Di lorong asrama yang mulai lengang, Karen berdiri bersama dua temannya, Nico dan Febrian. Sejak tadi mereka memantau Breno, yang terlihat berjalan menuju koperasi.
“Ngapain dia malam-malam ke koperasi?” tanya Nico pelan.
“Gak tahu. Aku Cuma lihat dia lewat tadi,” jawab Karen santai. “Makanya aku mau kasih dia hadiah yang paling membekas malam ini.”
“Ayahmu bakal ngamuk kalau tahu, Ren,” ucap Febrian mengingatkan.
Karen hanya mendengus. Ia tahu, sejak dulu, dirinya memang sering berulah demi diperhatikan. Sudah sampai segila ini pun, tetap saja rasanya belum cukup.
Tak lama kemudian, Breno keluar dari koperasi sambil membawa perlengkapan alat tulis. Langkahnya santai, nyaris acuh. Tapi saat ia sampai di ujung lorong menuju asrama, langkahnya terhenti.
Karen dan dua temannya sudah berdiri di sana, menatapnya tajam. Meski tahu ini jelas semacam pengepungan, Breno tetap berjalan sampai benar-benar dihadang.
“Urusan kita bakal panjang kalau kamu gak minta maaf atas kelakuanmu!” ancam Karen.
Breno tertawa singkat, lalu berdecih. “Minta maaf? Sama kamu? Ya jelas gak lah...”
Nada ketus itu langsung membuat Karen murka. Ia maju dan menarik kerah baju Breno. Nico dan Febrian buru-buru menahan tangan Breno agar tidak membalas.
“Berhenti!” Suara itu memotong suasana. Mereka menoleh.
Carlotta berdiri di sana, rambutnya dikuncir rapi, mengenakan baju bermotif bunga dan celana sepaha. Di bawah cahaya lampu lorong, kulitnya tampak bercahaya. Memikat.
Karen perlahan melepaskan kerah Breno ketika Carlotta mendekat dan berdiri di sampingnya.
“Masih mau ribut di sini?” suara Carlotta terdengar dingin. “Kalau kalian gak pergi, aku laporin ke Ibu Kiera. Sekalian sama rencana kalian tadi.”
Ekspresi Karen berubah seketika. Lebih tenang. Lebih manis. “Kamu salah paham, cantik.” Ia tersenyum tipis. “Aku sama sekali gak ada niat buat gebukin dia. Cuma urusan kecil aja. Tapi udah aman kok.”
Carlotta merasa risih dengan tatapan itu. “Kalau gitu, pergi.”
“Oke.” Karen melangkah mundur, lalu melirik Breno sambil tersenyum tipis—lebih seperti isyarat, kali ini kamu selamat. “See you. Besok kita harus ketemu.”
Breno hendak pergi, tapi suara Carlotta menahannya. “Lain kali jangan keluar sendiri malam-malam. Itu bahaya.”
Breno menoleh sebentar. “Oh ya? Lain kali juga gak usah kayak tadi. Aku nggak butuh bantuanmu.”
Carlotta terdiam, memandangi Breno yang berlalu begitu saja. Tiba-tiba, sebuah jaket melingkar di pinggangnya. “Lain kali jangan keluar dengan pakaian seperti ini, My Lady,” bisik Lucien pelan. “Bahaya…”