Runtuhan sisa bangunan berserakan di tanah, menelan pecahan dinding yang merosot satu per satu. Kayu meja belajar menonjol dari sela puing, di antara debu roda kecil sebuah mobil-mainan berputar pelan tertiup angin seolah menunggu tangan mungil yang tak akan kembali.
Tongkat baseball di tangan Breno turun sedikit, seperti kehilangan beratnya sendiri. Di sisi lain, Arven berdiri terpaku, balok kayu di genggamannya bergetar halus, tapi wajahnya tetap kosong.
Cael menunduk dalam, bahunya merosot pelan, napasnya pendek, seolah setiap helaan membawa beban yang tak sanggup ia ucapkan.
Di depan mereka, tanah yang retak masih mengepulkan debu. Tidak ada gedung yang tersisa—hanya dataran kelabu tempat kenangan pernah tinggal. Mereka tidak menangis, tapi tatapan mereka pecah saat mengikuti garis puing yang berserakan.
Warga berbisik tentang penggusuran pemerintah. Andai mereka tahu, bahwa di bawah bangunan itu ada sesuatu yang lebih gelap dari birokrasi, jejak sihir yang saling menghantam hingga merobek fondasi rusunawa dari akar terdalamnya.
Yayasan Valleria akhirnya menjadi pihak yang disalahkan. Nama Pak Andi dan Miss Aurelia dicoret dari jabatannya di Valleria.
Tanpa kata, tangan Breno terulur dan menarik Arven dan Cael dalam pelukan. Bahu mereka bersentuhan, dan ketiganya tersenyum kecil.
Pelukan mereka memantul di antara debu, membuat warga rusun menahan haru. Tidak ada gedung yang tersisa, tapi tiga remaja itu berdiri seperti fondasi terakhir yang masih utuh.
Emak Idah berlari, hampir tersandung puing, lalu memeluk Breno sekuat yang ia mampu. “Nak… Emak bangga,” bisiknya, suaranya bergetar.
Breno membalas pelukannya, menempelkan kening di bahu perempuan itu, seolah ingin menyimpan kehangatan itu selamanya.
Orang tua Arven merengkuhnya tanpa ragu. Balok kayu yang tadi ia genggam jatuh pelan ke tanah. “Kami bangga, Nak.”
Arven menghela napas panjang berat, ia membalas pelukan itu. Pelukan yang selalu jadi garda terdepan baginya.
Sementara Cael berdiri di hadapan ayahnya, mata yang biasanya tajam kini meredup. Saat ayahnya menariknya ke pelukan, tubuh Cael sedikit bergetar. Ada ruang kosong di sisi pelukan itu yang dulu milik ibunya, ruang yang kini hanya bisa ia isi dengan ingatan.
“Ayah bangga,” ucap ayahnya. Senyum Cael muncul perlahan, hangat dan patah pada saat yang sama.
Di dalam mobil, Carlotta menunduk, air mata jatuh membasahi layar ponselnya. Foto-foto ketiganya tampil bergantian, tawa dan kekacauan, momen kecil yang dulu ia anggap biasa.
Lucien menyodorkan tisu. “My Lady, you ought not to weep!”
Carlotta menatapnya. “Bagaimana aku harus bilang soal Ayahanda yang memerintahkan mereka buat datang ke Kota Berlan untuk melaksanakan sidang, Lucien? Kalau mereka gak mau gimana? Aku gak tega kalau harus maksa mereka.”
“Soal mereka… aku sudah pikirkan rencananya. Jangan bilang kalau akan disidang, bilang saja kalau mereka diundang untuk jalan-jalan di Kota Berlan sebentar. Mereka tidak akan menolak. Akan kupastikan itu.”
Carlotta berpikir sejenak. Senyuman tipis Lucien yang entah kenapa selalu berhasil meruntuhkan kegelisahannya membuatnya merasa aman.
“Menggemaskan…!” ucap Lucien sambil mengacak rambut baru Carlotta yang berwarna platinum blonde.
“Lucien!” protes Carlotta, tak terima. Tangannya otomatis maju mengelitik pinggang Lucien.
Gerakan itu membuat Lucien spontan mendekat. Punggung Carlotta menempel pada jok mobil, ruang geraknya hilang. Nafas Lucien—aroma mint yang lembut menyeruak di antara jarak mereka yang hampir tidak ada.
“Luci-en?” bisik Carlotta, setengah gugup.