You Wish to The Moon

Adinda Amalia
Chapter #19

Chapter 16 - Gerald Beraksi

Pelukan Carlotta pada Lucien membuat Arven menyandar sejenak, perasaan cemburu merayap meski mereka tak memiliki ikatan apa pun. Usapan lembut Lucien pada rambut Carlotta hanya semakin membakar rasa cemburu Arven. Sialan, pikirnya.

“Ven! Ayok!” Cael muncul sambil membawa dua botol minuman dingin, masih lengkap dengan baju olahraga.

“Ayok,” jawab Arven lesu.

“Mukamu kocak banget, Ven!” komentar Cael sambil terkekeh. “Kayak lihat pacar selingkuh…”

“Ah, enggak. Aku kan single,” balas Arven sambil tersenyum kecut, menyadari betapa absurd perasaannya. “Oh iya, mimpi Breno semalam gak masuk akal...” katanya tak peduli.

“Kata emak, mimpi bisa jadi petunjuk, Ven,” lanjut Cael. “Kali aja itu petunjuk. Aku juga merasa akhir-akhir ini ada yang aneh sama kita bertiga.”

Arven menatap Cael sejenak. “Perasaanmu aja, El. Aman kok.”

Cael mengangguk.

Sementara itu, di locker room, Breno mengambil pakaiannya dan masuk ke toilet. Tiba-tiba ia sempoyongan, berhenti sejenak, memejamkan mata, tapi sakitnya makin terasa. Ia tersungkur di lantai, menyetuh dadanya. Sebuah cahaya muncul perlahan, dan tangan Breno terangkat menutup silau.

“Arghhh!” umpatnya. Rasa sakit dari peluru yang menembus dadanya berdenyut hebat, keringat membasahi pelipisnya.

Tiba-tiba, sebuah tangan terulur. Kulit putih itu menyentuhnya, merapikan rambut yang menutupi wajah Breno. Beberapa detik, sakitnya seolah mereda, cahaya yang tadinya menyilaukan kini kembali normal.

Breno mendongak. “Carlotta?”

“Kamu ngapain di sini?” tanya Breno, terkejut karena ini ruang ganti cowok.

Carlotta tersenyum kecil. “Kita kan janjian, mau ke lapangan bareng.”

Breno mengerutkan kening. “Emang iya? Ayok ke lapangan, kalau gitu.”

Sesuatu berusaha merebut energi Breno, tapi sikapnya berubah total saat Carlotta ada di sisinya. Ia meraih tasnya, menatap Carlotta sejenak, lalu mengusap rambutnya. Carlotta tak terlalu terkejut, hanya merasa ada perbedaan—Breno bagai api, dan ia seperti air yang tenang.

Mereka berjalan bersisian menuju lapangan. Lucien, Arven, dan Cael sontak melongo. Tiba-tiba kedekatan Breno dan Carlotta menarik perhatian. Lucien menyipitkan mata, sementara Arven berubah murung.

Kemarin Lucien, sekarang Breno… cemburu itu kian membara. Arven menarik tangan Breno menjauh dari keramaian

“Ada apa, Ven? Harus jauh-jauh begini?” tanya Breno.

“Kamu baikan sama Carlotta? Kok jadi dekat kayak tadi?”

Breno menahan tawanya. “Salah kalau kita dekat? Kita kan teman, Ven. Kenapa emangnya?”

Arven terdiam sejenak, merasa berlebihan. Breno menghela napas panjang. “Tenang aja, Ven. Aku gak akan suka sama dia.”

Setelah itu, Breno meninggalkan Arven dan kembali ke lapangan basket, bermain lincah. Beberapa cewek Valleria berteriak histeris. Breno benar-benar memukau, sementara Arven saling pandang dengan Cael, menyadari hidup mereka benar-benar berubah—berantakan.

Dari jauh, Gerald melepas kacamatanya dan tersenyum tipis.

**

 

Setelah eskul, Arven dan Cael meninggalkan Breno yang masih berenang. Area kolam mulai sepi, tersisa petugas keamanan dan kebersihan. Breno enggan naik ke permukaan.

Tiba-tiba, saat ia mulai mengangkat kepalanya, kakinya terasa tak bisa digerakkan. Matanya membulat sempurna—air di sekelilingnya berubah menjadi gelap keunguan, nafasnya tersengal, dan air semakin masuk ke paru-parunya. Cahaya menyilaukan itu muncul lagi. Breno menggerakkan tangannya, cahaya kian membesar… tiba-tiba, seseorang menarik lengannya.

Breno terangkat ke permukaan. Di sampingnya, Lucien menatapnya marah. “Aku beri peringatan! Jangan jauh-jauh dari dua temanmu itu, Breno!” Suaranya tajam, penuh amarah. Breno masih setengah sadar, merasa seolah masuk ke alam lain.

Lihat selengkapnya