You Wish to The Moon

Adinda Amalia
Chapter #10

Chapter 07: In the Rooftop's Embrace

Gemintang menyapa saat Carlotta menginjakkan kaki di rooftop alias atap dari gedung Asrama Valleria. Gemerlapnya redup, tak begitu jelas, kalah oleh polusi cahaya Kota Jakarta yang berkilauan oleh cahaya dari gedung-gedung tinggi.

Rooftop tampak hidup oleh lampu-lampu kecil mengitari sepanjang kanopi, cukup besar menutup setengah dari seluruh luas atap. Di bawahnya, ada beberapa meja kotak, dikelilingi oleh kursi-kursi kayu. Sementara di bagian yang tak tertutup kanopi, ada satu gazebo dan pot-pot bunga. Estetik, sekilas seperti kafe-kafe khas kota.

Malam itu, tak ada seorang pun selain Carlotta di sana. Dia berdiri di dekat pagar pendek yang mengelilingi tepian rooftop. Anginnya belum terlalu dingin di jam segini. Jalanan di depan asrama masih ramai, terlihat dari atas sama. Namun, gelapnya malam seperti memberikan pelukan istirahat, menjadikan malam lebih tenang daripada huru-hara siang hari.

“My Lady.”

Lucien menyusul. Dia telah melepas softlens yang biasa dikenakan. Toh, di waktu selarut ini biasanya memang sudah tidak ada orang lalu lalang di asrama. Mata merahnya jelas, mendominasi dalam gelap malam.

Rasanya sudah lama sekali semenjak terakhir Carlotta menatap mata asli sang kesatria. Lebih familiar, Lucien dengan perawakan asli seperti hari-hari lain di Berlandia Raya, alih-alih kesopanan tertahan agar terlihat lebih santai sepanjang berada di Indonesia selama ini.

Belum lagi, tangannya membawa sebuah loyang perak keemasan, lengkap dengan teko ukuran kecil dan sebuah cangkir dengan corak senada. The Royal Serene Tea Set. Pelataran minum teh yang selalu digunakan oleh Carlotta ketika masih berada di Istana Kerajaan Berlan. 

Lucien meletakkan teko dan cangkir di meja kayu, tak jauh dari tempat Carlotta berada. “Chamomile Tea,” suara lelaki itu kali ini lembut.

Carlotta kehabisan kata-kata selama sesaat. Tatapan tertuju ke meja. Sama sekali tak menyangka. Bukan hanya set teko, bahkan Lucien memilih teh yang selalu menjadi kesukaannya—tetapi sayangnya belum pernah lagi dinikmati semenjak datang ke Indonesia. “Kukira kamu gak bawa itu semua ke sini….”

Your cherished teapot and tea, My Lady? Rest assured, they accompany us still—I would never part you from them.37

Carlotta masih terdiam sejenak. “Jangan lagi-lagi ngerepotin dirimu sendiri.”

Gak mungkin, kurang lebih itulah yang ada di pikiran Lucien. Ketika ucapan Carlotta lebih ke omong kosong gengsi alih-alih perintah tegas dan jelas, Lucien akan lebih memilih untuk keras kepala dan melakukan hal sebaliknya.

“Selagi tak ada orang lain di sekitar, izinkan saya untuk melayani Anda. Tak ada salahnya untuk merasakan kembali ke suasana royal. Meskipun apa yang saya siapkan masihlah sangat jauh dibandingkan kemegahan Berlan Manor, kediaman keluarga Anda di Kerajaan Berlan.” Bahasa Indonesia formal, kuat dengan kesopanan, meluncur dengan mulus dari bibir Lucien. Gaya dengan tata krama memang selalu menjadi yang paling baginya, alih-alih logat santai dipaksakan setiap kali ada orang asing di sekitar selama di Indonesia. Dia membungkuk hormat sesaat. “Please, be seated,38 My Lady.”

Masih bercampur berat hati—atau… entahlah, Carlotta bahkan kesulitan untuk memahami dirinya sendiri, gadis itu akhirnya duduk juga.

Lucien masih berdiri di sebelah meja. Dia meraih teko, jemari memegang dengan rapi. Diangkat sedikit lebih tinggi, lalu dituang perlahan. Pelan, tertata, tenang. Tanpa bunyi, apalagi teh memercik keluar dari cangkir. Etika menuang teh ala Kerajaan Berlan yang sudah lebih dari hafal di kepalanya. Saat ¾ bagian terisi, barulah dia meletakkan teko kembali. Kemudian, dia mendekatkan pelan cangkir ke arah Carlotta. “Your tea, My Lady. May its warmth ease your mind.39

Aroma manis menyerupai apel, berpadu dengan madu, memenuhi udara dengan halus. Chamomile tea yang tak mungkin dilupakan oleh Carlotta. Perlahan, dia mengangkat cangkir, lalu menyesap sebagian. 

Tatapan Lucien melembut saat dia mengamati gadis itu menikmati tehnya. Bukan hanya Carlotta, Lucien pun begitu tentram hanya dengan melihat sang tuan putri kembali pada kebiasaan yang telah beberapa hari belakang ini terpaksa ditinggalkan.

 Selama di Berlandia Raya, minum teh selalu menjadi cara Carlotta untuk menenangkan diri setelah hari-hari melelahkan. Di momen sekarang, saat gadis itu sedang kewalahan menghadapi perubahan gaya hidup begitu drastis, Lucien ingin memberikan kembali suasana royal yang sudah lama tidak dirasakan oleh Carlotta semenjak merantau ke Indonesia. Sebab, dia tahu inilah yang Carlotta butuhkan agar bisa merasa sedikit lebih tenang.

Pelan-pelan, Carlotta meletakkan cangkir kembali, tanpa menimbulkan bunyi sama sekali. “I deeply appreciate your initiative.40

Lucien tersenyum, mengangguk sedikit. “You shall always be under my care.41

Lihat selengkapnya