Potret ketiga cowok itu terlihat menggemaskan—masing-masing mencengkeram ‘alat tempur’ mereka. Arven dengan balok kayunya, Breno dengan tongkat baseball yang sudah jadi ciri khasnya, dan Cael dengan nampan raksasa yang selalu ia bawa seolah itu senjata andalan.
“Kenapa harus mereka,” Gitan menatap layar monitor didepannya. “Ada banyak anak rusun yang bisa kita culik, Tuan.”
Gitan menunduk, tak bisa dipungkiri, meski berawal dari permainan ada sesuatu dalam dirinya yang mulai menyukai—Breno. Tak rela jika harus menyakiti cowok itu, bahkan merebut paksa energi dalam dirinya.
“Mereka lahir di tempat yang sama,” jawab Gerald, “di tahun yang sama dan pada siklus gerhana yang langka.”
“Gerhana itu adalah kunci untuk membuka segel di bawah rusunawa...” Ia menyeringai tipis. “Maka dari itu mereka memiliki energi yang sangat besar.”
Gerald tersenyum devil. “Aku akan abadi.”
“Apa setelahnya mereka baik-baik saja?” tanyanya pelan. Gita meremas jarinya, “atau mati.”
“Itu bukan urusanmu!” hardiknya, “tugasmu menjauhkan Carlotta dari ketiga anak-anak itu, terutama Breno. Saya benar-benar membutuhkan energinya.”
Gita mengangguk pelan. “Baik, Tuan, saya akan menjalankan tugas ini.”
Rahangnya mengeras. “Bagus. Sekarang pergi jalankan tugasmu.”
***
Arven berusaha menahan Breno, tapi cowok itu benar-benar kepala batu.
“Berhenti, No!” teriak Arven, “kamu mau kemana?”
Breno menatap mereka satu per satu, napasnya memburu. “Mau ke rusun! Percuma kan ajak kalian? Enggak ada gunanya, kalian cuma mikir diri sendiri aja!”
Arven melirik cewek yang tangannya digenggam erat Breno, alisnya terangkat tinggi. “Kenapa kalian pegangan? Sejak kapan kamu kayak gini sih, No?”
Breno menautkan jemari Gitan lebih erat, menantang tatapan mereka. “Enggak ada yang aneh, Ven. Aku sama dia udah resmi pacaran!”
“Pacar bohongan, No? Sejak kapan sih kalian dekat? Tiba-tiba pacaran—enggak jelas banget!” Cael memprotes, wajahnya tak suka. Lebih tepatnya, ia merasa tak aman melihat Gitan.
Breno mendengus keras. “Bukan urusanmu!” ia menarik tangan Gitan, meninggalkan dua sahabatnya.
Cael sampai membuka mulut saking kagetnya. Arven bahkan sudah lebih dulu berlari untuk mengejar.
Cael mendesis. “Gila! Kita dipermainkan… Ven.”
Cael menyisir rambutnya, frustrasi merayap hingga ujung jari. Matanya menatap kosong ke bawah, terseret potongan kenangan semasa di rusunawa. Kehidupan kemarin baik-baik saja… tapi sejak masuk Valleria, semuanya terasa runtuh pelan-pelan.
Arven menepuk pundak Cael, menatapnya dengan tegas. “Kita bareng-bareng selesaikan semua ini, El.”
“Kita butuh bantuan, Carlotta sekarang,” kata Cael.
Mereka berpencar mencari Carlotta. Arven menuju asrama, tapi tidak ada, Carlotta tak terlihat di sana. Sementara itu, Cael menyusuri rooftop—tetap kosong. Ia langsung turun ke belakang gedung kembar. Di sana, Carlotta sudah menunggu. Lucien dan William berdiri di sampingnya, wajah mereka babak belur.
Mata Cael memerah karena menahan tangis. “Aku… aku butuh bantuanmu, Carlotta.”
Carlotta menatap Cael dengan cemas. “Ada apa?”
Sorot matanya mereda. “Breno dibawa pergi oleh Gitan.”
Baju Carlotta merosot lemas. “Tenang dulu, Cael. Aku akan menolongnya.”
“Aku gak bisa melihatnya, My Lady,” ucap Lucien,
“Sial!” umpat Cael, tangannya mendorong bahu Lucien. “Ini semua gara-gara kalian!”
Rahang Lucien menegang. “Fuck!”
“Tahan emosimu, Cael,” tegur Carlotta. “Kita juga gak mau ini terjadi.”
“Kita gak bisa melangkah begitu saja, My Lady. Kekuatan Gerald terlalu menipu. Sedikit kesalahan… bisa membuat Breno mati.”
Cael menepuk meja kayu di dekatnya, wajahnya tegang. “Terus kita harus bagaimana, ha!”
Carlotta mengeleng lemah. “Tenang dulu—”
“Persetan dengan rencana kalian!” Cael menjerit, emosinya meledak.