Siang menuju sore kali ini begitu cerah. Tidak ada awan menutupi langit. Terik matahari cukup menusuk kulit, andai tidak ada pohon-pohon tinggi di seluas taman sekolah, juga atap gazebo tebal dan sejuk. Jam pelajaran sudah berakhir sejak lama. Beberapa siswa sudah meninggalkan sekolah, sebagian masih berada di sekitar.
Lucien berdiri di tepian gazebo. Matanya sejak tadi tajam kepada William yang juga berdiri di sisi lain tepi gazebo. “Ngapain sih kamu ke sini?!” gertaknya. Walau sesungguhnya, dia hanya makin merasa terpojok oleh kehadiran lelaki itu. Nambah-nambahin saingan, pikirnya. Apalagi, William itu keturunan murni Berlandia Raya, sudah begitu keluarganya terhormat. Berbeda dengan Lucien yang seorang iblis dan rawan ditendang dari kerajaan kapan saja.
“Do not misunderstand, Sir Lucien. I came here under His Majesty’s behest,82” kata William. Suara lelaki itu masih sama menyebalkan di telinga Lucien seperti dulu. Senyuman dan sok panggilan sok sopan itu menjijikkan.
Lucien menggerutu. Kalau sudah menyangkut perintah Raja, dia mana bisa berkata-kata apa. Namun, nyatanya, Carlotta tiba-tiba menyahut, “Silence,83 William. Kalau kerajaan lagi tenang-tenang aja, aku pasti udah nukar kamu sama kesatria yang lain sekarang juga.”
Kali ini ganti William yang tak bisa berkata-kata.
Carlotta tak mengatakan apa pun lagi. Hanya diam dengan muka marah yang cukup kentara. Sejak mereka sampai di gazebo, ekspresi gadis itu memang sudah demikian—sedang sebisa mungkin menahan amarah agar tidak meledak. Lucien sampai keheranan campur ngeri sendiri, baru kali ini dia melihat Carlotta semarah itu.
Bukan apa, pasalnya William tadi tiba-tiba datang ke kelas di jam istirahat. Tak masalah bila dia menyamar sebagai orang biasa layaknya Lucien. Nyatanya, William datang dengan seragam kesatria lengkap. Pedang dan pistolnya ditinggal di kamar Carlotta di asrama memang, tetapi tetap saja kemunculannya dengan pakaian seperti itu langsung menarik perhatian.
Satu kelas langsung heboh tadi, ramai-ramai bertanya siapa sesungguhnya Carlotta. Dan yap, tentu saja sekarang semua menjadi tahu bahwa Carlotta bukanlah orang biasa dari Berlandia Raya, melain sang putri bangsawan. Kabar itu menyebar dengan begitu cepat ke seluruh sekolah. Saat jalan menuju gazebo barusan saja, hampir setiap orang yang berpapasan menatapnya dengan kagum.
Semua ini sangat tidak diinginkan Carlotta untuk terjadi dalam kehidupan SMA-nya di sini.
“Tuh….” Lucien langsung mengejek balik William. “Nurutin perintah His Majesty buat dateng, pas nyampe sini malah bikin masalah buat My Lady.”
William masih tetap diam sesuai instruksi Carlotta, tetapi dia mengeluarkan kertas dari saku—jelas bukan kertas biasa—selebar genggaman tangan dengan tulisan-tulisan miring yang sulit dibaca. Lalu menempelkannya di kulit tangan Lucien sambil menggumamkan, “By the pure light, let darkness fall.84”
“Sialan! Yang bener aja kamu!” Lucien langsung merintih kesakitan. Dari kulitnya yang ditempel kertas oleh tangan William, panas menjalar ke seluruh tubuh hingga ke tulang-tulang. Nyeri bagai ditusuk-tusuk dari dalam.
Carlotta menurunkan tangan William agar kertas terlepas dari Lucien. “Do not make unwise decisions. Cease adding to my burdens,85” katanya begitu tegas. Tatapan tajam bercampur muak pada lelaki itu cukup untuk menjelaskan semua.
Sementara Lucien, sekarang menatap William dengan muka sombong. Yah, ternyata dia tak sepenuhnya kalah oleh lelaki itu. William boleh saja kesatria paling terhormat yang dibangga-banggakan para bangsawan. Namun, di hadapan Carlotta pribadi saat ini, Lucien masih punya nilai kelebihan tersendiri.
Si trio—Arven, Breno, Cael, sejak tadi juga ada di gazebo bersama mereka. Adu mulut Lucien dan William hanya masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri. Namun, aksi William barusan menarik perhatian. “Itu ya kemampuan Holy Art milik para kesatriamu yang kamu bilang dulu?” kata Arven.
Carlotta mengangguk, sudah mulai tenang dari amarahnya. “Salah satunya. Holy Art itu banyak bentuk dan aplikasinya. Kalau aku jelasin semua nanti gak ada habisnya. Intinya, dengan keterampilan itu, William bisa ngimbangin segala kekuatan magis Lucien.”
“Misalnya gini.” Carlotta memetik setangkai sebuah daun dari tanaman di samping gazebo, kemudian menunjukkannya kepada mereka. “Lucien, William, coba tarik—tanpa pakai tangan.”
Daun di tangan Carlotta tiba-tiba terpotong menjadi dua bagian dengan sendirinya—karena tertarik oleh kekuatan Lucien dan William secara bersamaan dari dua arah berbeda. “Lihat kan? Apa yang Lucien bisa, William juga bisa. Kurang lebih sih begitu.”
“William gak harus sambil baca apalah tadi? Mantra ya itu?” tanya Cael.