You Wish to The Moon

Adinda Amalia
Chapter #27

Chapter 24: Behold! The King of Berlan Stands Before You!

“Dalam bahasa Indonesia, paragraf-paragraf teks….” Penjelasan guru di depan kelas tidak menjadi fokus Carlotta sama sekali. Sekarang sudah jam terakhir, tetapi Arven, Breno, dan Cael belum juga terlihat sejak pagi ini.

Carlotta semula mengira bahwa mereka bertiga hanya terlambat. Namun, sekarang, perasaannya benar-benar tidak tenang. Lebih lagi, sejak peristiwa kemarin, Gerald bisa saja melakukan rencana-rencana mereka berikutnya—yang pastinya hanya makin dan makin mengkhawatirkan—kapan pun.

“Lucien,” Carlotta menoleh saat akhirnya bel pulang berbunyi. Lelaki itu membalas tatapannya, dan itu saja sudah cukup untuk membuat mereka saling mengetahui bahwa sama-sama memiliki kecurigaan yang serupa.

Lucien mengangguk. Dunia mereka terbelah. Seberkas cahaya, antara kemuliaan dan kutukan-kutukan yang telah menodainya, merembes dari retakan. Dalam sekejap, celah itu terbuka lebar. Membawa mereka berdua menuju tempat yang sepenuhnya berbeda; dimensi dengan waktu-waktu terasa seperti membeku.

Puluhan pasang sayap kupu-kupu tanpa badan beterbangan di sekitar mereka. Melayang-melayang tanpa nyawa; hampa, kosong, seperti mimpi yang tercipta dari khayalan semu. Jauh di sana, tetapi juga terasa dekat dan mengancam, pada setiap empat sudut dimensi terdapat menara raksasa terbalik. Melayang beberapa meter dari permukaan. Ujungnya lancip, seakan-akan hendak mengoyak tanah bumi kapan saja. Menjulang dari atas, terlalu tinggi hingga pangkalnya tak terlihat di antara langit.

Saat menginjakkan kaki, permukaan terasa aneh. Tanah berlapis marmer dari ribuan tahun lalu, yang seharusnya sudah tidak ada lagi. Di seberang mereka berdua, empat lapis pintu dari cahaya berjajar. Dua telah terbuka, menyisakan dua lagi masih tertutup. Pintu ketiga terlihat, sama-samar menyerupai kayu dengan sebuah jam pendulum. Jarum jam berputar terbalik. Ayunan pendulumnya tidak alami.

Sesuai dugaan, Gerald, Theodore, dan Leviathan ada di sana. Dan benar saja, Cael tergeletak di tak berdaya di tengah-tengah dimensi. Dikelilingi oleh empat pedang menancap ke tanah, terhubung satu sama lain oleh deretan simbol-simbol sulit dipahami yang bergerak memutar. Energi menguar dari cowok itu tanpa henti, diserap oleh pintu ketiga, membuat pendulum sesekali mengeluarkan bunyi menggema yang makin dan makin kencang.

Di sudut lain dimensi, ada Arven dan Breno. Kedua tangan digantung menggunakan rantai yang masih saja begitu erat meskipun mereka memberontak berusaha melepaskan diri. Samar-samar, rantai itu bercahaya sesekali, menarik energi mereka sedikit-sedikit.

“Carlotta! Lucien!” panggil Arven dan Breno, reflek ketika melihat mereka berdua memasuki dimensi.

Gerald menghela napas. “Serangga pengganggu dari Berlan.”

Carlotta tak gentar. Buru-buru, dia memerintahkan, “Lucien, selamatkan Cael!”

Lucien mengangguk. Langsung memasang kuda-kuda, siap menyerang. Namun, belum sempat melakukan apa-apa, tahu-tahu Leviathan sudah berada di depannya. Kemudian, hanya dengan sebuah tendangan—sangat dahsyat dan kuat—Lucien terhempas ke belakang.

Tatapan Carlotta reflek mengikuti Lucien. Dia melihat jelas-jelas, ketika lelaki itu menghantam tanah keras-keras. Kemudian, kesulitan untuk bangkit. Bahkan untuk bisa bergerak kembali saja, dia butuh beberapa detik untuk mengumpulkan cukup tenaga dari seluruh rasa sakit di sekujur tubuh.

Di saat itu, mereka berdua, bahkan tanpa saling bicara atau memandang sekali pun, menyadari sesuatu. Jangankan tiga-tiganya, menghadapi satu saja—Leviathan—Lucien langsung dibuat kalah telak. Dan, saat ini, Carlotta bahkan tak berani untuk menatap depan kembali tempat pria iblis itu masih berdiri di sana. 

“Your Highness.”

Setidaknya, sampai suara datar dan dingin yang menusuk itu, memanggilnya. Mau tak mau, Carlotta menoleh. Saat mata biru gadis itu bertemu dengan mata merah Leviathan, dia mematung. Pria itu tak mengatakan apa pun lagi, tetapi dari tatapan itu saja sudah cukup untuk membuat seluruh tubuh Carlotta terasa membeku. Soal-soalnya raganya menyadari bahwa pria yang berdiri di hadapannya saat ini, benar-benar berbahaya—dan dirinya merespons tanpa diinginkan begitu mata marah si iblis itu menyala sepersekian detik.

Lihat selengkapnya