“Dari kemarin aku gak lihat William. Apa-apaan sih anak itu, katanya ke sini disuruh Ayahanda buat ikut jagain aku, sekarang malah ngilang. Marah karena masalah kemarin, kah?” Carlotta menutup buku setelah selesai mengerjakan tugas, meletakkan kembali di rak dekat meja belajar kamarnya. Saat ini sudah pukul 21:00, cukup larut malam sehingga tak ada suara dari lorong asrama sama sekali.
Lucien sejak tadi duduk di tepian ranjang. Menyinggung soal kemarin, ada hal lebih mengganggu yang tak henti memenuhi pikirannya daripada kemarahan besar William. Dengan wajah berubah serius, dia menatap Carlotta. “Anda mempermainkan aku, ya, My Lady?”
Carlotta menatapnya balik. “Maksudmu?”
“Anda mendeklarasi aku sebagai tunanganmu,” katanya, berusaha untuk sepenuhnya terdengar tetap sopan, tetapi nada kekesalan tetap terselip juga. “Tapi tingkahmu di sekolah seperti itu.”
“I'm only trying to save you.92” Kata-kata Carlotta meluncur dari bibirnya dengan tidak terlalu tegas. Suatu kebenaran memang, tetapi ada sesuatu yang disembunyikan olehnya: bahwa terlepas dari ketulusan untuk membela Lucien, sesungguhnya dia kesulitan mengendalikan hati yang kadang-kadang masih lebih berpihak kepada Arven.
“Aku tak pernah meminta untuk diselamatkan!”
“Luci—”
“Aku akan mengatakan semuanya kepada His Majesty, bahwa deklarasi itu hanyalah omong kosong.” Lucien bangkit dari tepian ranjang, berjalan pergi hanya dengan sebuah anggukan hormat sebagai syarat sopan santun, kemudian meninggalkan ruangan.
“Lucien, wait—”
Carlotta bergegas menyusul. Namun, setelah menengok ke balik pintu, tak ada seorang pun di lorong. Kamar milik Carlotta dan Lucien memang bersebelahan, tetapi mana mungkin lelaki itu memasuki ruangannya dengan sempurna hanya selang dua detik setelah melewati pintu ruangan Carlotta.
Lorong kosong sejauh mata memandang. Keheningan malam. Udara di sekitar. Lampu-lampu gantung menghapus gelap. Semua terlihat normal layaknya hari lain, tetapi kali ini terasa tidak natural. Justru begitu janggal dan mengerikan. Carlotta mengenal perasaan ini, sumber kekuatan yang digunakan untuk hal entah apalah ini—Holy Art. “William…?”
Meninggalkan kamar dan mengunci pintu, Carlotta berjalan cepat di sekitar gedung asrama. Mencari-cari mereka. Namun, tak seorang pun terlihat. Carlotta berlari kecil meninggalkan bangunan, memeriksa halaman dan sekitar. Namun, tetap tak ada tanda-tanda Lucien maupun William.
Carlotta menyusuri makin jauh. Memasuki SMA Valleria melalui gerbang samping yang terhubung dengan area asrama—gerbang utama di depan sekolah pasti telah dikunci di malam hari seperti ini.
“William! Lucien!” Carlotta memanggil.
Tak ada sahutan.
Malam itu sepi, sunyi. Tak ada tanda-tanda seorang pun di sekolah selain dirinya. Gedung-gedung tinggi kosong, remang-remang oleh satu dua lampu di depan gedung. Udara di sekitar terasa mencekam, seakan-akan mengawasinya dalam hening dengan senyuman mengerikan dan tawa-tawa kelicikan.
Carlotta bisa saja memilih untuk lari kembali ke kamar asrama yang nyaman daripada sendirian di tengah tempat segelap dan sesepi ini. Namun, perasaan buruk dalam hatinya mengalahkan itu semua. Dia lebih takut andai hal tak diinginkan terjadi kepada William dan Lucien. Dua lelaki itu tak pernah akrab sejak awal, bila mereka sampai bertengkar hebat atau semacamnya karena suatu masalah, Carlotta harus buru-buru menghentikannya.