“Weekend selanjutnya mau jalan-jalan lagi, Carlotta?”
Matahari sudah mulai tergelincir ke arah barat. Teriknya mulai pudar, terhalang pula oleh pohon-pohon layaknya atap seluas taman sekolah. Jalan-jalan sepatak membentang, terhubung satu sama lain. Gazebo bertengger. Sebagian kosong, sebagian diisi oleh beberapa siswa. Ramainya kalau saat istirahat. Sementara ketika sepulang sekolah seperti sekarang, tak banyak siswa tersisa.
Carlotta duduk di tepian salah satu gazebo, kaki menggantung berayun pelan. Tas mereka berdua tergeletak di belakang. “Ada tempat yang mau kamu kunjungi?”
Lucien berdiri di jalan sepatak, tepat di sebelah gazebo. Sudah menjadi etika dari Kerajaan Berlan bahwa tak sembarang orang boleh berbagi tempat duduk dengan bangsawan. Walau Carlotta pasti akan memintanya untuk mengabaikan itu karena mereka sedang tidak berada di Berlandia Raya dan bukanlah berada di sini sebagai bangsawan, Lucien tetap ingin menjaga etika selagi tidak banyak orang lain di sekitar. “Harusnya aku yang nanya gitu.”
“Mungkin aku bakal nyari tahu di internet soal tempat-tempat di sekitar,” kata Carlotta. “Sebenarnya gak perlu jauh-jauh, taman ini pun udah cukup nyaman buat bersantai dan menyegarkan pikiran.”
“Sering-sering eksplor gak masalah kan? Lagian kita cuma di sini seenggaknya tiga tahun—selama menempuh SMA,” sahut Lucien. “Atau, kamu berencana tinggal di sini lebih lama?”
“Entahlah tentang itu.” Perawakan tenang Carlotta masih lekat seperti biasa. “Kalau bisa lama-lama di luar negeri, aku bakal selalu seneng aja. Tapi aku gak bisa asal berbuat tanpa izin Ayahanda.”
Lucien menatap penasaran. “Termasuk tentang kuliahmu nanti, ya? Jujur aja, Carlotta, aku gak yakin Paduka bakal mengizinkanmu kuliah selain di Berlandia Raya. Yah, kecuali kalo double degree—satunya di Berlandia Raya.”
“Aku juga mikir gitu—”
“Oalah, ternyata kalian di sini.” Cowok-cowok datang dari sisi lain jalan setapak, tas sekolah menggantung di punggung. Si tiga serangkai tak terpisahkan. Dua dari mereka tersenyum, tetapi satunya tidak.
“Arven?” Carlotta menoleh menatapnya.
Tatapan Lucien langsung tertuju pada Breno. “Apa kamu ngeliatin kayak gitu?!” Dia sama-sama langsung ikul kesal.
Breno tak terima. “Kamu yang apaan! Mau sok jagoan?!”
Lucien tertawa. “Yaelah, aku mah emang jago!”
Arven, senyuman cerianya tadi perlahan berubah menjadi pusing bukan kepalang. Bagaimana tidak, baru saja bertukar salam, belum sempat mengobrol, sudah ada yang bertengkar saja. “Udahlah kalian berdua nih.”
Namun, tentu saja, mereka berdua tak mendengarkan. Justru makin lancar saling menyerang menggunakan kata-kata. Kemungkinan mereka bisa diam saat bertemu hanya ketika jam pelajaran di kelas. Lainnya? Hanya ada perang.
Arven menghela napas. Kemudian, terpikir suatu ide. “Cael, kamu di sini aja jagain Breno. Carlotta, ikut aku, yuk?” Dia tahu-tahu langsung mengambil tas milik gadis itu di gazebo, lalu menggandeng tangannya, diajak pergi.
Carlotta agak kebingungan, tetapi dia menurut. Turun dari gazebo sambil berpegangan pada tangan Arven, lalu berjalan di sebelah mengikutinya. Tangan mereka masih saling bertaut.
Belum berpindah dari tempat semula, Lucien menoleh pada mereka berdua. “Wait—49”
“Pinjem bentar!” kata Arven sambil cekikikan dan masih lanjut saja berjalan pergi bersama Carlotta.
Tiba-tiba saja, Lucien menyusul, menahan pundak Arven dari belakang. Genggamannya kencang bukan main. Bila saat adu mulut dengan Breno tadi mukanya sedakar sebal, kali ini dia benar-benar garang. “Her Highness must always stand by my side!50”
Carlotta menurunkan lengan Lucien dari Arven sambil menggertak—lembut tetapi bernada memerintah, “Lucien.”
Dalam hati, Arven tertawa. Memang inilah rencananya. Bila Lucien tidak bisa ditarik langsung agar beranjak dari Breno, maka dia harus membawa umpan terbaik—Carlotta. Sejak awal, Arven tahu bahwa Lucien pasti akan menyusul.
Arven menoleh belakang. “Cael, nitip Breno, ya!”
Cael mengangguk. “Jangan lama-lama. Nanti kami tunggu di asrama!”
“Iya, iya!”
Si dua cowok masih berada di taman, Cael menenangkan Breno. Sementara Arven, membawa Carlotta dan Lucien beranjak dari sana. Meninggalkan area sekolah SMA Internasional Valleria, menuju asrama.
“Nah!” Arven tersenyum lebar saat mereka sampai di dapur umum Asrama Valleria. Luas dengan beberapa kompor listrik, peralatan lengkap, dan tiga buah meja makan yang masing-masing muat diisi empat hingga enam orang.
Tak ada orang selain mereka bertiga saat ini. Wajar, setiap kamar sudah difasilitasi dengan dapur pribadi sehingga tempat ini biasanya hanya digunakan sebagai alternatif lokasi nongkrong bila ada para siswa yang ingin kumpul-kumpul.
Arven berdiri di dekat tepian meja makan, sedangkan Carlotta dan Lucien duduk berhadap-hadapan. “Kalian harus nyoba ini. Favoritnya seluruh orang Indonesia nih. Mie instan!” katanya begitu bangga sambil menunjukkan tiga bungkus mie instan masih mentah dengan varian rasa berbeda-beda.