You Wish to The Moon

Adinda Amalia
Chapter #13

Chapter 10 - Akankah Berdamai?

Rintik hujan yang tadinya Cuma menyentuh pelan atap seng, perlahan berlipat, saling berkejaran, hingga akhirnya berubah jadi hujan deras yang membentur dunia tanpa sisa. Semua orang berhamburan mencari tempat berteduh. Lorong-lorong kelas mendadak riuh oleh dentuman langkah yang saling berlomba dengan air.

Arven dan Cael bukannya sampai ke kelas, mereka malah berhenti di depan kantor, napas ngos-ngosan. Lalu saling pandang. “Ter…lalu jauh,” desah Cael.

Arven terkekeh. Dan mereka berdua cengengesan—tersesat oleh hujan dan arah.

Sementara itu, Breno memanfaatkan kekacauan ini buat bolos. Lima panggilan tak terjawab dari Emmaknya masih menggantung di layar ponsel. Kalau para bodyguard itu datang lagi ke rusun, habislah. Saat ini pikirannya menyempit. Ia bahkan tak memikirkan Arven dan Cael sama sekali.

Tanpa sepengetahuan keduanya, Breno berlari ke belakang gedung. Ia melepas seragam luarnya, menyisakan kaos putih yang sudah mulai basah menempel di tubuh. Baju itu ia pakai menutupi kepalanya sebisanya. Hujan terlalu deras, membuat matanya perih. Kakinya terus mencari pijakan, sampai tangannya menyentuh besi pagar untuk bersandar.

Hingga…

“Breno, kamu tahu ini lagi hujan?”

Breno melepaskan baju dari kepalanya dan menoleh ke bawah. “Berasa banget, ya,” decaknya kesal. Ia melompat turun, lalu secara refleks menarik kaos putihnya untuk menutupi kepala Carlotta.

“Kamu tuh sebenernya budek, ya?” teriaknya, bara di suaranya nyaris tenggelam oleh hujan. “Aku bilang kamu gak perlu ikut campur. Kalau kamu lihat apa pun yang aku lakukan, jangan pernah bantuin aku. Jangan tegur aku. Paham?”

Carlotta menggeleng. Hujan mengaburkan wajahnya, tapi Breno bisa membaca gerakan bibirnya. “Aku paham. Tapi gak di kondisi kayak gini juga, Breno,” balasnya, suaranya ikut meninggi. “Ini bahaya. Kalau kamu ketahuan, kamu bisa dikeluarin dari sekolah. Apalagi sekarang Valleria baru pasang CCTV di sekitar sini… makanya aku kasih tahu.”

“Argh! Sial!” umpat Breno.

Ia berbalik dan melangkah pergi, menembus hujan. Tapi baru beberapa langkah, terdengar bunyi tubuh terjatuh.

Breno menoleh. Carlotta sudah tergeletak di lantai.

“Carlotta—!” Ia berlari menghampiri, berlutut, lalu dengan panik mengangkat tubuh gadis itu. Tanpa pikir panjang, Breno menggendongnya ala bridal style dan berlari menuju UKS Valleria.

Di tengah hujan yang masih menggila, Breno sempat menatap wajah Carlotta. Alis tipis yang terukir rapi. Bulu mata lentik. Bibir mungil berwarna pink muda. Hidung kecil tapi mancung sempurna. Cantik… Ia cepat-cepat mengusir pikiran itu. Fokus, Breno. Fokus.

Dalam sekejap, Carlotta berpindah dari gendongannya ke pelukan Lucien—yang juga basah kuyup. Gerakannya begitu cepat sampai Breno sempat terdiam.

Benar-benar… di luar nalar. “Kalau My Lady kenapa-kenapa…” Lucien menatap Breno dengan sorot tajam penuh amarah. “Kita musuhan sampai kiamat.”

Breno tak menjawab. Hanya berdiri, menonton saat Lucien membawa Carlotta pergi dengan kecepatan nyaris tak masuk akal.

“Gila tuh orang…” gumamnya pelan. Setengah takjub. Setengah tak percaya. Tapi sekali lagi, ia harus mengakui—Kekuatan Lucien itu nyata.

**

 

Breno baru saja kembali dari toilet saat melihat kelas mulai agak lengang. Beberapa siswa sudah keluar lebih dulu untuk mengisi perut yang sejak tadi keroncongan. Baru juga duduk, kursinya langsung ditarik ke belakang oleh Arven.

“Kenapa, Ven?”

“Bahasa Inggrisnya kamu apa?” Arven cengengesan.

“Halah, Ven. Gitu doang lupa! You. Kalau I itu aku!” jawab Breno tegas, meski kepalanya sendiri terasa berat.

Arven menatapnya lebih saksama. “Kamu kenapa, No? Sakit?” suaranya mulai pelan. “Kok kayak gak semangat gitu… Padahal kamu sendiri yang bilang, kamu mulai suka bahasa Inggris setelah diajar Carlotta…”

Breno langsung berbalik dan menutup mulut Arven dengan tangannya. “Hei—!” Breno menghembuskan napas lega begitu melihat bangku Carlotta dan Lucien memang tidak ada di kelas.

Di samping Arven, Cael terkekeh kecil melihat reaksinya. “Jangan bilang gitu lagi, Ven!” ucap Breno pelan, lalu kembali menghadap meja dan menjatuhkan kepalanya di atas meja.

Cael melirik Arven. “Dia kenapa sih, Ven?” bisiknya.

Arven berdiri pelan, lalu melangkah ke bangku Carlotta yang tepat berada di depan Breno.

“No…” suaranya melembut. “…cerita. Kamu kenapa?”

Breno mendongak perlahan. Ia memperbaiki posisi duduknya, lalu mengembuskan napas panjang. “Kalian ngerasa juga gak sih… kalau Rusunawa itu butuh kita?” Ia terdiam sebentar, lalu melanjutkan, “Tadi Emmak nelepon aku. Aku mau kabur ke sana. Tapi kalian tahu? Carlotta datang buat ngegagalin rencanaku.”

“Kita sahabatan, kan, No?” Arven langsung menanggapinya dengan nada emosional. “Kamu bahkan punya rencana tapi gak ngajak kita berdua?!”

Lihat selengkapnya