Kepulan energi saling berbenturan, membentuk sigil udara yang bergetar.
Gerald menjadi yang pertama menurunkan tangan. Napasnya tersengal. Theodore menyusul—dadanya naik turun, terlalu lama mengunci mantra membuat tubuhnya goyah. Sementara Leviathan memejamkan mata sejenak, lalu menutup lingkaran runik muncul di bawah kakinya.
Rambut pendek Gitan menari setiap kali energi sihir merambat di udara. Darah segar keluar dari mulutnya, mentes ke lantai. Lebam dan luka-luka basah memenuhi wajahnya.
Gerald mencondongkan tubuhnya ke depan. “Kamu tidak berguna, untuk apa saya pertahankan?” bisiknya di telinga Gitan.
Bibir Gitan bergetar hebat, otot lehernya menegang. “Aku akan usaha untuk menjebak mereka termasuk Bre—“
Gerald menjentikkan jari, memecah udara dengan percikan sihir. Mantra berputar di sekitar telapak tangannya berpendar seperti kaca panas.
Cahaya menyilaukan dari balik kulit Gitan, menjalar dari dada, bahu, hingga ujung jemari. Menelan dirinya perlahan. Gitan dimusnahkan, seperti nama yang yang tak sempat dituliskan dalam sejarah.
Kabut pekat menggantung bak tirai raksasa, Leviathan tersenyum miring melihat getaran itu lewat di depannya.
Rahang Gerald mengeras, urat di lehernya terlihat. “Buat apa mempertahankan orang sepertimu, kamu layak disingkirkan!” katanya dengan santai.
Leviathan melangkah maju. “Pintu segel sudah mulai merespons. Energinya menunggu keputusan Anda, Lord. Tidak perlu mengulur waktu terlalu lama.”
Tatapan Gerald mengeras menatap bayangan cahaya yang membawa Gitan semakin jauh. “Velleria terlalu menguji kesabaranku!” gertaknya, “anak rusun itu harus berada di dalam pintu segel sebelum gerhana langkah datang.”
Theodore menegakkan punggungnya. “Aman terkendali, Lord. Tenang saja, ini akan berhasil.”
Tiba-tiba cahaya bulan retak di permukaan. Dua segel bergetar, seolah telah menandai dirinya untuk mendapatkan energi cahaya itu, sialnya semuanya hanya menjadi drama panjang, Gerald muak menunggu terlalu lama.
**
Breno melangkah paling depan, rahangnya mengeras. Di sisi kirinya, Arven mengepalkan tangan sampai buku jarinya memutih. Cael berjalan di kanan mereka, diam tapi napasnya terdengar memburu, menahan emosi yang mendidih di bawah kulitnya.
Lima meter di belakang, Carlotta dan Lucien mengikuti. Mereka bagai perisai tak kasat mata untuk tiga pemuda itu. Lucien melirik ke arah Carlotta—sekilas, cepat, seolah takut ketahuan.
Akhirnya, dengan ragu namun tegas, ia menyentuh tangan Carlotta. Carlotta menundukkan kepala sedikit, tetapi tidak melepaskan genggaman itu.
Carlotta menegang, jantungnya naik satu ketukan. “Lucien…?”
Di depan mereka suara perang bergemuruh, tapi genggaman itu terasa lebih ribut.
Lucien hanya menampilkan senyum kecil—hampir tak terlihat, namun cukup membuat dada Carlotta mengendur sejenak.
“My Lady… aku tahu hatimu kini pada Arven,” ucap Lucien lirih. “Tapi izinkan aku mengenggam tanganmu sekarang. Di situasi seperti ini… aku ingin menjagamu. Jika kau jatuh, maka nyawaku ikut jatuh.”
Carlotta tertegun, lalu tanpa sadar menggenggam tangannya lebih erat.
Breno nyaris mengayunkan tongkat baseballnya ketika tiba-tiba tubuhnya membeku. Arven dan Cael yang berlari di belakangnya otomatis berhenti. Apa yang mereka lihat di antara barisan bodyguard itu membuat tulang mereka seolah retak sebelum pertarungan dimulai.