You Wish to The Moon

Adinda Amalia
Chapter #18

Chapter 15: The High Court's Sentence

Ranjang bertingkat, AC yang mereka masih belum tahu bagaimana cara menghangatkan suhunya, langit-langit dan dinding kamar Asrama Valleria. Arven menyisihkan selimut di atas badan, lalu pelan-pelan bangkit ke posisi duduk di atas kasur.

Dia memeriksa sekeliling, ada Lucien duduk di kursi dekat pintu kamar, entah sejak kapan. Ekspresi lelaki itu saat ini sulit dibaca. Dia sedang berusaha berbuat baik? Namun, mukanya kesal. Dia berada di sini karena terpaksa? Namun, mukanya tak semenyebelkan biasanya.

“Lucien, tadi… apa yang terjadi?” Akhirnya, kata-kata itu yang keluar dari bibir Arven.

Lucien sekadar membalas tatapan selama beberapa detik, sebelum dia memutuskan untuk bicara. Namun, di saat itu pula, pintu kamar terbuka. William muncul di sana, dengan seragam kesatria Kerajaan Berlan, tanpa topi beret maupun pedang. “Lucien, Her Highness requests your presence at once.87

Lucien datang ke kamar Carlotta bersama William. Gadis itu duduk di meja belajar. Di depannya, laptop terbuka menyala, menunjukkan video call terhubung dengan pria-pria mengenakan setelan jas hitam di atas kemeja putih dan rompi keemasan. Lucien mengenali siapa mereka. Orang-orang dari The Royal High Court of the Kingdom of Berlan, Mahkamah Agung Kerajaan Berlan.

Carlotta menoleh belakang. “Kemarilah kalian berdua.”

“Selamat sore, Your Highness, Sir William, Sir Lucien,” mereka memulai saat dua lelaki itu mengambil posisi berdiri di masing-masing kanan dan kiri dari kursi tempat Carlotta duduk. “Berdasarkan amanat dari His Majesty King Hans XII Vincent Berlandrean, Sovereign of the Kingdom of Berlan, disampaikan bahwa Kota Grande telah menghubungi Kerajaan Berlan terkait Lucien Mortensen yang meninggalkan kota sekitar tiga tahun lalu, kemudian ditemukan saat ini telah menjadi Kesatria Pelindung Sang Putri. Atas kekecewaan mereka, Kota Grande menyatakan ancaman penyerangan terhadap Kerajaan Berlan. Tawaran damai akan mereka pertimbangkan dengan usulan keinginan: hukuman eksekusi mati dari Kerajaan Berlan terhadap Lucien Mortensen,” terang mereka. “Pernyataan ini merupakan hasil akhir dari diskusi panjang antara His Majesty dengan Walikota Grande, Morax Mortensen. His Majesty telah berusaha sebaik mungkin untuk meringankan usulan syarat damai mereka. Dan juga, dengan semua ini, Your Highness, tingkat keamanan Kerajaan Berlan dinyatakan berubah dari normal menjadi siaga.”

Pria lain dari orang-orang Mahkamah Agung menambahkan, “Sebagai respons atas hal itu, kami, The Royal High Court of the Kingdom of Berlan, telah melaksanakan Rapat Darurat Tingkat Tinggi yang menghasilkan keputusan: bahwa Sir Lucien Mortensen the Princess’s Sworn Knight of the Kingdom of Berlan diperintahkan kembali ke Berlandia Raya sesegera mungkin untuk mendapatkan hukuman eksekusi mati yang akan dilaksanakan di The Royal Judgement Grounds of Berlan Kingdom, Lapangan Penghakiman Agung Milik Kerajaan Berlan.”

Kesunyian memenuhi ruang, lebih dingin daripada tengah malam paling gelap. Lucien dan William, tanpa saling menatap pun, mengerti perasaan masing-masing. Sejak upacara sumpah peresmian Lucien sebagai Kesatria Pelindung Sang Putri, semua tahu bahwa sesuatu seperti ini akan datang cepat atau lambat. Risiko yang mereka pahami bahwa harus diterima apa pun keadaannya.

Beberapa detik, Carlotta terdiam. Mimik muka gadis itu masih tenang dan berwibawa, tetapi ada sesuatu yang sulit diartikan dalam tatapannya. Kemudian, dia bicara, “Bagaimana respons Ayahanda dan Bunda atas keputusan kalian?”

“Mereka setuju.”

Well,” kata Carlotta. Dia terdiam lagi. Namun, kemudian, sesuatu abstrak dalam tatapannya tadi hilang, digantikan oleh keteguhan tanpa menerima bantahan. “Aku menolak. Lucien tetap berada di sisiku.”

Orang-orang Mahkamah Agung dalam video call kompak menatap satu sama lain dengan panik dan kebingungan, sedangkan Lucien dan William sama-sama menoleh kepada Carlotta. Namun, gadis itu tak gentar. Dia sudah menyangka reaksi ini dan hal itu bukanlah sesuatu yang akan dapat mengubah pendiriannya.

Sekali lagi, dengan tegas, suara menggema menyerupai cara bicara Ayahanda, Sang Raja, Carlotta mengatakan, “By my command as Her Royal Highness the Crown Princess Carlotta Marianne Berlandrean of the Kingdom of Berlan, no punishment of any kind is to be inflicted upon Lucien Mortensen.88

Ruangan menjadi hening kembali. Orang-orang dari Mahkamah Agung menunduk, tersisa satu orang paling depan masih menatap Carlotta. Jelas begitu banyak kalimat tertahan, tetapi sama sekali tak bisa terucap. Akhirnya, walau dengan berat hati dan kebingungan sendiri, pria itu mewakili Mahkamah Agung Kerajaan Berlan untuk berpamitan.

Video call berakhir.

William masih menatap Carlotta, serius dan penuh keheranan. Tanpa bertanya apakah Carlotta bersungguh-sungguh akan ucapannya, dia sudah tahu bahwa para bangsawan Berlan tak perlu dipastikan dua kali atas keputusannya. Namun, bukan berarti dia tak memiliki opini sendiri atas hal itu, walau sama seperti orang-orang dari Mahkamah Agung, hanya bisa tertahan.

Sementara Lucien, mukanya sulit diartikan. Sejak dahulu, dia lebih dari paham akan risiko atas tindakannya sendiri. Senang karena dibela oleh Carlotta? Namun, dia tak merasa bahwa orang-orang dari Mahkamah Agung, maupun William, menunjukkan perasaan yang sama. Lucien merasa dirinya pantas mendapatkan hukuman, tetapi bukankah kebahagiaan juga pantas untuk didapatkan? “My Lady—”

Carlotta lebih dulu menyahut, suaranya lembut dan peduli, “Kalian berdua, kembali ke kamar masing-masing. Sudah malam, saatnya istirahat.”

Lihat selengkapnya