You Wish to The Moon

Adinda Amalia
Chapter #11

Chapter 08 - Energi di Bawah Rusunawa?

Pintu terbanting keras. Cael yang melakukannya dengan sadar, melihat itu, Breno nyaris tertawa—tapi berhasil menahan diri. Ia menyandarkan punggung ke dinding. Ekspresinya seketika berubah serius.

Ia mencoba mengingat sesuatu, menyusun ulang potongan-potongan kejadian yang terasa janggal. “Waktu sepatu kita bolong itu… aku udah curiga,” ucapnya pelan. “Cuma gak nyangka kalau dia. Awalnya Cuma ngerasa ada yang aneh. Tiba-tiba rusak, gitu aja.”

“Aku masih susah mikir jernih,” sahut Arven, nadanya terdengar setengah kagum, setengah resah. “Kita hidup berdampingan sama makhluk kayak gitu… aku gak pernah nyangka satu sekolah sama iblis.”

“Jadi dia punya kekuatan?” Cael menyimpulkan. Breno dan Arven mengangguk bersamaan.

“Dia bukan orang sembarangan,” ujar Breno tegas. “Kita harus hati-hati.”

“Hati-hati kenapa? Kita juga gak pernah cari ribut sama dia,” Arven mengernyit.

Breno menatapnya lekat-lekat. “Sejak kita tahu kalau dia iblis, itu artinya kita udah masuk ke wilayahnya, Ven. Mau gak mau… kita udah terlibat.”

Cael mengangkat alis, wajahnya langsung berbinar seperti menemukan ide baru. “Kalau gitu, kenapa gak sekalian kita minta tolong ke dia?” ucapnya. “Suruh dia pakai kekuatannya buat nyelametin rusun. Beres, kan?”

“Enggak!” Breno dan Arven menjawab hampir bersamaan.

Cael memelotot. “Loh, kenapa kompak banget nolaknya? Padahal itu cara paling cepat menurutku.”

Breno langsung menggeleng. “Gak bisa, El. Aku gak mau kita bergantung sama hal kayak gitu. Gak resmi. Gak ada hitam di atas putih. Kita butuh cara yang jelas, yang diakui. Kalau mau ngandelin yang gaib, dari dulu sekalian aja kita ke dukun.” Nada suaranya meninggi sedikit, bukan marah—lebih ke tekanan.

“Aku juga sepakat,” timpal Arven. “Dia juga gak tahu apa-apa soal Rusunawa, El. Tapi kalau kita sampai minta kekuatannya langsung… itu beda urusan.”

Cael menghela napas, lalu menggaruk kepalanya frustasi. Meski ide gilanya ditolak, dia sadar, kedua sahabatnya ada benarnya juga.

Ia melirik jam di dinding. “Udah, sekarang pada tidur,” kata Arven singkat. Perdebatan pun berakhir di situ.

Mereka naik ke ranjang masing-masing. Tak lama kemudian, dengkuran mulai terdengar dari atas dan samping. Tinggal Breno yang masih terjaga, menatap langit-langit, pikirannya penuh dengan bayang-bayang Lucien.

Sampai kemudian suara ketukan di pintu memecah sunyi. Breno tersentak. Tanpa banyak pikir, ia bangkit dan membuka pintu.

Dan seketika tubuhnya menegang. Angin dingin menerpa wajahnya. Bulu kuduknya berdiri. Lucien tepat di depan pintu. Mata merahnya menyala dalam gelap. Auranya terasa berat—menekan udara di sekitar.

Refleks, Breno menarik pintu hendak menutupnya. Namun sebelum pintu sempat rapat, sebuah dorongan kuat menahannya. Pintu itu malah terhempas terbuka lebih lebar. Breno terdorong mundur beberapa langkah.

Meski jantungnya berdegup kencang, Breno memaksa dirinya tetap berdiri tegak di hadapan Lucien. “Woi! Santai aja dong!” serunya sambil mendorong bahu Lucien pelan tapi tegas. “Jangan mentang-mentang punya kekuatan, terus bisa seenaknya!”

Di dalam hatinya, Breno mati-matian menahan getaran yang menjalar di seluruh tubuhnya. Seumur hidup, dia tak pernah membayangkan bakal berhadapan langsung dengan makhluk seperti ini.

“Aku bacain jampi-jampi, baru tahu rasa kamu nanti,” desisnya, setengah menggertak, setengah menutupi rasa takutnya.

Lucien malah terkekeh pelan. “Aku bukan setan,” katanya santai. “Gak akan berpengaruh jampi-jampimu.”

Breno mendelik. Lucien lalu mengangkat paper bag di tangannya. “Nih. Aku bawain makanan. Lebih tepatnya… dari My Lady, Carlotta.”

“Gak usah repot-repot,” tolak Breno cepat. “Kita udah pada makan. Bawa aja ke kamar lain yang lebih butuh.”

Lucien justru tersenyum tipis, nyaris seperti sedang mengejek. “Dari semua siswa Valleria… justru kalian yang paling butuh ini.”

Breno sedikit tersinggung. “Eh, jaga omongan, ya.”

Lucien mengangkat bahu. “Bukan bermaksud nyinggung. Tapi itu fakta.” Nada suaranya tetap datar. “Dan amanat dari My Lady jelas. Makanan ini harus sampai ke kalian. Anggap saja ini permintaan maaf. Menurut dia, ancaman tadi sempat bikin kalian ketakutan.”

Breno terdiam sesaat. Menimbang. Menelan gengsi. Akhirnya, tangannya terulur mengambil paper bag itu. “Oke, gue terima. Sekarang kamu bisa pergi.”

Lucien menaikkan sebelah alis. “Gak ada ucapan terima kasih? Setidaknya buat My Lady?”

Breno menarik napas panjang, berusaha tetap waras. “Terima kasih,” ucapnya datar. “Sekarang… pergi.”

Lihat selengkapnya