You Wish to The Moon

Adinda Amalia
Chapter #14

Chapter 11: Uno Reverse Card

“Ini namanya kartu reverse, fungsinya buat membalikkan arah permainan. Misal, urutan permainan searah jarum jam, lalu kartu ini keluar, maka arahnya jadi kebalikan jarum jam.”

Hari itu siang menjelang sore. Sekolah baru berakhir beberapa menit lalu. Rooftop asrama ramai di jam-jam segini. Ada yang mengobrol, mengerjakan tugas bersama, asik mengambil foto, bergosip, dan sebagainya. Untung saja Arven, Carlotta, dan Lucien masih kebagian meja kosong untuk duduk melingkar.

Sesuai ucapan Arven hari lalu, dia akan selalu membantu tiap kali Carlotta ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan di Indonesia. Dan, dalam hal itu, warga lokal akan selalu menjadi tutor terbaik. Tadi, Carlotta bilang ingin diajari permainan kartu uno.

Di sinilah mereka sekarang. Kartu uno milik Arven tersebar di atas meja, sambil cowok itu menjelaskan aturan permainan dan fungsi action cards, seperti reverse, stop, dan sebagainya. Sementara Lucien sejak tadi hanya diam karena sudah paham dengan permainan uno. Carlotta cukup cerdas untuk langsung memahami sehingga Lucien tak perlu ikut campur, misalnya untuk menjelaskan ulang dalam bahasa dan istilah berbeda atau semacamnya.

Ngomong-ngomong, Cael dan Breno kali ini tidak ada bersama mereka karena sedang mengerjakan tugas di kamar asrama. Tugas milik Arven, Carlotta, dan Lucien selesai sejak di kelas tadi sehingga mereka bisa bebas sekarang.

“Nah sekarang udah paham semua kan, Carlotta? Mau coba main?”

Gadis itu mengangguk.

Permainan dimulai. Masing-masing mendapatkan tujuh kartu, sedangkan sisa kartu diletakkan terbalik di atas meja. “Oh iya, ini opsional sih. Tapi aku biasanya kalau main sama Breno dan Cael, yang kalah dikasih hukuman.”

Lucien tak suka ide hukuman. Dia ingin protes, bahwa orang biasa tak pantas memberikan hukuman kepada tuan putri. Namun, ini hanya permainan. Toh, bila dia mengomel, Carlotta pasti akan langsung membungkamnya.

“Hukumannya apa?” tanya Carlotta.

“Yang bertahan sampai akhir, ngusapin bedak ke wajah yang kalah,” kata Arven. “Nih aku udah bawa bedaknya.” Dia menunjuk botol bedak bayi kemasan kecil, dibawa sejak tadi bersamaan dengan kartu uno.

Lagi-lagi, Lucien ingin protes. Serius banget sama permainan bodoh kayak gini, batinnya. Namun, lagi-lagi, di situasi seperti ini, lebih baik diam daripada berujung dimarahin balik oleh Carlotta—itu akan jauh lebih memalukan bagi seorang kesatria pengawal sang putri sepertinya.

“Oke, kita mulai, ya?”

“Ayo.”

Permainan kali ini benar-benar dimulai. Beberapa ronde awal masih santai. Ritme pelan, hati-hati, saling memerhatikan strategi masing-masing. Begitu pun Carlotta, terlihat masih mencoba-coba efektivitas beberapa strategi.

Menit-menit berlalu, permainan menjadi makin panas. Kekejaman menumpuk kartu plus empat di atas dua kartu serupa mulai muncul. Kalimat licik seperti, “Halah gini doang,” atau, “Oh, gitu? Awas aja, ya kalian,” atau, “Kalian gak tahu kartu apa yang lagi aku pegang,” dilemparkan bersahut-sahutan.

Carlotta tahu-tahu sudah bisa mengimbangi Arven. Otak sang pewaris posisi pemimpin kerajaan memang tak perlu diragukan. Dia paling tenang sepanjang permainan. Wajah tetap kalem, tiba-tiba mengeluarkan kartu-kartu angka sama dengan empat warna berbeda secara bersamaan, sebagai kartu terakhirnya dalam ronde itu.

“Gila! Kece banget kamu.” Arven tertawa.

Tawa seadanya Arven, gak pantas bersanding dengan tawa mahal Carlotta ala orang kaya, pikir Lucien. Dia benar-benar muak. Mereka akan selalu tertawa bersama—kecuali Lucien—setiap kali permainan berakhir dan satu orang dinyatakan kalah, entah itu Carlotta karena termasuk masih pemula sehingga terkadang masih terkecoh, atau Arven karena mengalah.

Yap, mengalah.

Lucien tahu cowok itu beberapa kali mengalah untuk Carlotta. Di ronde sebelumnya, saat Lucien sengaja menjebak Arven sampai kalah, ekspresi cowok itu benar-benar berbeda—murni kelihatan kesal, bukan justru senyum-senyum sendiri seperti sekarang. Dia curiga ada sesuatu disembunyikan oleh Arven—tatapannya kepada Carlotta berbeda dari biasa, seperti ada binar-binar kegirangan. Sudah begitu, seseorang yang sekadar teman tidak mungkin sesering itu mengalah untuk seorang cewek.

Sepanjang permainan uno, sekilas terlihat menyenangkan di mata orang lain. Namun, bagi Lucien, ini penyiksaan, terutama setiap satu ronde permainan berakhir, entah siapa pun yang kalah dan menjadi ultimate winner—pemenang yang bertahan sampai akhir—di antara Carlotta dan Arven. Sederhana, tetapi tawa bersama mereka, jemari Carlotta saat menyentuh muka Arven untuk mengusapkan bedak sebagai hukuman, atau pun sebaliknya saat tangan Arven mengusap bedak pada wajah Carlotta; Lucien tak suka itu semua.

Lihat selengkapnya