You Wish to The Moon

Adinda Amalia
Chapter #17

Chapter 14 - Kelopak Jari

Rencana baru terpampang jelas di mading. Cael memandangi daftar itu sambil mengerutkan dahi, bingung memilih mana yang kira-kira akan disetujui Breno dan Arven. Tepat saat ia hendak mencatat sesuatu, suara seseorang terdengar dari luar.

“Cael…!” Arven muncul dengan napas terengah-engah.

“Kenapa, No?” tanya Cael.

Arven tak menjawab. Ia langsung menarik tangan Cael, menyeretnya menuju lapangan.

Cael mengumpat pelan, langkahnya dipaksa cepat. Begitu tiba di lapangan, ia langsung mengepalkan tangan—Breno sedang ditertawakan Karen dan anak-anak basket lainnya. Dari wajah Breno terlihat jelas ia sedang menahan amarah. Sejak masuk Valleria, pelanggarannya memang sudah banyak.

“Kamu terima tantangan ini karena apa, No?” Cael mendesis kesal, berdiri berhadapan dengan Breno. Di sisi ring, Karen terus cekikikan mengejek.

“Aku terpaksa, El… Dia ngerendahin kita semua. Aku gak mau itu terus kejadian,” suara Breno pecah antara marah dan frustasi. “Aku tahu ini salah. Aku tahu nerima tantangan ini bodoh. Tapi kalau aku gak terima… ini soal harga diri!”

“Oi! Bisa apa enggak?” teriak Karen. “Anak rusun mana bisa main basket? Mainan kalian itu lorong kamar!” ejeknya yang menusuk.

“Aku terima,” jawab Breno tegas. “Aku bakal buktiin kalau kita bukan anak rusun biasa!”

Ia berhasil merebut bola dari tangan Karen dan mencoba mendribel—meniru apa yang seperti yang Karen lakukan. Tapi bolanya selalu memantul kacau, meleset, dan gagal entah ke mana.

“Stop!” seru salah satu teman Karen. “Malu-maluin banget sumpah!”

Cael sudah ingin maju, tapi Arven menahan bahunya. “Udah, El. Dari sini aja. Breno lagi ngelawan buat harga dirinya. Kita gak boleh campur. Percaya… dia lebih kuat dari kita.”

Sementara itu, Carlotta berhenti di sisi lapangan. Di sebelahnya, Lucien dan William ikut mengamati. Pandangan Carlotta tak lepas dari Breno—yang terus mencoba, terus gagal, dan terus dijadikan bahan ejekan.

“Kamu harus lakuin sesuatu, Lucien,” bisiknya lirih. “Aku gak tega lihat Breno.”

William juga mengangguk pelan. “Dia pantas kita bantu…”

“Tapi, My Lady,” ragu Lucien, “ini bisa mengundang—”

“Lakukan, Lucien!” potong Carlotta tegas.

Lucien akhirnya mengangkat tangan. Kekuatan sihir melesat halus ke arah bola Breno. Seketika tubuh Breno menegang—gerakannya berubah. Aturannya lebih rapi, dribelnya mulus, langkahnya cepat. Ia mendekati ring, melompat—Dan bola masuk sempurna.

Cael dan Arven melongo. Tim Karen membisu. Bahkan Karen sendiri tampak nyaris tak percaya. Percobaan Breno sukses—dan jauh lebih sempurna daripada gaya bermain Karen.

Breno menoleh tanpa sengaja. Melihat Carlotta, Lucien, dan William berdiri di sana. Bukannya senang, ia justru mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras menahan amarah.

Ia pergi begitu saja, melewati Karen, juga panggilan Cael dan Arven.

“Carlotta! Tunggu!”

Carlotta menoleh. Ia memberi isyarat agar Lucien dan William menjauh. “Apa maksudmu?” suara Breno dalam dan bergetar menahan marah.

“Aku Cuma… ingin membantumu,” suara Carlotta mengecil.

Breno tertawa pendek, pahit. “Berapa kali aku harus bilang? Aku gak mau dibantuin pakai kekuatan Lucien!”

Carlotta terdiam, tersentak. “Kamu sadar gak?” suara Breno meninggi. “Yang kamu lakuin barusan… itu sama aja bikin aku kelihatan lebih bodoh!”

Ia mendekat, mata tajam menatapnya. “Kamu tuh… bisa-bisanya ngelakuin itu. Bodoh banget jadi cewek!?” Breno mendorong bahu Carlotta.

“No!” Arven langsung menarik Breno hingga cowok itu terdorong sedikit ke belakang. “Dia itu cewek, No! Kamu bisa ngomong baik-baik!” Arven berdiri di depan Carlotta, tubuhnya menjadi tameng. Jelas ia tidak suka melihat Breno memperlakukan Carlotta seperti itu.

Carlotta menunduk. Matanya terpejam sesaat—sesal tiba-tiba menyesakkan dada. Padahal ia hanya ingin menolong Breno.

“Aku muak sama dia, Ven!” bentak Breno sambil menunjuk Carlotta. “Bilang ke dia, aku benci orang ikut campur urusanku! Dan kamu lihat tadi—kalau sampai ada yang curiga, yang rugi bukan kita, tapi dia, Ven!” teriak Breno.

Arven menggeleng keras. “Kamu kekanakan banget, No! Harusnya kamu bilang makasih, bukan malah marah-marah! Kasar banget jadi cowok!”

Lihat selengkapnya