You Wish to The Moon

Adinda Amalia
Chapter #15

Chapter 12: Little Lucien Mortensen

Mobil limosin melintas pelan di jalanan depan Berlan Manor—kediaman besar keluarga bangsawan Kerajaan Berlan. Dinding tebal mengelilingi sebagai pagar. Kokoh, selama ratusan tahun telah menjaga. Lurus dengan pintu masuk, dipisahkan oleh taman hijau luas, gerbang dijaga oleh para kesatria.

Anak lelaki kecil sembunyi di balik pohon besar, persis di samping dinding pagar Berlan Manor. Setiap tidak ada lagi kendaraan melintas, dia agak bergeser untuk bersembunyi di pohon lain terdekat.

Pelan, tetapi pasti, dia mencapai bagian samping dari dinding pagar Berlan Manor. Kali ini bukan hanya bersembunyi, dia memanjat pohon besar. Tubuh mungil gesit mencapai atas pohon, bersembunyi di balik cabang-cabang dan dedaunan tebal.

Hati-hati, dia melangkah dari pohon ke ujung atas dinding pagar. Kemudian dia melompat masuk ke area taman di dalam pagar. Sialnya, dia mendarat dengan kurang sempurna sehingga lututnya kotor oleh rumput dan tanah, serta tergores sampai berdarah sedikit.

Ouch….” Dia merintih kesakitan lirih, berusaha untuk tak menarik perhatian. Dia duduk di rumput sambil memeriksa lutut yang terluka. Perih dan begitu menyakitkan. Bahkan untuk membersihkan rumput dan tanah yang menempel di dekat luka saja dia tak berani.

Dari sudut pandangan anak itu, dia menyadari ada seseorang mengenakan sepatu kaca tinggi dan gaun berlapis mengembang lebar berwarna putih keperakan, panjang nyaris menyentuh tanah. Orang itu berjalan mendekat.

Lelaki kecil itu perlahan mengangkat kepala. Seketika, wajahnya langsung panik dan pucat. Jangankan tertangkap oleh kesatria seperti perkiraan terburuknya. Seseorang di hadapannya saat ini adalah Giselle Ashbourne, Sang Ratu Kerajaan Berlan. 

Mata merah anak lelaki itu bertemu dengan tatapan Sang Ratu yang seribu langit cerah Berlandia Raya. Giselle selalu anggun selayaknya di televisi, internet, maupun saat berkeliling untuk menyapa rakyat-rakyatnya. Namun, ada kepatuhan terhadap aturan, atas dasar penghormatan, yang terasa dengan cukup jelas dari cara wanita itu membawa dirinya sendiri.

Si anak lelaki buru-buru berlutut di depan Sang Ratu, padahal lutut yang terluka sangatlah sakit ketika ditempelkan di tanah. “My deepest apologies, Your Majesty. I ventured in, out of mere curiosity.64

Giselle meraih pundaknya. “Rise, child. I shall care for your injuries.65

Anak itu terkejut.

Dia kira dirinya salah dengar, tetapi ternyata tidak. Giselle menggandeng tangannya menuju ruang medis di Berlan Manor. Luas, bersih, ada tiga ranjang kosong, serta rak-rak tinggi tempat berbagai obat-obatan disimpan.

Para petugas medis kerajaan langsung berdiri sambil membungkuk saat Giselle datang bersama si anak lelaki. Mereka tak bertanya akan bocah lelaki bermata merah. Yah mungkin, andai anak itu berkeliaran sendirian, pasti langsung ditangkap dan diinterogasi. Mata merahnya langsung dikenali, seorang ras keturunan iblis. Semua orang tahu bahwa keberadaannya sangat terlarang di luar Kota Grande, apalagi berani menginjakkan kaki di Berlan Manor. Namun, segala pertanyaan tertahan karena anak itu sedang digandeng oleh Sang Ratu.

Alih-alih para petugas medis menawarkan untuk mengobati anak itu, tetapi Giselle menolak dan hanya menginginkan mereka untuk membawa berbagai obat dan perlengkapannya untuk mengobati luka.

Giselle duduk di salah satu di tepian ruang. Si anak lelaki diletakkan di pangkuan. Di sebelahnya ada meja kosong, para petugas medis tanggap meletakkan obat-obat permintaannya di sana.

Giselle hati-hati dan dengan lembut membersihkan sisa rumput serta tanah menempel sekitar luka di lutut anak itu. “May I know your name, sweet child?66” katanya, mengalihkan perhatian anak itu dari sakit yang mungkin muncul beberapa kali selama proses membersihkan luka.

Anak itu menurut di pangkuan Giselle. Tidak melawan atau merosot untuk berusaha kabur. Alih-alih, agaknya dia nyaman, walau tak begitu ingin menunjukan di wajahnya. “Lucien Mortensen.”

Giselle tersenyum. Dia menuangkan cairan antiseptik ke atas kapas, lalu mengusapkannya pada luka di lutut anak itu dengan lembut. “Did you come here on your own? How very brave of you.67

Lucien kecil mengangguk. “I have always been curious about all things within the Kingdom of Berlan!68

Dari pintu ruang medis yang terbuka, seorang gadis kecil mengintip dari pinggiran. Rambut pirang cerah panjang menjuntai hingga pinggang. Wajah bulatnya malu-malu bersembunyi sedikit di balik daun pintu.

Menyadari seseorang di sana, Lucien kecil menoleh. Tatapan gadis mungil itu persis seperti milik Giselle. Penduduk di Berlandia Raya memang memiliki ciri fisik sama, tetapi kemiripan mereka berdua lebih dari sekadar satu nenek moyang. Meski malu-malu, mata gadis kecil itu sudah ada bibit-bibit ketegasan dan wibawa. Kalau anggun, memang sudah ada, bahkan begitu terlihat.

Lucien kecil menyadari, selain mirip Giselle, gadis mungil itu juga mengingatkannya pada seseorang. Pria tinggi dan penuh kharisma yang selalu membawa tongkat—sebagai aksesoris—mengenakan jubah kerajaan tebal dan panjang dengan bulu lembut dan corak keemasan membentang di punggung, serta sebuah mahkota gagah. Raja Hans.

“Carlotta….”

Tepat saat Lucien kecil memikirkannya, suara Hans menggema dari lorong. Begitu lembut, sepenuhnya berbeda dibandingkan caranya bicara ketika berada di depan kamera atau rakyat-rakyat Kerajaan Berlan—tegas, menggelegar.

At once, Father.”

Lihat selengkapnya