Lucien duduk agak berjarak, memperhatikan bagaimana Carlotta dan Arven saling menyuapi seblak sambil tertawa kecil—seolah dunia di sekitar mereka menghilang.
Sementara itu, Breno dan Cael berpura-pura tak peduli, meski jelas keduanya sadar betapa canggung suasananya. Sesekali mereka melirik Arven dan Carlotta, lalu melirik ke arah Lucien.
Ujung kursi diremas erat oleh Lucien. Ada sesak yang merayap di dadanya. Hingga akhirnya ia berdiri.
“Kenapa, Lucien?” tanya Carlotta, heran. “Kamu gak suka makanannya?”
Aku muak, My Lady… aku cemburu…Tapi semuanya hanya menggema di dalam hati.
“Suka,” jawab Lucien, mencoba tenang. “Tapi… aku gak berselera. Dunia kita terlalu berbeda. Aku gak akan pernah benar-benar bisa merasakan kebahagiaan sesederhana ini seperti kalian.”
Deg.
Suasana langsung membeku.
Breno berdiri dan menepuk bahu Lucien pelan. “Sori… kalau kelihatannya kita berlebihan. Kita gak bermaksud bikin kamu gak nyaman.”
Lucien menatapnya sekilas. “Bukan salahmu.”
Lalu ia memandang Carlotta. “Aku pergi dulu. Kalau mau balik ke Valleria, telepon aku.”
Carlotta mengangguk pelan. “Iya… hati-hati.”
Namun dalam hatinya, ia sadar—jatuh cinta memang membuatnya lupa banyak hal, termasuk betapa besar dirinya dulu bergantung pada Lucien.
Di gang belakang itu sunyi, hingga William muncul. “Kamu terlalu pakai hati, Lucien!” ejeknya, “kamu iblis. Sadar diri! Perasaanmu harusnya sudah mati. Terlalu mencintai Cuma akan menyiksamu.”
Lucien tidak menjawab. Tendangannya melesat cepat, menghantam perut William sampai lelaki itu terlipat menahan sakit.
Ia berlalu begitu saja—tanpa menoleh, tanpa emosi di wajah, kecuali cemburu yang jelas membayang di matanya.
Sementara itu, Cael dan Breno sudah berjalan lebih dulu menyusuri kota tua, mengikuti jalan setapak yang terang diterpa lampu warna-warni.
Tak jauh di belakang mereka, Arven dan Carlotta menyusul. Carlotta menggenggam tangan Arven, kali ini tanpa ragu sedikit pun. Arven mengeratkan genggaman itu—benar-benar jatuh cinta.
Dari kejauhan, dua sosok memperhatikan mereka.
“Benar-benar di luar akal sehat.” Leviathan melirik dengan ekspresi datar dan dingin seperti biasa. “Sungguh menyedihkan perilaku calon penerus His Majesty.”
Theodore mengatupkan rahangnya. “Dia jatuh cinta pada pribumi yang bahkan tak akan pernah setara dengannya.”
Carlotta duduk di bangku kayu taman, angin sore menyapu lembut rambutnya sementara orang-orang lalu-lalang di belakang mereka. Arven duduk tepat di sampingnya—terlalu dekat, hingga degup jantung Carlotta mulai tidak karuan.
Arven menyingkirkan sehelai anak rambut yang jatuh di pipi Carlotta. Gerakan sederhana itu membuat Carlotta menoleh. Dan ketika tatapan mereka bertemu, dunia seakan mengecil sampai hanya ada mereka berdua.
Perut Carlotta serasa dipenuhi kupu-kupu yang menari liar.
“Hmm… aku mau tanya sesuatu,” ucap Arven, menatapnya lekat-lekat.
Carlotta menelan ludah, gugup. “Iya… apa itu, Ven?”
“Kamu pernah bilang suka sama aku,” Arven mengenggam tangannya, hangat. “Katamu, tanpa alasan. Tapi… aku yakin kamu punya alasannya.”
Carlotta tersenyum kecil. Ia mengusap punggung tangan Arven dengan lembut. “Kamu penasaran ternyata? Alasannya simpel, Ven… karena kamu baik sama aku.”
“Hanya itu?” Arven mengernyit. “Lucien ganteng, bule banget. Aku aja paling biasa di antara kami—Breno, Cael, terus aku paling belakang.” Ia terkekeh, malu-malu.
Carlotta mengangkat telunjuk dan menyentuh bibir Arven. “Bukan tampangnya, Ven. Kamu baik… tulus. Itu yang bikin aku suka.”
Arven membeku sejenak—lalu wajahnya berubah cerah, matanya berbinar. “Serius?” suaranya terdengar antusias sampai membuat Carlotta ingin tertawa.
Carlotta mencubit pipinya gemas. “Iya, aku serius.”
Arven tiba-tiba berlutut di depan Carlotta. Carlotta tersentak, kedua tangannya refleks menutup mulut.
“Aku...” Arven mendongak, suaranya bergetar sedikit. “Aku tahu kata pacaran asing bagimu. Tapi aku mau kamu jadi seseorang yang spesial di hari-hariku. Aku gak mau ada orang lain deketin kamu.”
Ia menarik napas. “Jadi pacarku, ya?”
Air mata berkumpul di pelupuk Carlotta. Ia terlalu bahagia untuk berkata-kata. Ia mengangguk cepat. “Aku mau… Ven, aku mau.”
Arven bangkit dan langsung menarik Carlotta ke dalam pelukan hangatnya. “Makasih, sa—yang.”
Carlotta terkekeh, wajahnya memanas. “Sayang?”
“Iya, sayang!” Arven menjawab lebih keras, seolah bangga dengan kata itu.
Di sudut taman sebelah barat, Lucien memegangi perut, berpura-pura muntah dramatis.
“Huh… memuakkan,” gumamnya ketus. “Hebat sekali manusia itu, My Lady dibuat mabuk cinta.”
Ia berdecak tajam. “Dia milikku. Dan akan tetap milikku.”
**
Hampir setengah jam Cael menunggu di depan toilet, namun Breno tak juga keluar. Khawatir mulai merayap. Cael akhirnya bergegas mencari Arven.
Di sisi lain, langkah Carlotta tiba-tiba terhenti. Dadanya seperti diremas dari dalam, sakit, panas, dan mencekam.
“Kenapa?” Arven langsung menoleh, wajahnya cemas.
Carlotta mencengkeram baju Arven, napasnya tak beraturan. “Breno… dia dalam bahaya.”