Sudah hampir satu minggu berlalu, Carlotta masihlah bangun tidur dengan suasana hati tidak menyenangkan—agaknya hanya makin parah. Kamar luas, nyaman, fasilitas lengkap, sejuk dengan AC, gorden bersinar sedikit akibat cahaya pagi berusaha menerobos dari jendela. Namun, tetap saja berbeda dari keseharian biasa. Tetap saja bukanlah kamarnya di Berlan Manor.
Carlotta meminggirkan selimut dari tubuh, kemudian duduk di kasur. Agaknya dia homesick, tak ada alasan lagi selain itu. Mau berulang kali meyakinkan diri bahwa harus terbiasa, mentalnya seakan-akan punya respons tersendiri terhadap perubahan lingkungan begitu drastis ini.
Dan, rupanya ini benar-benar fase yang melelahkan.
Carlotta turun dari ranjang. Aneh rasanya tidak ada Lucien di berdiri di dekat untuk mengucapkan selamat pagi dan menawarkan teh atau kue sebagai camilan sebelum sarapan. Aneh rasanya, ketika dia harus membuka lemari sendiri untuk mengambil pakaian. Aneh rasanya, ketika dia mengisi air bathtub di kamar mandi dan menunggu sampai penuh, tanpa ada lilin atau wewangian lavender seperti biasanya Lucien menyiapkan untuknya.
Meski demikian, Carlotta tetap melakukan itu semua. Paling tidak hanya makan yang masih disiapkan oleh Lucien—pengawalnya itu khawatir sang tuan putri akan meledakkan kompor apabila dibiarkan menyentuh dapur. Sementara sisanya, seperti mencuci peralatan dapur bekas memasak serta piring dan sendok makan, dilakukan oleh Carlotta.
Sesuai ucapannya sendiri waktu itu untuk belajar melakukan banyak hal secara mandiri, Carlotta juga mencuci dan melipat pakaian serta membereskan kamar sendiri. Sederhana memang, bisa dikuasai dalam waktu singkat, tetapi membiasakan itu semua dari kehidupan serba dilayani, adalah tantangan aslinya.
“Kamarmu sempurna kayak biasa, My Lady. Suasananya pun masih sama seperti yang di Berlan Manor,” kata Lucien, selepas mereka sarapan bersama di meja makan kamar Carlotta. Hari ini weekend sehingga tidak ada acara repot siap-siap berangkat sekolah.
Carlotta meliriknya sambil meletakkan piring-piring dan sendok bersih selepas dicuci dari wastafel, ke rak di dapur. Dia tak tahu apakah Lucien sungguh tulus memuji atau sekadar ingin membuatnya merasa lebih baik dari homesick—walaupun sama sekali tak pernah mengeluh langsung, Carlotta yakin lelaki itu cukup peka untuk menyadarinya.
“Ngomong-ngomong,” Carlotta justru memilih mengalihkan pembicaraan, dia beranjak untuk duduk di kursinya meja belajar, tetapi menghadap Lucien yang sedang berdiri di tengah kamar sambil masih asik mengamati sekitar. “Aku sudah pernah bilang: panggil My Lady hanya ketika kita sedang berdua, panggil nama ketika ada orang lain di sekitar. Tapi, sejak keceplosan waktu itu, kenapa kamu manggil pakai My Lady di depan trio itu? Hari lalu pas kita mengusir Karen di lorong asrama, misalnya.”
Lucien tak langsung menjawab. Dia melangkah menuju gadis itu. “So that they may know that My Lady is mine…,30” dia hampir tergoda untuk menghentikan ucapannya di situ, tetapi karena tak mau terdengar lancang, dia menambahkan, “... to guard.31”
Tatapan Carlotta terkunci pada lelaki itu. Masih tenang dan tegas seperti biasa, tetapi berbeda dengan ucapannya—ada sangat sedikit sekali nada jahil, “Kamu cemburu?”
“Enggak!” Lucien langsung membuang muka, salah tingkah.
Carlotta bisa saja menggodanya lebih jauh, tetapi itu bukan sesuatu yang selera untuk dilakukan oleh bangsawan—entah ini keberuntungan atau kesialan bagi Lucien. Dia memang kesal bila dijadikan candaan oleh si trio cowok, tetapi kalau sang tuan putri yang melakukannya, dia justru diam-diam menyukai perhatian yang diberikan padanya walau berupa candaan seperti itu—dan sudah pasti membuat makin tersipu.
Alih-alih, Carlotta meraih tab di miliknya di meja belajar. “Kita berangkat dulu, yuk. Biar gak terlalu sore nyelesain tugasnya.”
“Ah, tentang itu….” Lucien buru-buru menenangkan diri agar rona di pipinya hilang, sebelum menatap Carlotta kembali. “Kurasa benar. Dan, sebenarnya aku ada satu saran sih, kalau gak keberatan, My Lady.”
Carlotta memeriksa beberapa hal di tablet dan buku catatan di meja bergantian, memastikan lagi apa yang harus mereka kerjakan hari ini agar tugas mereka selesai dengan baik. Tanpa mengalihkan pandangan, dia hanya menyahut dengan setengah cuek, “Apa itu?”
Senyuman tipis Lucien mengembang, antara ide menarik—dengan kata lain jahil—dan benar-benar memberikan masukan yang worth it terkait keinginan Carlotta untuk merasakan pengalaman kehidupan di Indonesia. “Mau coba rasanya jadi orang Jakarta sejati gak?”
Carlotta akhirnya menoleh untuk membalas tatapannya, tertarik.