You Wish to The Moon

Adinda Amalia
Chapter #22

Chapter 19: Whose Life Carries the Higher Price?

Lorong sunyi rumah sakit, sayup tipis oleh kata-kata manis Carlotta. Lembut di tengah ketenangan seakan semesta sedang memeluk mereka. Agaknya, kecuali bagi Lucien. Juga, bagi dua orang di ujung lorong—sekilas terlihat seperti pengunjung-pengunjung lain di rumah sakit andai salah satunya tidak bermata merah, sedangkan satunya lagi mengenakan kemeja khas bangsawan Kerajaan Berlan tertutup di balik jaket putih polos.

Sejak tadi mengawasi, si lelaki jaket putih sambil sesekali terkekeh—tawa kemenangan versi tertahan oleh sopan santun khas para bangsawan. Sementara si mata merah hanya melirik sedikit dengan wajah datar dan dingin—tetapi menyiratkan sesuatu yang jauh lebih gelap dan pekat.

“Tidak berniat menyapa adikmu sekalian, Leviathan?” kata yang berjaket putih. His Grace, Theodore August Berlandrean, Duke of Grande.94 Lelaki 27 tahun, sepupu laki-laki Hans. Bangsawan yang sejauh ini dihormati oleh rakyat-rakyat Berlan, entah sesungguhnya dia pantas atau tidak.

“Mungkin. Nanti setelah Lucifer menyapanya lebih dulu,” katanya singkat. Leviathan Asmodeus Mortensen, Kapten Pasukan Militer Khusus Kota Grande, sekaligus Hakim Kota Grande.

Sekali lagi, lirikan tipis Leviathan mendarat kepada Carlotta dan Arven di sudut lorong, jauh di sana, saat gadis itu mengecup pelan pipi si lelaki. “Shameless princess.95 Aku heran sampai kapan His Majesty akan terus saja memanjakannya. Oh, Berlan yang katanya terpuji. Era kejatuhan kalian sudah di depan mata.”

Theodore tertawa kecil. “Aku tak sabar untuk menendang His Majesty dari kursi singgasana.”

“Ayo kita pergi.” Leviathan beranjak. “Jangan terlalu mencolok dulu, untuk sementara ini.” Langkah sunyi meninggalkan lorong, diikuti oleh Theodore di belakang. Hening, tipis, tanpa siapa pun tahu keberadaan mereka, apalagi curiga.


***


Semburat oranye mengusap pelan wajah Lucien. Matahari telah turun, nyaris hilang di ujung barat. Cahayanya tersisa hangat, sedikit lembab oleh sepoi angin tipis, dan lekat dengan kenangan-kenangan yang tak pernah hilang.

Momen Carlotta mengecup pipi Arven, sejak tadi tak bisa hilang dari pikirannya.

“Aku heran dengan kesetiaanmu, oh iblis.”

Lucien melirik belakang melalui pundak. William baru saja datang menyusul dengan lagaknya seperti biasa, ada saja kalimat panas keluar dari bibirnya alih-alih menyapa dengan baik. Selalu saja menyebalkan bagi Lucien. “Jangan samakan aku dengan yang lain.”

“Bahkan ketika Her Highness memperlakukanmu seperti itu, wahai tunangannya?” William tersenyum, menyindir.

Lucien langsung berbalik dengan kesal. “Apa maumu?!”

Lihat selengkapnya