Hans duduk di kursi sofa, tangan berada di sandaran kanan-kiri, kaki menyilang. Selama berada di Indonesia, dia menyewa sebuah kamar hotel untuk tinggal sementara waktu. Sepetak ruang ini nyaman, luas, wangi, dan tenang. Tak sesempurna singgasana di Berlan Manor yang bertengger kokoh dalam sebuah ruang sangat luas dan mewah, tetapi sudah cukup sesuai dengan pembawaan penuh kharisma dan setelan jas rapi warna hitam putih—jubah kerajaannya sedang digantung di balik pintu.
Di samping kursi sofa tempat Hans berada, Maxwell berdiri dengan sikap kesatria pengawal yang tak pernah luntur. Sementara di hadapannya, ada Carlotta, Albert, William, Lucien—keadaannya sudah mulai pulih sedikit—berdiri berjajar.
“Biar kuperjelas, masalah-masalah yang dihadapi sekarang: Gerald berusaha membuka segel energi di bawah Rusunawa Merdeka, informasi-informasi rahasia Kerajaan Berlan bocor kepada Gerald entah bagaimana caranya; keberadaan Letnan Pasukan Militer Khusus Kota Grande—Lucifer Astaroth Mortensen—yang dapat mengancam kapan saja; usulan eksekusi mati Lucien Mortensen dari Kota Grande, penolakan usulan oleh Carlotta, deklarasi pertunangan antara Carlotta dan Lucien, penolakan keputusan Carlotta oleh William yang berujung upaya pembunuhan terhadap Lucien,” kata Hans, suaranya tetap tegas terlepas dari betapa banyak masalah yang saat ini terjadi.
Carlotta mematung di depan ayahanda, menunduk. Dia tahu deklarasi pertunangan itu benar-benar keputusan ceroboh, tetapi saat itu dia benar-benar tak tahu harus berbuat apa lagi agar Lucien tidak dijatuhi hukuman mati—dia sama sekali tak ingin kehilangan lelaki itu.
“Mari kesampingkan tentang Gerald untuk saat ini,” kata Hans. “Pertama, untuk William, atas upaya pembunuhan yang dilakukan terhadap Lucien Mortensen, kamu mendapatkan peringatan pertama. Bila melanggar sekali lagi, maka akan ada hukuman.”
“Baik, Your Majesty,” jawab William penuh penyesalan sambil menunduk.
Tatapan Hans bergeser. Masih tegas, tetapi sedikit lebih lembut. “Berikutnya, Putriku, Carlotta. Ayah ingin kamu menarik deklarasimu.”
Carlotta memelas, “Namun, Ayahanda… aku tak ingin kehilangan Lucien.”
Lucien menggeleng, antara merasa tak enak bercampur gusar. “My Lady, please let me go….99” Suara lelaki itu kental dengan rasa bersalah dan penyesalan mendalam. “Aku sudah pernah mengatakannya kepada Anda, bukan? Semua permasalahan yang timbul di antara Kota Grande dan Kerajaan Berlan adalah salahku karena telah berkhianat. Aku… harus bertanggung jawab.”
“Lucien!” Carlotta menggertak, benar-benar tak percaya bahwa lelaki itu mau menyerahkan diri begitu saja.
“Carlotta,” panggil Hans, begitu lembut, seakan-akan berusaha menenangkan putrinya. Namun, kemudian, bicaranya tegas kembali, “Ini adalah langkah yang tepat untuk menjaga kedamaian. Dengarkan Ayah, Nak, andai Pasukan Kota Grande sungguh menyerang pun, Berlan sesungguhnya memang masih bisa menghadapi bahkan memiliki peluang kemenangan 80%; tetapi akan lebih bijak bila menghindari perang sekaligus kerugian akibatnya—uang, beberapa daerah hancur, nyawa kesatria dan warga sipil melayang,” katanya. “Ini bukan sekadar nyawa siapa yang lebih mahal di antara Lucien dan Carl, tetapi tentang seluruh rakyat.”
Carlotta menggeser pandangan sedikit sambil makin menunduk. Dia paham maksud ayahanda, sejak kecil bahkan telah diajari langsung olehnya tentang kebijaksanaan penguasa kerajaan—tentang apa yang lebih penting, pengorbanan, dan ketegasan di samping perasaan pribadi. Namun… tetap saja, ini terlalu berat untuknya.
Memahami kesulitan putrinya, Hans berkata kembali, lagi-lagi suaranya selembut kapas. Bukan sebagai penguasa kerajaan, tetapi sebagai seorang ayah. “Kamu tahu kenapa Ayah diam saja semenjak semua masalah ini dimulai? Karena Ayah ingin tahu seperti apa kamu mengatasi semua masalah ini—antara kamu, orang yang kamu sayangi, dan para rakyat Berlan. Kamu adalah calon pemimpin.”
Gadis itu mulai terisak. Rasa bersalah menggelayuti lebih erat saat ini.
“Carlotta,” panggil Hans sambil memandang lekat-lekat, tatapan yang selalu muncul setiap kali sedang mendamaikan. Dia lebih dari paham untuk menghadapi putrinya sendiri. “Do you understand what Father means, My Daughter?100”
“Yes…,” suara gadis itu nyaris habis, hanya sedikit lebih kencang daripada sebuah bisikan. Air mata jatuh juga, membasahi pipi dengan halus. “Aku menarik kembali deklarasi pertunangan kami.”
Dari langit Jakarta, pesawat pribadi milik Kerajaan Berlan meluncur. Hans, Maxwell, dan Albert bergegas terbang kembali ke Berlandia Raya. Sepasang sayap menembus awan-awan, di bawah ribuan bintang yang tak pernah padam di seluas langit malam, membawa Sang Penguasa Kerajaan Berlan bersama amanat yang harus segera disampaikan.
Sesegera mungkin setelah mendarat di Berlandia Raya, Grand Hall of Berlan Kingdom disiapkan untuk sebuah pengumuman besar dan penting dari sang raja. Dihadiri oleh para bangsawan, termasuk Theodore—yang bersikap seolah-olah tidak pernah melakukan apa pun. Juga orang-orang dari Mahkamah Agung, duduk di sisi berseberangan dari mereka. Di sisi belakang, barisan reporter siap dengan kamera-kamera, menyiarkan momen secara langsung ke seluruh Berlandia Raya.
Setelah sekian menit penantian penuh penasaran, sang pria dengan pakaian kerajaan ramai oleh corak keemasan serta jubah tebal dan agung, menaiki podium. Seluruh perhatian langsung tertuju padanya. Ruangan menjadi hening tanpa sedikit pun suara maupun bisik-bisik terdengar.
Kemudian, suara lantang dan menggema memenuhi aula. “Behold!101 Saya, Hans Vincent Berlandrean, Penguasa Kerajaan Berlan, dalam kesempatan ini akan menyampaikan beberapa hal. Pertama, deklarasi pertunangan di antara Putri Mahkota Carlotta dan Kesatria Lucien Mortensen bukanlah suatu kebenaran. Kedua, sebagai respons terhadap ancaman penyerangan terhadap kerajaan oleh Kota Grande; dari dua opsi usulan damai, yakni (a) hukuman eksekusi mati Lucien Mortensen oleh Kerajaan Berlan atau (b) menyerahkan nyawa Sir Carl Knightley Sang Panglima Tinggi Pasukan Kesatria kepada Kota Grande; kami memilih opsi (a). Saat ini, Mahkamah Agung Kerajaan Berlan sedang mempersiapkan hukuman eksekusi mati Lucien Mortensen yang akan dilaksanakan sesegera mungkin. Sekian.”
Tepuk tangan meriah dan berbagai pujian bersahut-sahutan. Cahaya flash kamera menyala berulang kali, mengabadikan sang penguasa kerajaan dalam salah satu momen yang mungkin akan menjadi sejarah besar dalam Kerajaan Berlan. Hans masih berdiri di podium. Agung, penuh kebanggaan, dan kokoh tanpa sedikit pun terlihat bisa diruntuhkan.
Sementara itu, suatu tempat di Indonesia, ruangan minimalis ala kelas menengah ke atas diisi oleh dua lelaki. Tak ada yang salah, lampu berfungsi normal dan terang, sangat layak huni walau tak ada yang berminat untuk menghias dengan estetik. Namun, hawa di sana mencekam.