Karen melesat seperti anak panah. Cowok itu menoleh sekilas, senyum jailnya mencuat, sengaja memancing emosi.
“Karen! Berhenti!” Carlotta berteriak, tangannya terjulur, ujung jarinya menyentuh kerah seragam Karen.
Matanya menyipit, ancaman mengalir dari sorotnya. “Apa?” Karen mendesis. “Mau ngomong apa, cantik? Masih mau nyelamatin mereka? Mereka udah bikin papa aku malu, tahu?”
Ia menatap Carlotta nyalang, seperti predator yang baru menemukan titik lemah mangsanya.
Carlotta mendongak. “Dia lakuin itu karena Pak Andi manipulasi data mereka untuk masuk Valleria!” geramnya. “Mereka korban! Kamu enggak kasihan sama mereka? Mereka mungkin gal setara sama kamu, tapi mereka berjuang buat Rusunawa—tempat mereka besar!”
Untuk sepersekian detik, rahang Karen berhenti bergerak. Ada sesuatu yang goyah di matanya, retakan kecil yang muncul saat kata-kata Carlotta mengenai bagian dirinya yang paling ia benci akui.
Tapi emosi yang menggelembung lebih cepat. Ia menelannya kembali, menutup rapat retakan itu. “Aku gak bisa…” gumamnya akhirnya.
“Aku gak punya pilihan lain. Satu-satunya cara yang udah kita sepakatin, mereka kalah. Dan mereka keluar dari Valleria.”
Carlotta menggigit bibirnya keras. Mata yang berkaca-kaca itu menyala oleh amarah yang bercampur perih, membuat napasnya terdengar lemah. “Aku harus lakuin apa biar kamu batalin ini?” geramnya, meski suaranya bergetar.
Karen menyeringai, senyum itu tumbuh perlahan seolah ia baru saja menemukan celah yang tidak dicari tapi sangat menguntungkan. Ujung jarinya mengangkat dagu Carlotta, lalu bergeser menyentuh pipi gadis itu dengan sentuhan yang kontras lembut.
Ia menatap lurus ke mata Carlotta. “Simpel aja,” katanya. “Jadi pacarku.”
Carlotta tersentak. Kepalanya menggeleng cepat, sorot matanya mengeras meski berkaca-kaca. “Enggak! Jangan bermain-main denganku Karen!” tegasnya sambil mendorong bahu cowok itu.
Rahang Karen menegang. Amarahnya naik seperti semburan panas. “Oh, shit!” bentaknya. “Kamu pikir aku gak bisa dapetin cewek cantik selain kamu? Kamu aja—murahan!”
Ucapan itu menghantam Carlotta tepat di dada. Napasnya tercekat, air matanya luruh tanpa suara.
Dalam satu gerakan cepat, Lucien menarik kerah Karen dan membenturkan tubuhnya ke dinding belakang kelas.
“Lucien!” Carlotta panik. “Tolong jaga emosimu!”
Karen justru tersenyum meremehkan. Senyum yang menusuk seperti pisau. Ia benar-benar marah, bukan hanya pada Carlotta dan tiga anak rusun itu. Kini, Lucien pun menantangnya.
“Cowok kamu banyak banget, ya…” Sorot matanya mengamati Lucien dari ujung kaki ke ujung rambut. “Tapi yang ini beda. Ups—kayak bukan manusia.” Karen terkekeh.
Lucien dan Carlotta terperanjat, meski Karen hanya bicara asal. “Aku punya hak tinggi di Valleria,” tegas Karen. “Kamu ikut campur sama artinya cari masalah denganku, atau kalian mau dikeluarkan dari Valleria juga?”
Lucien tetap mengunci geraknya. Tatapannya dingin. “Justru kamu yang akan keluar, sampah saja lebih berguna daripada kamu,” ucapnya tenang, tapi menusuk. “Dan satu hal lagi… jaga ucapanmu. My Lady itu bukan barang. Jangan sebut dia dengan kata-kata murahan yang keluar dari mulut kotormu itu. Kau menyakiti dia… dan aku.”
Karen tiba-tiba tertawa lebih keras. “My Lady?” Ia melirik Carlotta sinis. “… Itu kalimat paling romantis yang pernah kudengar. Kalau kuganti My Angel, aku bisa beli berapa?”
Udara di sekitar mereka mendadak mengeras. Mata Lucien berubah merah menyala seperti bara api. Karen menegang. Mulutnya ternganga setengah. Tubuhnya seperti tersihir… Dan dalam hitungan detik, ia jatuh tersungkur ke lantai.
“Lucien!” Carlotta berlari mendekat. “Apa yang kamu lakukan padanya?!”
Lucien menoleh, lalu tersenyum miring. Tatapannya melirik Karen sekilas. “Nanti juga bangun. Kecuali kalau dia mengulang kata-kata tadi… aku gak akan selembut ini lagi.”
Carlotta menelan ludah. “Tapi… dia enggak kenapa-kenapa, kan?”
“Sedikit.” Lucien mengangkat bahu santai. “Aku cuma mengambil sebagian kecil ingatannya.”
Ia kembali menatap Carlotta, sorot merah di matanya perlahan mereda. “Dia jadi terlalu berbahaya setelah menatap mataku. Setelah ini dia enggak akan ingat apa pun… kecuali basket kesayangannya.”
Carlotta hampir tersenyum, ia buru-buru menahannya.
Lucien menangkap perubahan itu. “Jangan tahan senyummu, My Lady,” ucapnya pelan. “Itu terlalu cantik untuk disembunyikan.”
Pipi Carlotta langsung memanas..
**
Bel istirahat menggema di seluruh penjuru kelas. Para siswa bangkit dengan ragu-ragu ketika melihat sosok asing duduk di kursi besar di depan. Kursi yang biasanya ditempati Miss Aurelia kini ditempati seorang guru baru.
Nama Miss Aurelia masih terpatri di papan jadwal, tapi kursinya kosong sejak insiden protes Breno, Arven, dan Cael tempo hari. Sejak itu, setiap kali ketiganya lewat di lorong, Miss Aurelia selalu menatap mereka dengan senyum kaku, senyum yang tidak pernah sampai ke mata. Seolah menyimpan dendam.
Arven menoleh ke samping. Sejak tadi, Carlotta menatapnya diam-diam, tatapan yang cepat ia alihkan ketika Arven menangkapnya.
“Eh… Ven…” suara Carlotta terdengar gugup.
Arven tak merespon. Ia hanya menampilkan senyum tipis sebelum bangkit dan berjalan keluar kelas. Breno dan Cael masih sibuk dengan LKS, sementara Lucien mengikuti kepergian Carlotta dengan sorot mata waspada.
Lorong sempit di samping perpustakaan seperti biasa, sunyi. Hanya bau rokok yang menempel di dindingnya. Arven masuk ke sana, duduk di kursi kayu, lalu menyalakan rokok. Hisapannya lambat, tapi tampak berat.