Kekuatan segel bergetar, Lucien bisa merasakannya. Dimensi itu terasa makin tipis. Puluhan pasang sayap kupu-kupu tanpa badan, berkibas makin kencang saat ramai-ramai beterbang setinggi mungkin menuju langit. Terburu, panik, seperti ketakutan. Tak satu pun tersisa lagi.
Gemuruh menggetarkan langit. Pelan-pelan, keempat menara raksasa terbalik mulai bergetar. Kemudian berangsur kencang, cepat, seperti ikatan tali-tali terakhir yang ditarik paksa, sebelum akhirnya pecah bersamaan menjadi kepingan-kepingan kecil. Berhamburan ke seluruh dimensi, lalu berjatuhan. Kencang, seperti sebuah raungan taring-taring besar, tetapi juga lemah di saat bersamaan.
Marmer tua yang melapisi tanah sampai retak di segala sisi, ketika puing-puing menara raksasa menghantamnya. Langit berpendar makin terang, tetapi tertutup oleh awan padat sehingga cahayanya tertahan, menyisakan guratan-guratan tipis seperti masa lalu tertinggal.
Cakrawala sempat berotasi sedikit, lalu berkedip. Segel benar-benar telah tipis. Seperti harapan-harapan mustahil di atas sebuah omong kosong, tidak lebih dari ilusi pada tujuh detik terakhir di sisa kehidupan manusia.
Di sana, ketiga lapis pintu telah terbuka.
Hanya tersisa satu pintu terakhir.
Lucien tak tahu, bahwa berdiri di hadapan musuh tanpa keberadaan Carlotta di sekitar, akan begitu berat. Mungkin karena dia tahu, bahwa hampir tidak ada kemungkinan di hari berikutnya untuk dapat berdiri di samping gadis itu lagi, menjaganya dari sekadar teman-teman sekelas menyebalkan. Namun, bahkan dengan sisa jiwanya, dan tombak-tombak kekejaman para iblis—yang sesuai dugaannya—menusuk dari belakang, dia akan selalu dan selamanya, apa pun taruhannya, memenuhi perintah Carlotta.
Sesuai sumpah sakral di Aula Besar Kerajaan Berlan, yang dia ikrarkan dahulu di hadapan Carlotta.
Genggaman tangan kosong tanpa pedang—pedang bersumpah yang secara khusus diberikan kepada kesatria pelindung sang putri—terasa asing. Dia tahu sumpahnya masih berlaku, tetapi rasanya Kerajaan Berlan begitu jauh di sana, mungkin karena di bersamaan Sang Raja bukan hanya memercayainya, tetapi juga menjanjikan hukuman eksekusi mati untuknya.
Lucien tak ingin mengakui, tetapi kehampaan tanpa memegang pedang itu, tanpa satu pun orang dari Kerajaan Berlan berdiri di sisi, membuatnya merasa lebih dekat dengan para iblis—identitasnya yang sesungguhnya. Dan dia membenci untuk merasa begitu lemah dan bimbang di hadapan tiga orang di sana, utamanya Leviathan.
Arven, Breno, Cael ditarik ke tengah-tengah dimensi. Menunduk sambil berlutut lesu. Di bawah mereka, lingkaran merah dengan simbol-simbol lancip menyala di tanah, berputar berlawanan arah jarum jam. Proses mengambil energi untuk terakhir kali. Saat ini tersisa pintu keempat yang belum terbuka.
Artinya, saat ini adalah kesempatan terakhir Lucien untuk membuktikan apakah dia akan berhasil memenuhi perintah Carlotta atau tidak. Antara hidup dan mati. Bisa saja mereka semua selamat, bisa saja hanya trio cowok itu, bisa saja tidak semuanya.
“Jangan membuang-buang waktu, Anak Muda. Pintu keempat tak akan menunggu selamanya,” kata Gerald, angkuh. “Selesaikan secepatnya, karena kami tak ingin mengurus seorang iblis kecil selamanya.”
Cukup. Ejekan itu sudah cukup untuk membuang seluruh ketakutan di dada Lucien. Dia melesat maju. Hawa kekuatan magis langsung pekat terasa di sekitarnya. Lincah menghindar serangan-serangan mereka bertiga yang datang bersahut-sahutan. Lucien naik, melayang di udara. Dalam satu ayunan lengah, kekuatan tak mata menyambar tanah, kencang dan cepat dengan arah menyilang. Menyisakan bekas kentara di tanah, tetapi ketiganya berhasil menghindar.
Lucien kembali menyerang terus-menerus, sesekali menghindar saat balasan lawan terlalu presisi untuk ditahan. Lucien tak turun ke tanah barang sesaat pun. Takut karena dia akan menjadi lebih mudah untuk terkena serangan? Entahlah. Lucien bahkan tak yakin apakah ini adalah gaya bertarung yang paling sesuai untuknya. Lagi dan lagi, pedang kesatria pelindung ratu adalah yang paling familiar baginya—sayangnya tak ada saat ini.
Lucien tak tahu mengapa dia terus saja memikirkan pedang itu. Karena dia merindukan barang itu? Tak mungkin, itu adalah sebuah senjata, walau memang berharga, tetapi tidak menjadi sesuatu yang paling besar harganya dalam hatinya. Atau mungkin, seseorang yang dahulu menyerahkan pedang itu padanya setelah ikrar sumpah sakral? Carlotta?
Mungkin.
Bisa jadi.
Atau bahkan memang.
Lucien merindukannya.
Dan saat tatapan Lucien bergeser, Leviathan masih di tanah. Tenang. Lucien merasa begitu terusik. Pria itu seperti meremehkannya. Tanpa dikatakan pun, sesungguhnya sudah jelas bahwa Lucien saat ini tidak lebih dari seekor anak kelinci kecil di hadapan para serigala. Dia tahu bahwa dirinya bukan apa-apa dibandingkan kakak tertua. Namun, tak bisakah, Leviathan menunjukkan sedikit keseriusan untuk menghadapi?
Bukan meremehkan seperti ini?
Sampai tiba-tiba, pria itu sungguh meninggalkan tanah. Naik untuk sama-sama melayang di udara, tetapi lebih tinggi daripada posisi Lucien berada. Akhirnya, wajah Leviathan berubah, ekspresi datar menghilang menjadi sebuah tatapan—pengakuan mungkin saja—begitu tipis saat Lucien menatap hanya, dan hanya, kepada kakaknya.
Perasaan Lucien turun menjadi sebuah emosi-emosi beradu. Dia mematung. Itulah tatapan yang entah mengapa dia inginkan—begitu bodoh memang mengharapkan sesuatu seperti demikian di situasi saat ini. Namun, tatapan itu pula yang menjadi pertanda buruk saat ini. Leviathan meluncur ke bawah dengan sebuah kepalan.
Dan dari sepasang mata merah pria itu yang menyala, Lucien tahu… dia akan berakhir.
Sekejap kemudian, saat rasa sakit menghantamkan keras-keras hingga menjalar ke seluruh tubuh, tahu-tahu Lucien sudah merasakan dirinya menghantam tanah keras-keras. Saat dia mengerang sambil berusaha untuk bangkit—kekuatan Leviathan seperti menyedotnya habis-habisan—pria itu saat ini berjalan ke arahnya, pelan, tenang, dingin, dari kejauhan. Hampir hilang sesekali, tersisa samar-samar di pandangan mata Lucien yang nyaris kehilangan kesadaran.
Lucien merasa telah mengeluarkan kekuatan magis dari dalam jiwanya sebanyak mungkin. Namun, hawa kekuatan serupa milik Leviathan, memenuhi udara dekat padat, menyerap miliknya untuk menjadi bagian dari Leviathan. Makin Lucien kehabisan tenaga, makin pria itu bertambah kuat.
Lucien bisa merasakan otot-otot seluruh tubuhnya melemah, gemetaran hebat bahkan hanya untuk mengangkat kepala menatap pria itu. Dia bisa merasakan cairan anyir mengalir dari dahi, napas mau habis sehingga dia harus melawan agar paru-paru dan jantungnya terus bekerja. Dan itulah yang tersisa, hanya itulah yang masih mampu untuk dia tahan, untuk tetap membuka mata.
Menghadapi Leviathan seorang diri… memanglah keputusan yang sangat tidak masuk akal. Namun, bila ini menjadi perintah Carlotta, dia akan tetap melaksanakan betapa bodoh itu terlihat di hadapan semesta saat ini, garis-garis takdir mungkin sedang tertawa kencang sambil memegang perut mereka saat ini, melihat Lucien lagi dan lagi berusaha bangkit.