat lelaki itu duduk saat ini. “Aku cuma menyarankan. Kenapa gak coba bantuin mereka aja? Kan orang Indonesia terkenal ramah dan baik.”

Tiga detik ruangan kelas itu sunyi. Setelah Carlotta kelepasan tegas barusan—dan saat ini sampai ditatap lekat-lekat juga oleh tiga cowok di depannya—saran dari Lucien hanya terdengar aneh di situasi sekarang. Namun, sesuatu yang aneh bukan berarti selalu mustahil.

Carlotta mengangguk kecil, “Ya sudah.”

Lucien menyeret satu kursi lagi agar Carlotta dapat bergabung bersama si trio cowok di meja yang sama. Sementara Lucien mengawasi dari kursi terdekat di meja lain, bersebelahan dengan mereka.

“Mana yang susah?” 

Lucien tak bisa mengalihkan pandangan dari gadis itu untuk sesaat. Baru pertama kali ini, Carlotta yang biasanya hanya tahu tentang memberikan perintah dan arahan kepada dirinya atau pelayan-pelayan istana, kali ini terbuka untuk mengulurkan tangan kepada orang lain.

Lihat selengkapnya